Nasional

Dari Pinggir Citarum ke Puncak Komando Angkatan Laut

Oleh: Henry Loedji (Portonews)

684Views
MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

RESENSI BUKU —

Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi, S.E., M.A.P membagikan perjalanan hidupnya mulai dari remaja hingga meraih posisi tertinggi di Angkatan Laut Republik Indonesia.

Judul : Kasal Kedua dari Tanah Pasundan
Penulis : Ade Supandi S.E., M.A.P.
Editor : S.S. Budi Rahardjo, M.M.
Penerbit : Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal)
Tahun Terbit : 2018
Tebal : 364 halaman

—-

PENGALAMAN hidup setiap orang dipengaruhi oleh faktor lingkungan di sekelilingnya.

Pengalaman itulah yang kemudian membentuk karakter setiap orang dalam menjalani berbagai peran kehidupan.

Setiap orang pun memiliki kisahnya sendiri, begitu juga dengan hari-hari penting yang akan dimaknai dan dikenang sepanjang hidupnya.

Ada banyak pelajaran hidup yang dapat dibagi untuk anak cucu sebagai pandu untuk menghadapi masa depan yang tentu tidak lebih mudah.

Inilah yang mendorong Laksamana TNI (Purn) Ade Supandi, S.E, M.A.P. untuk menyusun buku biografi.

Ade merekonstruksi apa yang terjadi mulai dari saat lahir dalam pengasuhan dan bimbingan orang tua, lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat, lingkungan kerja, hingga perjalanan hidupnya saat ini.

Buku ini diawali dari kisah kelahirannya di daerah Batujajar Bandung.

Di sanalah dia tumbuh dan berkembang di tengah keluarga yang bersahaja. Kedua orang tuanya, H Udjer Djauhari dan Hj Djuariah, berprofesi sebagai pengusaha kulit.

Orang tuanya mengajari Ade tentang pentingnya rasa tanggung jawab, kemandirian, dan disiplin. Jadi, sikap positif itu memang sudah tertanam
sejak kecil.

Jenjang pendidikannya diawali dari pendidikan dasar di SD Negeri Galanggang III Batujajar pada 1972. Dia kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri Batujajar (1976), dan SMA Negeri Cimahi (1979).

Di kelas III SMAN inilah mulai jatuh hati dengan militer.

Pilihan hatinya itu bermula saat salah seorang alumnus mempromosikan Akademi Angkatan Laut (AAL) di sekolahnya. Sudah suratan takdir, Ade kemudian memilih menjadi prajurit TNI untuk masa depannya.

Lulus SMA, Ade melanjutkan karier di dunia militer yang dirintis melalui AKABRI Bagian Laut Angkatan ke-28 pada 1983.

Ade mengisahkan periode awal kariernya sebagai seorang prajurit.

Selain berkisah tentang pengalaman pribadi, Ade juga memutar kembali kenangan tentang rekan-rekannya dan kehidupan yang unik di atas kapal perang.

Ade juga membuktikan pepatah Barat ‘Joint the Navy to see the World’. Dengan bergabung di Angkatan Laut, Ade menjelajahi Nusantara dan mengunjungi puluhan negara di dunia.

Di balik sosoknya yang low profile, Ade Supandi ternyata merupakan tipikal putra Pasundan yang tidak ‘Kumeok Samemeh Dipacok’ (kalah sebelum
bertempur).

Dia mewarisi jiwa petarung para pejuang Sunda yang dengan kebersahajaan dan kesetiaannya pada tradisi dan kearifan lokal mampu bertahan.

Meski lahir sebagai ‘anak kampung, Ade juga kompetitif dalam arus persaingan global.

Tidak banyak yang menduga bahwa kelak sosok pria dari pinggir Kali Citarum, yang dididik dengan sentuhan agama yang kuat dari kedua orang tuanya ini, mampu melesat mencapai puncak karier sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) ke-25 pada 31 Desember 2014.

Di bagian akhir bukunya, Ade menampilkan kesan terhadap dirinya di mata kolega dan keluarga. Ade juga melampirkan berbagai penghargaan dari angkatan laut negara sahabat.

Buku ini melihat jejak kehidupan dari sudut pelaku sejarahnya sehingga diharapkan dapat lebih memahami dinamika kehidupan secara lebih mendalam.

Jejak langkah Ade Supandi meniti jalan kehidupan menjadi cermin untuk refleksi diri.

Ada banyak warisan, cerita, dan fakta dalam jejak perjalanan hidup dan kariernya. Semua itu dituangkannya ke dalam biografi ini untuk menjadi inspirasi buat siapa saja yang membacanya.

baca juga: Buku Biography KASAL Siap Dicetak Ulang

Translate »
%d blogger menyukai ini: