Budaya Pembelajaran Hybrid di Sekolah

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Setelah hampir dua tahun pembelajaran dilakukan secara daring karena pandemi, saat ini beberapa sekolah telah menerapkan sekolah tatap muka. Menurut Verawati seorang Guru di SMKN 2 Cikarang Barat, pembelajaran daring memberikan berbagai manfaat, di antaranya akses belajar, sumber belajar yang bervariasi melalui platform digital, belajar tidak terikat waktu dan tempat. Di samping itu, efeknya pada sekolah bisa meminimalisir biaya.

Lanjut Vera, belajar daring melatih kemandirian siswa dan managemen waktu, serta menerapkan budaya paperless yang ramah lingkungan. Guru pun harus melek terhadap teknologi agar tetap bisa mengajar.

“Meski PTM sudah berjalan, tetapi PJJ tetap diperlukan karena mempercepat pencapaian materi pembelajaran. Ketika kita menyampaikan PJJ dengan penugasan yang tidak sempat dilaksanakan di kelas, tentu itu bisa mengisi kekosongan karena sekolah harus bergiliran,” tutur Vera dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/9/2021).

Ia menyampaikan, PJJ ini bisa dijadikan ajang ekspolrasi pembelajaran oleh siswa. Karena siswa bisa mencari sumber-sumber lain di internet dan tidak hanya terpaku pada satu buku. Selain itu, saat ini teknologi telah memasuki segala aspek kehidupan manusia. Menurutnya, ketika semua lini telah menggunakan teknologi dan internet, ranah pendidikan juga perlu memanfaatkannya agar bisa mempersiapkan anak yang mahir menggunakan teknologi.

PJJ masih diperlukan karena kehidupan era revolusi industru 4.0 akan berubah menjadi society 5.0 yang menuntut manusia berpikir secara kompleks dan kritis. Namun, pembelajaran langsung pun tetap tidak bisa ditinggalkan meskipun nantinya teknologi yang hadir akan semakin canggih. Hal ini karena setiap mansuia baik guru atau siswa membutuhkan interaksi secara langsung dan ikatan emosional. Dengan pembelajaran langsung, perkembangan karakter dari siswa bisa dipantau.

Kedua sistem pembelajaran baik tatap muka atau PJJ memiliki manfaat masing-masing dan tidak bisa digantikan seiring perkembangan zaman. Namun, kedua sistem pembelajaran tersebut bisa digabungkan dan menjadi pembelajaran hybrid.

“Pembelajaran secara hybrid sudah menjadi budaya dan kebutuhan karena kita sudah tidak hidup di abad 20, tetapi di abad ke 21. Budaya belajar hybrid ini harus dilakukan agar siswa bisa lebih unggul,” ungkapnya.

Budaya belajar hybrid pun tidak hanya melalui sekolah, tetapi ditunjang lagi dengan kursus online, mempelajari sesuatu dari Youtube sesuai dengan minat, membaca buku digital, dan mencoba berbagai test online.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/9/2021) juga menghadirkan pembicara, M. Fariz Al Fatah (Guru Multimedia Desain Grafis Percetakan SMKN 2 Cikarang Barat), Nikita Dompas (Producer & Music Director), Boyke (Divisi Kerjasama Edukasi4ID), dan Janna S. Joesoef (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 1 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *