Beretika di Internet dan Menghargai Hak Kekayaan Intelektual

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Dunia internet yang sekarang serba cepat dan informasi mengalir deras tak terbendung, membuat setiap individu harus hati-hati dalam hal etika kesopanan di ranah digital. Termasuk menghargai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) yang tanpa disadari bisa menyinggung pemilik karya, apalagi jika dipakai dan membuat seseorang ikut menikmati secara ekonomis hasil dari suatu kreativitas intelektual.

Komunikasi digital yang kini menjadi tempat setiap orang berinteraksi tetap harus mengedepankan etika yang mengatur tata kesopanan para penggunanya. Termasuk etika saat mengutip hasil karya orang lain di internet.

“Semua orang yang menuliskan hasil riset dan tulisan di internet memiliki Hak Kekayaan Intelektual dan kita sebagai penikmatnya saat mau mengutip sebagian atau seluruhnya wajib memberikan kredit sebagai bentuk respect kepada karya dengan cara menyebutkan sumber informasi,” kata Goretti Meiliani, Project & Planning Section Head Binus Group saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, pada Selasa (28/9/2021).

Dia mengatakan seseorang akan dianggap sebagai plagiat jika tidak menyertakan sumber saat mengutip. Plagiat sendiri dapat dikatakan menyontek atau menjiplak hasil karya orang lain. Hal tersebut bahkan diatur dalam Undang Undang no 19 tahun 2002 mengenai Hak Cipta. Pemilik karya tentunya akan merasa tersinggung bila ada orang yang tiba-tiba mengakui hasil karyanya.

Bagaimana agar di dunia digital kita tidak melakukan plagiat? Goretti menyebut seseorang bisa meminta izin mengutip. Pencantuman sumber juga terkait data statistik untuk membuat makalah maupun essay penulisan, jangan lupa agar dicantumkan dari mana sumbernya. Apakah berasal dari berita, maupun blog dan siaran YouTube hal tersebut merupakan bagian dari etika dalam ruang digital yang harus menjadi budaya dan sopan santun, menghargai warga digital lainnya.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Maria Ivana, seorang Graphic Designer, Loka Hendra, Head of Food & Beverage Cinepolis Indonesia, dan Nandya Satyaguna, seorang Medical Doctor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 4 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *