• Homepage
  • >
  • Politika
  • >
  • Franz Magnis-Suseno : “Amat Disayangkan Di Seratus Tahun Kanisius Menunjukkan Permusuhan Terhadap Gubernur DKI.”

Franz Magnis-Suseno : “Amat Disayangkan Di Seratus Tahun Kanisius Menunjukkan Permusuhan Terhadap Gubernur DKI.”

  • Redaksi
  • 14 November 2017
  • 0

Teman-teman,Sabtu kemarin jam 21.30 saya masuk ruang di Jakarta-Expo Kemayoran, acara 100 tahun Kolese Kanisius.

Saya minta perlu datang pas malam-malam karena belum merasa fit.

Ruang besar gelap, ada ratusan (seribu lebih?) orang, saya diduduki di baris pertama, di samping Pak Sarwono Kusumaatmadja.

Acara masih musik/nyanyi-nyanyi. Kemudian lima orang satu-satu diminta ke panggung, menerima penghargaan, termasuk saya (saya terharu, tetapi sampai sekarang belum paham di mana jasa saya). Masih sebelum acara selesai saya minta diantar pulang karena capai.

Nah, sekarang saya baru tahu ada “kejadian Anies”. Berhubung saya, secara tak langsung, terlibat, saya mau memberi pendapat saya.

Pertama,
saya anggap sangat tepat Panitia Perayaan mengundang Gupernur DKI dan senang bahwa Gupernur memang datang. Wajar itu pada perayaan 100 tahun sebuah
sekolah ternama di ibukota.

Kedua.
Namun apa yang terjadi kemudian – bukan salah Panitia! – menurut saya memalukan dan sangat saya sesalkan.

Yaitu, begitu Gupernur bicara, sebagian besar hadirin, mengikuti Bpk Ananda Sukarln, meninggalkan ruang.

Andaikata Gupernur mengatakan sesuatu yang tidak senonoh/jahat/menghina, walkout dapat dibenarkan.

Tetapi, walkout kemarin menunjukkan permusuhan terhadap pribadi Gupernur merupakan suatu penghinaan publik.

Kok bisa?

Di negara mana pun, di luar pertemuan politik, hal itu jarang terjadi. Saya kutip Sdr. Abdillah Toha: apakah, dengan kejadian ini diviralkan, “justru tidak menjadi counter productive dan akan mempertajam permusuhan di negeri yang sudah rentan intoleransi itu?”

Ketiga:
Anies adalah Gubernur sah DKI, dipilih secara demokratis oleh suatu mayoritas meyakinkan.

Politisi mana di dunia yang dapat diterima kalau ukuran seperti yang dipasang terhadap Anies diterapkan pada mereka?

Betul, ucapan hal “pribumi” pantas ditegur – dan sudah banyak ditegur, – tetapi gupernur macam apa Anies nanti, harus
ditunggu dulu.

Amat disayangkan bahwa sebagian peserta menggunakan kesempatan seratus tahun Kanisius untuk menunjukkan permusuhan terhadap Gupernur DKI.

Keempat,
masih hal Anies: Bukankah sikap yang benar adalah: beri dia kesempatan untuk membuktikan diri?

Kita Katolik tidak bisa memilih negara di mana kita hidup. 57 persen pemilih Jakarta memilih Anies.

Umpamanya Habib Rizieq Syihab dipilih gubernur, kita juga harus dapat hidup dengan beliau.

Kolese Kanisius harus menjalankan misinya dengan pemerintaan DKI mana saja, dan saya perkirakan bahwa justru karena itu Panitia mengundang Pak Anies.

Kelima,
Sdr. Ananda Sukarlan berhak menolak Anies.

Sebagai seorang Muslim ia tidak perlu dicurigai bersikap sektarian. Namun, saya tetap tidak dapat menyetujui
kelakuannya.

Tamu harus dihormati, tamu datang karena diundang panitia, maka semua yang ikut undangan panitia, harus menghormati tamu pun pula kalau secara pribadi
tidak menyetujuinya.

Silahkan panitia dikritik. Tetapi menginisiasikan suatu demonstrasi penghinaan terbuka terhadap Gupernur DKI saya anggap penyalahgunaan
kesempatan.

Keenam,
Rupa-rupanya – saya tidak mendapat teksnya – Sdr. Ananda juga mengritik bahwa Romo Provinsial Sunu Hardiyanta “basa-basi” saja.

Kalau yang dimaksud bahwa Romo Provinsial tidak mengambil sikap politis terhadap Anies dan macam-macam kecenderungan primordial, melainkan “hanya” menghargai apa yang sudah dilakukan Kanisius serta mengharapkan bahwa Kanisius terus meningkatkan kualitasnya dan terus menghasilkan manusia-manusia Indonesia bermutu:

Itu bukan basa-basi, itu yang saya harapkan provinsial mengatakannya.

Kanisius diharapkan menjalankan misinya di masa depan juga kalau, barangkali, situasi menjadi lebih sulit. Kiranya justru tepat yang dikatakan Romo Provinsial.

Akhirnya, semoga Kanisius bisa maju terus, dan terus diterima baik oleh masyarakat Jakarta.

Franz Magnis-Suseno SJ

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *