Majalah Eksekutif

Denim Atau Jins

450Views

Eksekutif.id — Jins memang merupakan personifikasi dari Amerika. Namun, sejatinya jins berasal dari Eropa. Titik mula jins berasal dari bahan denim.

Diilhami kebutuhan pakaian pekerja tambang emas yang mendambakan bahan yang kuat, tidak mudah kusut, dan tahan air, terciptalah celana waist overall, cikal bakal dari blue jeans.

Lantas, dari mana sebetulnya denim?

Sejumlah pendapat tentang asal muasal denim memang cukup beragam. Pendapat yang sahih dan dijadikan patokan sejarawan maupun penulis fashion menyebutkan bahwa denim berasal dari Prancis.

Dari berbagai referensi yang dipakai para ahli bahasa disepakati bahwa “denim” adalah sebuah kata Inggris yang disadur dari frase Prancis, “serge de Nimes”. Yaitu, sebuah pabrik atau pembuat tekstil di salah satu kota di Prancis bernama Nimes.

Tapi, sejumlah ahli lainnya agak meragukan penjelasan itu. Memang benar “serge de Nimes” atau pabrik di Nimes telah ada di Prancis sejak abad ke-17.

Namun, selain Nimes, pada waktu bersamaan ada pabrik tekstil lainnya di Prancis yang memproduksi bahan yang sama bernama “nim”.

Sebutannya bukan “serge de Nimes”, tapi “serge de nim”.

Pada akhirnya, publik lebih suka menggunakan kata singkat “de nim”, dan dilafalkan menjadi “denim”.

Pendapat lainnya mengatakan, denim telah dikenal di Inggris sebelum akhir abad ke-17. Lalu, muncul pertanyaan: apakah pabrik pembuat denim di Inggris mengadopsi sebutan denim dari Prancis, atau kebetulan saja namanya sama.

Yang pasti, menurut beberapa pendapat ahli setempat, busana itu asli buatan negaranya, dan bukan Nimes, Prancis.

Di Italia, ada pula sebuah pabrik yang memproduksi bahan tekstil yang sangat kuat. Sejumlah riset mengindikasikan bahwa bahan yang dibuat dari campuran katun, linen, dan wol itu diproduksi di Genoa, Italia. Mereka menyebutnya jins. Pelaut Genoa menggunakannya untuk kebutuhan layar maupun pakaian.

Jins lalu populer dan masuk ke Inggris dalam jumlah yang besar pada abad ke-16. Di akhir periode abad itu, jins diproduksi di Lanchashire, Inggris. Dan pada abad 18, jins diproduksi khusus untuk busana pria, terutama kaum pekerja, karena memiliki daya tahan meski dicuci beberapa kali.

Kendati begitu, di Eropa denim lebih populer, karena dianggap lebih kuat dan lebih murah daripada jins. Itu berarti ada dua pabrik tekstil yang berbeda, yaitu denim yang dibuat dalam satu benang berwarna dan satu benang putih, sedangkan jins ditenun dari dua warna dari warna yang sama.

Denim sampai di Amerika di akhir abad ke-18 dan mulai diproduksi dalam skala kecil. Kebanyakan pemiliknya adalah imigran asal Inggris. Pada mulanya, yang berdiri adalah pabrik pembuat katun yang merupakan komponen utama untuk denim.

Lalu, berdiri beberapa pabrik di negara bagian Massachusetts, yang khusus memproduksi denim dan jins. Presiden pertama Amerika, President George Washington, sempat melakukan kunjungan ke sebuah pabrik pada 1789 untuk melihat mesin pembuat denim.

Setelah itu, sebuah surat kabar di Rhode Island, untuk pertama kalinya mencantumkan kata denim dalam sebuah laporannya, yang mengatakan bahwa denim telah diproduksi oleh beberapa pabrik.

Tentang perbedaan denim dan jins dipertegas dalam sebuah buku berjudul The Weavers Draft Book and Clothiers Assistant yang diterbitkan pada 1792, yang berisikan teknik dan sejumlah metode dari pembuatan denim. Jins, disebutkan, merupakan bagian dari denim, namun pembuatannya berbeda.

Sebuah riset juga menunjukan, di Amerika, pada abad ke-19, jins dan denim dibuat dalam dua pabrik yang berbeda, dan dengan cara yang berbeda pula. Sebuah iklan, misalnya, menunjukkan perbedaan kalangan pekerja pria dalam penggunaan jins dan denim.

Para teknisi dan pelukis umumnya menggunakan pakaian yang terbuat dari denim biru. Sedangkan pekerja pada umumnya lebih banyak memesan kepada penjahit untuk dibuatkan celana jins.

Blue jeans mulai diproduksi pada 1873 oleh Levi Strauss. Celana itu terbuat dari denim berbahan utama katun (100%) dan denim premium. Denim itu kemudian dicelupkan warna biru indigo. Bahan itu sendiri didatangkan dari Amoskeag Mill, di Manchester, New Hampshire.

Di masa sekarang, variasi denim cukup beragam. Ada yang membuatnya dengan kreasi klasik, berpayet, hingga yang berwarna pudar sebagian dengan kontras yang tajam. Bahkan, denim kini dikreasikan pula dengan serat likra sehingga sangat nyaman dipakai.

Selama dua abad lebih, denim telah memberikan sumbangan terbesar bagi perkembangan dunia mode. Dan selama itu pula, denim banyak memberikan inspirasi seluas-luasnya bagi para perancang. Inilah satu-satunya produk garmen yang mampu menembus batas kelas, gender, usia, regional, dan bahkan ideologi.

Bagaimana dengan Anda?

Tinggalkan Balasan

Translate ยป
Lewat ke baris perkakas