Majalah Eksekutif

Deputi Pencegahan Laksanakan Kegiatan Sampai Garis Terdepan Pelosok Papua

131Views

EKSEKUTIF.id — “Di pencegahan narkoba ini, kita harus banyak inovasi.  Karena kejahatan narkoba juga terus berkembang dan kompleks,” ujar Irjen Pol. Drs. Anjan Pramuka, Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN).

Bukan dalam rangka rilis atau refleksi akhir tahun, tapi  ini hanyalah sekedar obrolan santai dengan  beberapa Pimpinan Media Digital Indonesia.

Anjan Pramuka menjelaskan, bahwa kerja Deputi Pencegahan dan jajaran BNN mengantisipasi agar desa cegah narkoba hingga ke pedesaan dan kawasan terujung dan titik-titik terluar bangsa ini.

Di perkotaan menjelaskan mengenai bahaya narkoba ke kalangan milenial, juga  merangkul  siapa saja yang peduli dalam setiap upaya sosialisasi gerakan anti Narkoba, hingga ke basis massa semua lini.

Polisi berbintang dua itu menjelaskan, bahwa BNN selalu sinergi dengan pelbagai komponen di masyarakat.  Ada sekitar  25 relawan di masing-masing provinsi yang  sudah disaring dan kini dibina oleh BNN.

“Mereka secara ikhlas bekerja dan bekerja dengan rekam juang yang tinggi, khusus cegah di bidang narkoba pedesaan hingga pelosok ujung bangsa ini,” ujar Anjan, dengan bangga.

Relawan yang terdiri dari pelbagai unsur masyarakat dibentuk di desa, kabupaten, untuk sementara ada di empat provinsi.  Menjadi konsen BNN adalah daerah-daerah yang terluar dan terdepan, semacam Aceh, Sumut dan Papua Barat.

Lewat program Desa Bersih Narkoba (Bersinar) melibatkan tiga pilar yaitu TNI (Babinsa), Polri (Bhabinkamtibmas), dan pemerintah daerah (kepala desa, lurah, dan puskesmas).  “Kami juga melibatkan tokoh agama dan petinggi ormas, kami asesmen,” ujar Anjan.

Relawan-relawan anti narkoba itu dilatih, diberi pemahaman, kemudian diberi penugasan.  Dengan Siparel (sistem pelaporan relawan), menggunakan gadget, aplikasi dengan target satu bulan minimal 15 kali kegiatan.

“Mereka menjadi ujung tombak dalam mencegah dan memberantas peredaran narkotika yang sudah sangat memprihatinkan,” Anjan, yang menyebut program Rean (rumah edikasi anti narkoba) sudah berjalan baik dan terus dikembangkan.

Dalam rencana ke depan, di era digital, BNN juga dalam sebuah pemikiran untuk membuat aplikasi  penyuluhan anti narkoba dengan sistem seperti gojek, dengan aplikasi digital yang kekinian.

Jika ada pihak yang meminta penyuluhan, jaringan dari BNN  bisa mengirim panduan, siapa yang terdekat untuk memberi penyuluhan.  Kalau penyuluhannya bagus, masyarakat juga tinggal kasih bintang, seperti dalam sistem pemesanan transportasi yang memiliki bintang satu hingga berapa bintang, sesuai kepuasan pelanggan.

“Dalam minggu ini, BNN juga bersinergi dengan Kemendikbud, kerjasama pemahaman narkoba lewat digital. Sama halnya dengan Kementerian agama,  mengenai intervensi pencegahan narkoba berbasis agama, dengan enam agama,” tutur Anjan.

Masih menurut Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional (BNN) ini, modul ketahanan keluarga,  dipadu dengan kearifan lokal, termasuk pembelajaran advokasi menjadi langkah penceganan BNN, saat ini.

Tak hanya di kota besar dan desa, tapi Badan Narkotika Nasional terjun hingga mengedukasi relawan anti narkoba, orang-orang pedalaman.  BNN hadir di semua lini, sampai ke Papua.

“Keluarga merupakan faktor penting dalam menumbuhkan ketahanan diri terhadap penyalahgunaan narkoba,” ujar Anjan tentang pengasuhan orangtua yang demokratis, serta hubungan yang hangat pada  remaja untuk memiliki ketahanan diri yang tinggi.

 

MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -
redaksi
the authorredaksi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
%d blogger menyukai ini: