E-Money Sampai Kapan Dilarang?

  • Redaksi
  • 6 Oktober 2017
  • 0

Internet telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dunia. Kehadiran internet memberikan beragam manfaat positif, antara lain mempermudah akses masyarakat mendapatkan beragam informasi dari mana saja dan kapan saja.

Selain itu, internet juga memberikan kemudahan dalam membantu berbagai pekerjaan dengan cepat tanpa batasan waktu dan jarak. Bahkan, Internet juga memberikan sumbangsih besar terhadap perkembangan teknologi perbankan dan transaksi keuangan.

Salah satu produk perbankan yang memanfaatkan kemajuan teknologi adalah E-Money (elektronik money/uang elektronik).
E-Money adalah alat pembayaran yang memiliki nilai uang yang tersimpan secara elektronik dalam suatu media server atau chip.

Yang lagi hangat, pembayaran tol. Nilai uang dalam E-Money akan berkurang pada saat konsumen menggunakannya untuk pembayaran.
E-Money hadir di Indonesia sejak tahun 2009. E-money diterbitkan oleh pihak perbankan dan lembaga selain bank atas perizinan dari Bank Indonesia.

Penggunaan kartu ini terbilang sangat fleksibel, semua orang bisa membeli e-money berbentuk kartu pra bayar, menyimpan sejumlah uang, dan menggunakannya sebagai alat transaksi pembayaran.

Kartu e-money perdana dapat dibeli dengan mudah dan tidak memprasyaratkan seseorang memiliki rekening perbankan. Batas nilai uang elektronik yang dapat disimpan dalam media uang elektronik.

Untuk jenis kartu unregistered (tidak terdaftar) paling banyak sebesar Rp1 juta, sedangkan uang elektronik untuk jenis kartu registered (terdaftar) paling banyak sebesar Rp5 juta.

E-Money berbentuk kartu tanpa registrasi data diri pengguna memiliki maksimum saldo Rp1.000.000, saldo ini tidak berbunga dan tidak dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

Kartu ini dapat dipindahtangankan dan bisa diisi ulang (top up) di secara tunai di ATM bank penerbit E-Money atau ATM bersama, mesin EDC, maupun di gerai Indomaret/Alfamart dan merchant-merchant yang menerima transaksi E-Money.

Bank Indonesia (BI) telah menghentikan layanan isi ulang uang elektronik yang dimiliki oleh sejumlah perusahaan. Penghentian dilakukan karena uang elektronik tersebut belum memiliki izin dari BI sebagai regulator sistem pembayaran di Indonesia.

Direktur Program Elektronifikasi Departemen Kebijakan dan Pengawasan Sistem Pembayaran BI, Pungky Purnomo Wibowo mengatakan selama ini penerbit uang elektronik menganggap jika layanan tersebut hanya digunakan untuk di lingkungannya saja. Jadi dinilai tak perlu mengajukan izin.

Dia menjelaskan, padahal pada Peraturan BI terkait uang elektronik dalam pasal 1 angka 3 huruf c disebutkan bahwa salah satu dari unsur uang elektronik adalah ‘digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut’.

Sekedar informasi BI telah menghentikan sementara layanan isi ulang uang elektronik milik 4 perusahaan seperti TokoCash milik Tokopedia, ShopeePay milik Shopee, Paytren dan yang terbaru BukaDompet milik Bukalapak.

Penghentian sementara dilakukan karena uang elektronik ini belum mendapatkan izin dari BI. Bank Indonesia (BI) telah menghentikan layanan isi ulang uang elektronik milik 4 perusahaan seperti TokoCash milik Tokopedia, ShopeePay milik Shopee, Paytren dan yang terbaru BukaDompet milik Bukalapak.

baca juga: beli majalah potong pulsa

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *