Budaya Malu Harus Ditanamkan Dalam Penggunaan Media Sosial

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COMPerkembangan teknologi dan digitalisasi mempengaruhi berbagai aspek kehidupan dan berimbas pada perubahan perilaku. 

Akibatnya, terjadi juga pergeseran budaya timur menjadi budaya barat. Jalu Dwi Putranto, Ketua Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Bekasi menyatakan hal ini lumrah terjadi di era globalisasi.

Tentunya, perkembangan teknologi ini membawa dampak bagi masyarakat. Tidak hanya dampak positif, tetapi juga negatif.

Artinya, perubahan ini berbahaya apabila pengguna tidak berhati-hati. Jalu mengatakan, akibatnya akan berdampak pada mental pengguna jika tidak menanamkan nilai-nilai religi.

“Kita sebagai bangsa Indonesia mempunyai nilai-nilai adat ketimuran. Kita punya nilai-nilai kultural yang selalu kita ingat dan tanamkan. Bahkan dari kecil kita sudah mulai diajari sopan santun, gotong royong, hingga toleransi,” ujar Jalu dalam Webinar Literasi Digital di Wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (2/8/2021).

Berdasarkan kajian pribadi Jalu, manusia berperilaku, bertindak, dan berucap dipengaruhi oleh dua faktor. Pertama, lingkungan dan adat istiadat. Kedua, sejauh mana individu paham tentang penanaman nilai-nilai religi. Keduanya ini merupakan budaya dan diterapkan juga ke dalam dunia digital.

Ketika masuk ke dunia digital, salah satunya dalam hal ini adalah budaya kesopanan penggunaan media sosial terhadap orang lain. Contohnya, dengan bertutur kata yang baik dan sopan kepada sesama pengguna media sosial. Berpikir kembali apakah bahasa tersebut penting untuk digunakan atau tidak.

Ia juga menjelaskan, dalam membuat postingan di media sosial tidak boleh multitafsir. Kemudian, tidak mengusik privasi orang lain. Menurut Jalu, hal tersebut bukan menjadi bagian dari budaya lokal kita.

“Budaya malu juga harus ditanamkan dalam penggunaan media sosial. Penanaman budaya malu dimaksudkan agar kita selalu berpikir dan merasa malu saat terlalu mengumbar kehidupan atau masalah pribadi ke media sosial. Pastikan postingan kita memberi manfaat, informasi, edukasi, dan inspirasi bagi pembacanya,” pesannya.

Manfaat dari perkembangan digital dapat kita rasakan apabila sebagai individu kita menggunakannya untuk hal-hal positif.

Jalu menyampaikan, kita dapat mengembangkan diri kita dengan pemikirian inovatif dan kreatif, juga membentuk karakter cerdas dan berwawasan. Hal lainnya, kita dapat mengaktualisasi diri dan mengeksplor diri kita dengan kemajuan era digital.

Dampak negatifnya, munculnya perilaku individualism dan egois. Karena saat ini banyak masyarakat yang kecenderungan terhadap gadget dibandingkan berinteraksi dengan sekitar. Penyalahgunaan media sosial untuk tindak provokasi.

Menurut Jalu, ini berbahaya terlebih jika mengandung SARA karena akan menimbulkan konflik horizontal.

Kemudian, adanya penyebaran hoaks. Oleh karena itu, untuk mencegah hoaks kita perlu memeriksa terkait informasi yang di dapat dari media sosial.

Hal ini juga dikatakan Jalu sebagai nilai Tabayyun dalam Islam, di mana ketika kita mendapatkan suatu berita, maka kita harus memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Senin (2/8/2021) juga menghadirkan pembicara, Ninik Rahayu (Pimpinan Ombudsman RI 2016-2021), R. Panji Oetomo (Penggiat Literasi Digital), Monica Eveline (Digital Strategist Diana Bakery), dan Louiss Regi Aude.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 59 kali dilihat,  59 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *