Majalah Eksekutif

Benny Suherman, Sahabat Ciputra dan Sudwikatmono

#pelopor bioskop multipleks di Indonesia.

Benny Suherman, sang pelopor inovasi bioskop di Indonesia bersama S.S Budi Raharjo, CEO Majalah eksekutif/Pemred Majalah MATRA.

Studio 21 pertama dibangun di Jalan MH Thamrin Kav 21

Eksekutif.id — Awet Muda. Sang Inovasi One Stop Entertainment. Pria ini masuk dalam jajaran orang kaya di Indonesia, tapi lumayan ramah dan santun. Senang ngobrol namun tetap bersahaja (rendah hati).

Benny Suherman adalah sosok dibalik yang “mengubah” perusahaan Cinema 21. Dia adalah patner Sudwikatmono, saudara sepupu Pak Harto. Pak Dwi, demikian panggilan akrabnya.

Tak banyak yang tahu soal angka 21 pada bioskop yang ada di Indonesia. Ternyata, angka itu tak sekadar pajangan semata. Angka itu memiliki sejarah asal mula. Studio 21 pertama dibangun di Jalan MH Thamrin Kav 21 oleh Sudwikatmono pada tahun 1986.

Setelah berhasil melakukan ujicoba sinepleks dengan mengubah ruang gedung bioskop Kartika Chandra menjadi beberapa layar. Studio pertama, Sinepleks di Kartika Chandra ini juga bekerjasama dengan Raam Punjabi.

Nama “21” diambil dari nomor kaveling jalan MH Thamrin di lokasi Studio 21 pertama dibangun. Namun, ada juga yang mengatakan, bahwa nama itu sesungguhnya merupakan akronim dari Su-Dwi-kat-Mono.

Cineplex 21 Group memulai kiprahnya di industri hiburan sejak tahun 1986, hingga Juni 2015, Cineplex 21 Group memiliki total 1240 layar yang tersebar di 33 kota di 146 lokasi di seluruh Indonesia.

Ada Yang Menyebutnya Tren ‘kembali ke bioskop’ Sebagai Cultureplex.

Inilah peran Benny Suherman. Pada tahun 1999 Sudwikatmono melepaskan kepemilikan jaringan bioskop 21 itu kepada partner-nya, yang bernama Benny Suherman dan Harris Lesmana.

Berusia lebih dari 60 tahun, Benny Suherman saat ini tinggal di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan, yang membuat ragam inovasi agar gaya hidup ke bioskop menular di Indonesia. “Sekarang, olahraga jalan kaki saja, bisnis sudah ada yang urus,” jelas pria yang gemar berenang ini.

Penyuka seni ini mengaku, ada masanya ia memberi edukasi bahwa nonton bioskop tak lagi bergengsi, tetapi gaya hidup. Transformasi gaya hidup dalam perubahan sosiokultural masyarakat, menjadikan bioskop tidak lagi hanya dibaca dengan pemaknaan prestise.

Tren menonton film di bioskop kembali semarak. Bagi sebagian orang menonton film merupakan hobi. Bahkan ada yang rela untuk menyiapkan waktu khusus dan budget khusus tentunya untuk melaksanakan hobinya tersebut.

Obrolan film juga bisa bikin naik ‘kelas’. Ada yang menyebutnya tren ‘kembali ke bioskop’ ini sebagai cultureplex. “Media cetak juga begitu, tenang aja, ada pasarnya tersendiri di era digital,” ujar Benny Suherman, dalam konteks hari Pers Nasional berkomentar.

Bioskop bukan hanya tempat untuk nonton, tapi juga bisa nongkrong dan melakukan aktivitas lainnya selain menikmati audio visual saat nonton film. Semoga perfilman nasional makin maju dan menghasilkan karya berkualitas serta menginspirasi.

Konglomerat ini menyempurnakan nonton film layar lebar di Indonesia. Terus terang saja, pasar persaingan bioskop yang sekarang didominasi oleh dua grup yaitu Cinema 21 dan Blitzmegaplex.

Ada tiga merek sirkuit terpisah, Cinema 21, Cinema XXI, dan The Premiere, masing-masing menargetkan pasar yang berbeda.

Sebagai contoh, The Premiere bertujuan audiens yang lebih suka tempat-tempat yang lebih mewah ditunjuk, termasuk lobi yang dirancang khusus dan kursi plusher.

Grup Sinema 21 hampir menguasai pasar hiburan Indonesia dan dikatakan memiliki lebih dari 80 persen pangsa pasar melalui distribusi, pameran, dan produksi (grup ini juga mulai membiayai dan memproduksi filmnya sendiri), meninggalkan beberapa pesaing yang sangat berharga.

Di luar ekspansi komersial, kelompok ini juga memberikan penekanan besar pada peningkatan secara terus-menerus tempat-tempat yang sudah ada – yang semuanya merupakan multipleks, dengan cara – dan berusaha untuk inovasi agar dapat mengikuti perkembangan zaman modern dan permintaan pasar.

Misalnya, semua layar telah didigitalkan sejak 2013 dan dilengkapi dengan sistem suara Dolby Digital dan THX terbaru.

Baru-baru ini, sistem tiket bergerak milik negara yang canggih (MTix) dilaksanakan sehingga penonton bioskop dapat memesan tiket mereka terlebih dahulu melalui SMS dan panggilan bebas pulsa, serta situs web khusus.

Mau nonton film ke bioskop sebagai refresing atau tertarik ingin berbisnis di industri film yang terus bergeliat, khususnya film Indonesia. Ditunggu komentarnya..

baca juga: majalah EKSEKUTIF (print/cetak) terbaru — klik ini —

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas