Adaptasi Bisnis di Era Digitalisasi dengan Strategi Marketing yang Tepat

  • Whatsapp


JAKARTA,– Statistik pengguna internet saat ini semakin meningkat, penggunanya di tahun 2021 sudah 212 juta jiwa di Indonesia. Diprediksi di tahun 2025 akan mencapai 256 juta jiwa, sehingga peluang di internet semakin besar.

Sementara itu pengguna sosial media di dunia saat ini sudah mencapai 3,78 miliar atau hampir 48% persen dari total populasi dunia. Sehingga sudah hampir setengah penduduk bumi mengakses sosial media, sebuah perubahan yang membuat siapa pun harus masuk ke dalamnya.

Syarief Hidayatulloh, Digital Strategist Hello Monday Morning, saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I pada Jumat (25/6/2021), mengungkapkan, rata-rata orang menghabiskan waktu di sosial media adalah sekitar 2,5 hingga 3 jam per hari. Para marketer, penjual atau pebisnis pun merasakan bahwa iklan di sosial media sangat efektif sebab traffic sudah sangat berubah. Menariknya lagi saat ini orang membaca iklan sudah berdasarkan data, sehingga akurat dan bisa dipertanggungjawabkan.

Lebih lanjut dia mengungkapkan, melihat kondisi pandemi saat ini toko konvensional yang ada di mall meskipun sudah bisa kembali membuka gerainya namun pengunjung dan pemasukannya tak bisa seperti dulu. Sehingga pada akhirnya toko ditutup karena penghasilan dan biaya operasional tidak sebanding dengan pemasukannya.

“Tapi ada yang menarik saat ini, toko online selalu ramai. Padahal tokonya berada di rumah di gang sempit, hanya memanfaatkan sosial media. Sosial media traffic yang paling strategis saat ini, jadi sayang banget kalau tidak memanfaatkan ini,” katanya lagi

Hal yang perlu dipahami, menurut Syarief perubahan akan selalu ada. Selain itu perubahan tidak selalu nyaman bagi semua orang. Namun yang perlu diketahui, pada akhirnya setiap orang harus beradaptasi dan memanfaatkan peluang.

Lalu bagaimana proses adaptasi untuk memanfaatkan situasi yang semuanya mengarah pada digitalisasi seperti sekarang ini? Syarief menyebut pertama-tama lakukan branding atau menunjukan karakter. Kedua berinteraksi dengan costumer potensial dan kumpulan respon dari mereka. Ketiga tetapkan target audience, seperti umur, lokasi, pendidikan dan hobi. Selanjutnya analisa market, yaitu tentukan apa yang dibutuhkan oleh pasar Anda.

“Di dunia digital semua berdasarkan data, jadi ini menariknya sehingga tidak asal mengira-ngira,” sebut Syarief.

Lalu mulai dari mana? Setiap orang bisa memulainya dari passion apa yang menjadi kesukaan atau keahlian. Selanjutnya jika sudah mengetahui passion beralih ke bagian bagaimana menjual atau memasarkannya. Apakah dari iklan sosial media, facebook atau Instagram, google atau endorsmen. Kemudian bangun brand dengan menunjukan identitas dengan membuat website, akun sosial media, atau akun di marketplace. Selanjutnya membuat portofolio dengan konsisten membuat konten. Lalu bangun koneksi dengan bergabung di komunitas dan monetisasi atau adanya pembelian berulang dari costumer.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Syarief Ramaputra, Fact Checker Mafindo dan Clra Tobing, Kaprodi FH UBJ serta Hellen Citra Dewi seorang Psikolog & Senior Trainer dari SEJIWA. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 35 kali dilihat,  35 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *