Alasan Netizen Indonesia Berani di Dunia Maya

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Warga digital Indonesia pernah menjadi negara yang paling tidak sopan saat se-Asia Pasifik. Mengapa hal itu bisa terjadi?

Menurut Erlangga Setu, Praktisi IT setelah diriset beberapa faktornya karena kurangnya literasi digital. Minim awareness terhadap risiko perilaku, jadi terkadang kita tidak memperhatikan risiko apa yang kita mungkin dapatkan akibat posting atau komentar macam-macam di di dunia digital.

“Karena kita tidak tersentuh secara langsung, tidak berhadapan, tidak tahu karena perilaku kita di dunia maya hanya bentuk teks yang tidak ada intonasinya, tidak ada ekspresi. Salah persepsi dengan ungkapan pun sangat besar,” ujarnya dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/10/2021) pagi.

Alasan lain karena tidak tersampaikan di dunia nyata sehingga keberanian untuk berkata-kata apapun muncul. Mengomentari figur publik pun biasanya jika kita kita melihat di TV hanya dapat mengumpat di depan layar. Kini dianggap kita dapat menyampaikan pesan kita secara langsung melalui media sosialnya.

Padahal itu termasuk hal buruk, tidak kenal dengan orang tersebut namun kita berucap tidak pantas kepadanya. Erlangga mengungkapkan, mengapa tidak kita gunakan komentar untuk mengapresiasi karya orang lain. Misalnya, kita suka menonton channel YouTube seorang figur publik, lebih baik kita menyemangatinya untuk terus berkarya agar kita selalu ada tontonan yang menemani.

Di ruang digital, memang ada hal buruk dan baik yang dapat kita lakukan. Semua pilihan ada di genggaman kita. Apakah gawai ini dapat digunakan untuk posting hal baik atau buruk di media sosial?

Posting yang buruk termasuk menyebarkan informasi tanpa kita kroscek. Sekalipun itu informasi sepertinya bermanfaat dan penting tapi masih belum tahu kebenarannya itu bukan hal yang baik. Bisa jadi informasi hoaks, dan kita sudah termasuk menjadi penyebar berita bohong yang dapat membahayakan,” jelasnya.

Agar tetap nyaman di ruang digital, berpikirlah positif agar apapun postingan orang kepada kita tidak kita tanggapi secara negatif. Sehingga ketika membalasnya bukan dengan emosi. Erlangga menyarankan untuk selalu santai di ruang digital, tidak perlu semua dianggap serius. Sebab, mungkin saja orang yang terlihat marah-marah di media digital mereka mengetik sembari tertawa. Tidak perlu menganggap semua buruk komentar seseorang.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/10/2021) pagi, juga menghadirkan pembicara, Ridwan Rustandi (Dosen UIN Bandung), Ronal Tuhatu (Psikolog), Bowo Suhardjo (Konsultan Bisnis), dan Ida Rhynjsburger sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 19 kali dilihat,  18 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *