Hiburan

Majalah Eksekutif sebagai Media Partner

Ini salah satu karya yang akan dibukukan

Aku Memang Orang Jadul
Oleh: Dian Andryanto


Aku akan terus menulis, selagi aku masih bisa berpikir, selagi jariku masih mau kuajak menari disetiap huruf dan menjelajah jutaan kata misteri.

Aku ingin terus menulis, seperti tubuhku harus merasakan aliran darah, seperti menghirup desir udara setiap kali.

Siapa yang membisikkan kata-kata ajaib itu? Tuhanku! Siapa yang mendengungkan untaian kalimat dan segala cerita pada awal mulamu ingin berkisah? Lirik lagu-lagu itu.

Kanak-kanakku, Hampir disetiap gerakku, lagu-lagu itu menemaniku, sebagian besar tak sengaja kudengarkan. Dari radio tetangga, dari kaset angkot, dari om-omku bergitar ria menyanyikannya, dari banyak tempat aku mendengar lirik-lirik yang berkisah.

Imagine there’s no Heaven, It’s easy if you try, No hell below us, Above us only sky, Imagine all the people, Living for today…

Lagu 1971 yang terus menerus diputar karya John Lennon. Lirik yang tak lekang mas, yang tak lapuk dimakan usia. Selalu hadir sepanjang masa, tentang harapan. Siapa yang tak tertusuk kalimatnya, mungkin hatinya telah menjadi batu.

Semua kehidupan dia, Berkhayal tinggal yang ada, Rindu sayangi sesama, Hidupmu sebentar saja…
Seharum wangi bunga, Hidupmu bersandiwara, Seribu bertanya senada, merayu…

Adjie Bandi menciotakan lagu “Damai tapi Gersang” ini, kemudian di World Popular Song Festival, Tokyo, 1977, lagu ini dibawakan Hetty Koes Endang dan menjadi jawara. Lirik tentag kerinduan hidup dalam kedamaian, menginsiprasi. Malam jelang pagi, lagu ini menuntaskan editing buku ke-7 #sayabelajarhidup PITA GARUDA. Beratus kali masa kanak-kankku mendengar lagu ini.

https://www.youtube.com/watch?v=malS-5Hi3G8

DI bawah pohon sawo, seusai bermain koboi-koboian. Berkeringat dan melepas lelah. Dari warung terdengar lagu yang kemudian aku tahu belakangan judulnya “Cinta Putih” karya Titiek Puspa. Aku mengikuti kata-katanya, inilah cinta yang kemudian aku menggambarkannya.

Bayu pun semilir, puspa pun mewangi, karena dikau
bulan senyum ayu, surya keemasan, karena dikau
samudera menggelegar, gelombang berkejar, karena dikau
simfoni yang terindah terciptalah sudah karena dikau..

Kagum aku pada untaian kata-kata itu. Masih membekas, sehingga menjadi lambaran penyejuk saat menuntaskan buku ke-6 #sayabelajarhidup ASMARADAHANA.

https://www.youtube.com/watch?v=H4fvxj_LsjA

Aku memang orang jadul. Hidup dengan lirik-lirik lagu berkisah yang kawin mawin dengan kata-kata indah. Itu menancap, meresap, dan tak kusadari menjadi caraku bertutur dalam tulisan. Bersyukur aku, telinga masa kanak-kanakku dipenuhi lagu-lagu berlirik story telling yang kuat. Menguntai kata-kata tak berhenti pada pesan yang ingin sampai, tapi memberikan cara lain penyampaian.

Bagaimana Keenan Nasution bisa menciptakan kalimat hebat ini? // masa pertalian terjalin sudah, ada yang menarik bayang-bayangmu, tak mau pergi…
dirimu nuansa-nuansa ilham, hamparan laut tiada bertepi..// dalam “Nuansa Bening”.

Bagaimana Chrisye dan Eros Djarot bisa menemukan kalimat ini? //Awan yang hitam tenggelam dalam dekapan, Daun yang layu berguguran di pangkuan…
Kapan badai pasti berlalu, Resah aku menunggu, Kapan badai pasti berlalu, Badai pasti berlalu…//

AKu hidup dengan masa lagu-lagu itu didengarkan. Tak punya radio tapi aku kerap mencuri dengar dari sekitar warung tempatku bermain. Aku ingin terus menulis, seperti mereka bisa menguntai lirik …

Aku memang orang jadul, buat kids zaman now mendengarkan pilihan lagu-lagu ini. Tapi, coba dengarkan rangkaian katanya, Nak…

#sayabelajarhidup bersama Ursamsi Hinukartopati

baca juga: Majalah Eksekutif edisi terbaru

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas