Banyak Yang Mengaku Tim Sukses Anies-Sandi, Berbisnis CV

  • Redaksi
  • 13 Oktober 2017
  • 0

Mengenai rumors jelang pelantikan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, dimana para tim sukses banyak bergerilya ke beberapa pejabat di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. “No comment dulu,” ujar Sandiaga Uno.

Dalam ranah media social, ramai disebutkan dan diperbincangkan bahwa banyak orang mengaku tim sukses atau relawan dari pihak Anies-Sandi, meminta curriculum vitae (CV) para pejabat yang ingin naik jabatan. “Sudah banyak sih yang mintain CV dari timses kalau mau naik jabatan,” kata seorang pejabat eselon III yang tidak ingin disebutkan namanya.

Tak hanya CV tapi ada upeti yang diminta oleh timses tersebut. “Dari zaman dahulu metodenya seperti itu. Ada yang ketipu hingga ratusan juta gara-gara itu,” ungkap PNS itu. Pasalnya, akan ada pergeseran orang-orang di Pemda, dan mulai menjaring pejabat eselon II. “Untuk jabatan eselon II itu sangat dekat dengan politis,” cetusnya.

Sebenarnya siapa itu Timses?

Tim sukses bisa orang per-orang atau berkelompok atau bahkan dinaungi dalam wadah sebuah institusi. Intinya, mereka bekerja untuk memuluskan orang-orang atau golongan yang mereka anggap layak untuk didukung, menuju kemenangan dalam hajat politik.

Kerja timses ini merasa punya “saham” ketika berhasil memenangkan calonnya. Mereka adalah orang-orang yang bekerja berdasarkan kerelaan, atau malah dibayar oleh “orang misterius”.

Timses seakan mendapat jatah “kursi empuk”, hanya saja acara “pembagian kue” ini akan menjadi tidak menarik di mata publik ketika “kue-kue” politik diserahkan kepada mereka yang tidak capable serta memiliki kredibilitas yang buruk.

Semua akan terasa pada saat event politik usai. Di sinilah kemudian para politisi harus cerdas dan bijak melihat dan mengondisikan timsesnya. Seringkali timses menjadi biang keladi permasalahan di masa depan, yang justru akan menjatuhkan citra si politisi itu sendiri.

Tidak mudah mencari timses yang ikhlas 100 persen, membantu para politis untuk mencapai tujuannya.

Mungkin pada sebagian politisi, mereka beruntung bisa mendapatkan timses yang mapan secara ekonomi, sudah memiliki pekerjaan ataupun bisnis yang settled, sehingga tidak perlu “merecoki” si politisi apalagi terkait dengan urusan uang.

Beberapa politisi kemudian memutuskan membuat lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk menampung timses-nya. LSM ini diharapkan bisa membantu ekonomi timsesnya.

Celakanya, justru LSM-LSM atau “gerakan” seperti inilah yang kemudian memunculkan ketidaknyamanan publik. Misalnya memeras para pelaku usaha dengan mengatasnamakan masyarakat atau “memaksa” pemilik tempat usaha.

Suka ataupun tidak ini merupakan fenomena yang terjadi secara riil di masyarakat. Tentunya inilah ekses dari sistem perpolitikan yang kita jalani. “Tim Sukses”, siapa yang sukses? Apakah hanya politisi yang mereka usung saja atau mereka juga merasakan kesuksesan.

Nah, bermula dari kerja bakti seperti inilah di kemudian hari membuat timses menjelma sebagai “mafia”, dan malah menambah “penyakit” baik di masyarakat maupun di pemerintahan.

baca juga: Wawancara Panjang Anies di Majalah Eksekutif

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *