56% Hoaks Kesehatan Paling Banyak Terjadi selama Pandemi Covid-19

  • Whatsapp


JAKARTA,- Media digital menghadirkan sebuah realitas virtual yang mempertemukan berbagai orang dalam satu ruang. Masing-masing ruang memiliki nilai atau norma yang dianut anggotanya.

Saat penggunaan media digital tanpa etika pun maka akibat yang ditimbulkan akan cukup berdampak. Sebab pengguna ponsel justru lebih banyak dari jumlah penduduk Indonesia sendiri.

“Dunia digital pun seharusnya memiliki dasar etika, berupa kesadaran, integritas dengan mengutamakan kejujuran, tanggung jawab yakni dengan hati-hati dalam berkata-kata dan kebajikan dengan mengutamakan kemanfaatan, kemanusiaan dan kebaikan bersama,” ujar Eni Maryani, Dosen Dosen Fikom Universitas Padjajaran saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, Selasa (6/7/2021).

Berkaitan dengan etika tersebut, saat ini di internet masih banyak beredar hoaks atau berita palsu yang bisa menimbulkan kecemasan hingga kegaduhan di masyarakat. Cek dan ricek pun harus dilakukan, dengan mengecek sumber beritanya di Google News, mengecek kesesuaian gambar dengan konteks di Google images, memverifikasi topik pesan lewat Fact Check Tools bila merasa curiga, serta memerhatikan lagi URL berita yang bersangkutan karena bisa jadi hanya mirip seperti situs berita.

Lebih jauh Eni mengatakan penyebaran hoaks selama pandemi ini pun tak main-main. Terindentifikasi 926 hoaks dan 56% merupakan hoaks mengenai kesehatan. Hoaks terkait pandemi sendiri berjumlah 492 atau 94,8% dari total hoaks bidang kesehatan. Tema yang paling mendominasi soal bencana kesehatan sebanyak 148 hoaks disusul tema nutrisi sebanyak 103 hoaks dan politik sebanyak 92 hoaks.

“Saluran berita hoaks Covid-19 paling banyak dari Facebook sebanyak 47,8%, disusul platform What’sApp sebanyak 22%. Klaim bukti didominasi oleh pencantuman gambar atau video sebanyak 43,3% hingga alasan sumber yang tidak bisa diverifikasi sebanyak 9,3%,” tambah Eni.

Webinar Literasi Digital merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Di webinar kali ini ada beberapa nara sumber lainnya yang ikut hadir salah satunya yaitu Klemes Rahardja Founder The Enterpreneur Society, Dino Hamid Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia dan Firzie A Idris Assistant Editor Kompas.com.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 87 kali dilihat,  27 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *