• Homepage
  • >
  • Nasional
  • >
  • Pandangan Christovita Wiloto, Setelah keliling Amerika dan Asia

Pandangan Christovita Wiloto, Setelah keliling Amerika dan Asia

  • Redaksi
  • 22 September 2017
  • 0

“Sahabat, kesimpulan saya setelah sebulan keliling NYC & DC : US sudah tua, Asia justru jauh lebih bergairah, bergelora, bagus & bersih,” ujar pengamat ekonomi ini.
Sebagai putera Indonesia ia demikian bangga, ketika banyak sekali produk Indonesia ditemukan di supermarket di New York dan laku.

Dalam media sosialnya, Chrstovita Wiloto juga memaparkan perjalanan dan pertemuannya dengan banyak pihak, antara lain dengan Dennis Richardson, AO. Dia adalah direktur keamanan dari organisasi intelijen keamanan Australia dari 1996 Oktober hingga 2005, duta besar Australia ke Amerika Serikat (2005-2010), Sekretaris Departemen Luar Negeri dan perdagangan (2010-2012) dan Mantan Sekretaris Departemen Pertahanan Australia (2012-2017).

Bersama orang-orang di Center For Strategis & International Studies Washington DC.

Yang menarik adalah, kritik tajam dipaparkan pengamat ekonomi yang juga penginjil Christovita Wiloto. “Mas Jokowi, saran saya Pajak harus fokus ke 1% orang kaya yang menguasai 50% aset Indonesia,” ujarnya.

Dalam media sosialnya, Chritovita Wilota mengingatkan kita semua, bahwa orang-orang kaya ini ada di list Panama Papers.

Christovita mengatakan soal hukum Pareto, 1% yang efeknya 99% masalah perekonomian Indonesia. “Jangan keras hanya pada rakyat kecil seperti para penulis, UKM, pegawai kecil. Rakyat menunggu gerakkan nyata Pajak terhadap 1% orang kaya tersebut, agar rasa berkeadilan sosial semakin menguat,” paparnya.

Masih dalam kutipan di medsos, Christovito mengingatkan kepada tim ekonomi di bawah presiden, khususnya Departemen Pajak. Penghindaran pajak oleh kaum elite adalah sebuah praktik umum sehingga negara tidak bisa memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur, menciptakan lapangan kerja, dan memerangi kemiskinan.

Pajak membantu pencapaian ekonomi yang kuat, tapi juga diikuti dengan membangun kepercayaan sektor swasta untuk berinvestasi dan menciptakan lapangan kerja. “Dokumen Panama Papers, sebaiknya menjadi referensi. Bocoran dokumen terbesar sepanjang sejarah tersebut, tentang penghindaran maupun pengelakan pajak,” ujarnya.

Chris menyebut, Panama Papers sedikit banyak telah menunjukkan betapa besarnya potensi penghindaran pajak yang terjadi, termasuk di Indonesia.

Pemilik PowerPR yang juga Christovita Wiloto & Partners ini mengingatkan kembali, bagaimana rakyat Indonesia menunggu realisasi dari pernyataan pejabat pemerintah di bidang pajak dan keuangan, untuk menggali pajak orang-orang berduit dari hasil investigasi Panama Papers.

“Ditunggu hasil Investigasi kita dan bagaimana Data Panama Papers menjadi informasi tambahan dalam pengujian kepatuhan pembayaran pajak, melengkapi data yang sudah dimiliki oleh Direktorat Jenderal Pajak,” paparnya.

Sekali lagi, Christovita Wiloto mengingatkan kembali, bahwa jangan keras hanya pada rakyat kecil seperti para penulis, UKM, pegawai kecil. “Rakyat menunggu gerakkan nyata Pajak terhadap 1% orang kaya tersebut,” ujarnya. “Tuhan memberkati Mas Jokowi,” masih kata pria bertubuh subur yang ramah ini.

Previous «
Next »

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *