Indonesia Green Awards 2018 (Penghargaan Bergengsi Di Era Milenium)

  • Redaksi
  • 15 April 2018
  • 0

Dalam gelaran IGA 2018 ini ada penambahan satu kategori istimewa, yakni Eksekutif Milenium. Apa dan siapa mereka?

————————————————–

Setiap prestasi, patut diapresiasi. Itulah salah satu prinsip yang dianut oleh The La Tofi School of CSR dalam memberikan apreasiasi kepada siapa saja yang dianggap berprestasi dan berjasa bagi lingkungan sekitar. Lembaga pendidikan yang berlamat bilangan Tebet, Jakarta Selatan, ini sudah beberapa kali menyelanggarakan Indonesia Green Awards (IGA).

IGA merupakan penghargaan yang diberikan oleh The La Tofi School of CSR kepada perusahaan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan melalui berbagai ragam kreativitas. Di penghujung April 2018 ini The La Tofi School of CSR akan menggelar IGA 2018 di Jakarta, sebagai IGA tahun ke 9.

Pada IGA 2018 ini The La Tofi School of CSR menambahkan satau kategori baru, yakni Eksekutif Milenium. Pertimbangannya adalah di tangan pengambil keputusan dan pelaksanan andal kesuksesan program sebuah perusahaan atau lembaga apapun ditentukan. Di samping, tentu saja visi lingkungan perusahaan yang terus dinyalakan oleh para eksekutif.

Kategori ini The La Tofi School of CSR pilihkan dan bisa juga didaftarkan oleh perusahaan, manakala terdapat manajer atau direktur yang berjasa besar dalam pencapaian prestasi lingkungan atau CSR. “Sebagian dari penerimanya sudah kami tetapkan berdasarkan pengamatan yang cukup panjang,” ujar La Tofi, Chairman The La Tofi School of CSR, dalam surat undangan mengikuti IGA 2018.

The La Tofi School of CSR ingin memulai Indonesia Green Awards 2018 ini sebagai penghargaan yang mencirikan eksistensi perusahaan di tengah generasi milenial. Selain kategori yang biasa dilakukan dengan syarat tambahan komunikasi generasi milenial.

PERUBAHAN ERA DIGITAL

Penyelenggaran IGA 2018 ini memiliki dimensi latar belakang yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Seperti dimaklumi bersama, saat ini masyarakat berubah sangat cepat. Perusahaan pun dibuat pusing tujuh keliling. Pilihannya hanya ada dua: menyesuaikan atau mati. Itulah gejala, yang tak seorang pun mampu menampiknya.

Revolusi digital yang didalangi generasi milenial saat ini menciptakan peta ekonomi baru. Jangan kaget, jika raksasa perusahaan migas Exxon yang pernah merajai hingga 2011, tetapi siapa sangka di 2016 digusur oleh Apple yang membuntutinya di 2011. Exxon pun hilang dari 5 perusahaan raksasa penguasa ekonomi dunia. Sejak 2016 itu digantikan oleh semua perusahaan terkait digital, dengan urutan: Apple, Alphabet, Microsoft, Amazon dan Facebook.

Di Indonesia, juga fenomena terjadi. Siapa sangka Blue Bird Group yang menguasai pasar transportasi konvensional dengan nilai Rp 9,8 triliun, dan Garuda Indonesia dengan nilai Rp 12,3 triliun di 2016 digusur dengan mudah oleh produk jasa digital: Grab dan Go-Jek dengan penguasaan pasar masing-masing Rp 20 triliun dan Rp 38 triliun.

Revolusi digital 3 T, yaitu telekomunikasi yang dimungkinkan oleh produk digital, transportasi yang didorong oleh aplikasi digital, dan tourism yang juga dihela oleh kemudahan aplikasi digital, ikut mendorong semua bisnis untuk memilih. Mengikuti arus generasi milenial atau terseok-seok kemudian mati.

Pilihan ini tidaklah kejam. Namun harus dipahami bahwa generasi milenial cenderung lebih efisien dalam memanfaatkan sumber daya, ditandai dengan ekonomi berbagi yang berimplikasi penghematan. Gaya hidup mewah dengan resiko tinggi pada emisi karbon sudah ditinggalkan.

Lantas, bagaimana dengan inisiatif CSR khusus lingkungan? Tentu memaksa perusahaan untuk melibatkan generasi milenial (usia berkisar 18 hingga 38 tahun) dalam berbagai inisiatifnya. Di tangan mereka – yang 24 jam dekat dengan perangkat android ‐ kisah kebaikan perusahaan menyebar bak virus. Mempengaruhi perasaan dan pikiran, menyebabkan tumbuhnya inspirasi- inspirasi baru. Pada ujungnya, bumi menerima manfaat yang besar dari inisiatif orang banyak.

TUJUH KATEGORI

Sebagaimana Indonesia Green Awards sebelumnya, The La Tofi School of CSR mensyaratkan setiap program (berdasarkan kategori yang diikuti) merupakan suatu proses yang sistematis dan kronologis (membawa cerita perubahan) tentang inisiatif program itu ketika digagas, dijalankan dan dievaluasi, sehingga para pemangku kepentingan mengetahui persis bagaimana sebelum dan sesudah program dijalankan.

Dan, untuk kategori Eksekutif Milenium, tentu saja menceritakan peranan eksekutif dari proses cerita perubahan ini.

Ada tujuh kategori yang diusung dalam IGA 2018 ini. Kategori Pertama, Eksekutif Milenium, yaitu pemilik atau pengelola perusahaan dan CSR yang membuat lompatan besar dalam perusahaan yang berdampak signifikan terhadap lingkungan.

Khusus untuk kategori ini, sebelum perusahaan mendaftarkan kandidat Eksekutif Milenium, The La Tofi School of CSR memutuskan lebih dahulu untuk memberikan Indonesia Green Awards 2018 kategori Eksekutif Milenium kepada tujuh tokoh yang sudah diamati cukup lama dan proses penilaian yang panjang.

Kategori kedua, Penyelamatan Sumber Daya Air. Adalah mereka yang aktif melakukan upaya rekayasa lingkungan dan teknologi atau program lainnya, sehingga kualitas air terjaga dan dapat dimanfaatkan dengan optimal bagi kehidupan masyarakat.
Kategori ketiga, Rekayasa Teknologi dalam Menghemat Energi. Adalah mereka yang sukses melakukan rekayasa teknologi dalam menghemat energi fosil dan mengurangi secara signifikan tingkat kerusakan lingkungan.

Kategori keempat, Mengembangkan Keanekaragaman Hayati. Adalah yang menjalankan inisiatif program atau rekayasa teknologi dalam mempertahankan dan merestorasi keanekaragaman hayati, baik ekosistem laut maupun darat, agar mata rantai kehidupan alam berlangsung normal.

Kategori kelima, Mempelopori Pencegahan Polusi. Adalah mereka yang aktif melalui kebijakan dan rekayasa teknologi dalam mengurangi tingkat polusi udara, darat dan air/laut.

Kategori keenam, Mengembangkan Pengolahan Sampah Terpadu. Adalah mereka yang aktif mengembangkan inovasi teknologi atau inisiatif program efektif dalam sistem pengolahan sampah.

Kategori ketujuh, Mengembangkan Rekayasa Teknologi Energi Baru dan Terbarukan. Adalah mereka yang aktif mengembangkan dan Menggunakan rekayasa teknologi Energi Baru dan Terbarukan untuk keperluan operasional, mengurangi kerusakan lingkungan dan kepentingan masyarakat.

PENILAIAN KETAT
The La Tofi School of CSR menetapkan setiap perusahaan boleh mendaftar hingga tujuh kategori. Perusahaan yang memperoleh penghargaan 6 kategori (di luar kategori Eksekutif Milenium) akan menerima pula penghargaan The Best Indonesia Green Awards 2018.

Penentuan peraih penghargaan IGA 2018 ini penilaian dilakukan secatar ketat oleh lima tim penilai. Mereka antara lain La Tofi, Chairman The La Tofi School of CSR; Prof. Ibnu Hamad, Guru Besar Komunikasi Universitas Indonesia; Ngakan Timur Antara, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian; Rida Mulyana, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM; dan Jo Kumala Dewi, Direktur Kemitraan Lingkungan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Gebyar pemberian IGA 2018 peserta terpilih akan dilakukan pada 25 April 2018 Di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta. Selamat kepada para peraih IGA 2018. Semoga dapat menginspirasi perusahaan-perusahaan lain dalam menjaga Bumi tetap hijau. (*)

baca majalah eksekutif terbaru: Klik ini!

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *