Berbahasa yang Baik di Ruang Digital Menghindari Kesalahpahaman dan Jeratan UU ITE

  • Whatsapp


JAKARTA,- Indonesia memiliki 1.100 bahasa bahasa daerah dan bahasa Indonesia merupakan bahasa resmi nasional. Berada di ruang digital, penggunaan bahasa Indonesia yang baik secara non formal sebenarnya tetap bisa dilakukan. Bahkan ketika memberikan reaksi di kolom komentar penggunaan bahasa sopan, tanpa ada ujaran kebencian, maupun tata bahasa Indonesia yang baik semuanya akan memengaruhi pembuat konten untuk memproduksi konten bermanfaat lainnya.

“Berbahasa Indonesia yang baik itu berarti kita harus menggunakan bahasa Indonesia sesuai dengan konteks berbahasa yang selaras dengan nilai sosial masyarakat,” kata Shandy Susanto, Dosen Podomoro University saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat I, Jum’at (6/8/2021).

Menggunakan bahasa yang baik, meliputi unsur benar, logis, dan sistematis. Bahasa yang baik merupakan bahasa yang sesuai konteks di mana, kapan, dan kepada siapa pesan ditujukan. Sementara bahasa yang benar merupakan bahasa yang sesuai dengan kaidah dan aturan.

Penerapan bahasa Indonesia yang baik dan benar juga dimaksudkan untuk menghindari salah tafsir atau terjadi kesalahpahaman di dunia maya. Selain itu reaksi berupa komentar yang memicu konflik di dunia maya karena kurang beretika dalam merespon konten bisa menjerat pengguna pada UU No.11/2008 yaitu Undang Undang Informasi dan Transaski Elektronik (UU ITE) dan berujung pidana. Pengguna internet yang memerhatikan tata bahasa serta norma sopan santun dan berbudaya saat berkomentar akan menghindari dari terjerat UU ITE tersebut.

Webinar Literasi Digital di Kota Depok, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Henry V. Herlambang, CMO Kadobox, Iman Darmawan, Founder IMan KoMunika, dan Sophie Beatrix, Psikolog Praktisi dalam bidang Pendidikan dan Industri.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 2 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *