BERBISNIS

DWI IKRAR SIDI : Pegawai BUMN yang Sukses Mempersiapkan Masa Pensiun – Menjadi Peternak Sapi

394Views
MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

 

Mempersiapkan masa pensiun bisa dilakukan dengan berbagai cara. Bisa dengan menabung, menyiapkan berbisnis atau hanya menikmati masa pensiun dengan kegiatan non bisnis. Pada kebanyakan orang, masa pensiun hanya digunakan untuk menikmatinya tanpa usaha produktif, sehingga uang pensiun habis begitu saja tanpa berkesan dan lebih bermanfaat.

Akan tetapi tentu kita menginginkan masa pensiun tersebut kita gunakan dengan kegiatan yang lebih bermanfaat  dan lebih produktif, sambil kita juga tetep bisa menikmati masa pensiun dengan nyaman. Untuk bisa seperti itu tentu kita harus mempersiapkannya dengan matang. Baik persiapan dari segi mental, persiapan program atau bisnis yang akan digelutinya.

Seperti halnya pengalaman yang telah dilakukan oleh  Dwi Ikrar Sidi, sang pengusaha sapi ENDE di Sawangan Depok – Jabar. Mulanya Dwi  atau Endis  begitu biasa sapa, adalah seorang pegawai bank plat merah. Beberapa tahun menjelang  masa pensiun, Dwi  bertekad untuk  memasuki masa pensiun dengan menjadi pengusaha ternak.

Dibekali dengan kegemaran atau hobinya memelihara ternak sejak SMA, Dwi pun memulai mempersiapkan masa pensiunnya dengan memulai usaha ternak. Bermula dari ternak bebek,Dwipun mencoba peruntungannya. Namun rupanya usaha ternak bebek tersebut belum membuahkan hasil. Pasalnya, uasaha yang dibangun dengan berpartner bersama temannya tersebut ternyata merugi dan akhirnya bangkrut.

“ Dari segi itung-itungan bisnis,  usaha bebek ini sebenarnya menghasilkan, namun rupanya partner saya kurang bisa dipercaya, sehingga pakan ternak yang seharusnya untuk ternak, ternyata akhirnya ketahuan banyak dijual,” ungkap   Dwi mengenang bisnis bebeknya, saat bincang-bincang di Kandang Sapi ENDE, di daerah Sawangan Depok, beberapa waktu lalu.

Bagi Dwi, hal itu rupanya menjadi cambuk dan pengalaman sangat berharga  dan berbiaya  mahal.  “ Ya itu merupakan biaya untuk belajar berbisnis,” ujar Dwi dengan lapang dada. Pengalaman tersebut tidak membuat Dwi putus asa, malah justru membuat Dwi bangkit dan lebih berhat-hati.

Dwi kembali membangun bisnisnys dengan usaha peternakan domba di kawasan Kelapa Dua Depok. Usaha domba ini menurut Dwi  sangat menguntungkan. Namun ketika mau pindah ke tempat baru  di Sawangan Depok, rupaya menurut pertimbangan  kurang aman. Pasalnya merurut warga setempat, kalau domba  seringkali banyak dicuri orang. Akhirnya  usaha  domba tersebut  diganti dengan  sapi yang menurut pertimbangan lebih aman.

Akhirnya Dwi memutuskan untuk berlalih ke peternakan sapi. Mulanya Dwi tertarik dengan berpartner  dengan peternak sapi  setempat  dan  hanya memelihara dua ekor sapi. Dwi menawarkan pada orang tersebut untuk bekerjasama memelihara sapi miliknya.

Bermula dari dua ekor sapi yang dipelihara bersama orang tersebut, akhirnya Dwi pun banyak belajar dan terjun langsung untuk memeliharanya, mulai dari mengurus sapi, membersihkannya, memberi makan dan sebagainya, yang  semua itu  dilakukan selepas pulang kerja.

Seiring dengan waktu, Dwi pun banyak belajar bagaimana cara menjadi peternak sapi yang baik, mulai dari pepeliharaan dan perawatan  sapi, pemilihan sapi unggul, penggemukan sapi dan usaha pembibitan sapi yang baik.

“Karena saya dasarnya hobby peternakan, jadi saya sudah sangat senang sekali bila melihat ternak saya itu sehat dan gemuk,” ungkap Dwi saat pertama melihat dua ekor sapi pertamanya terlihat sehat.

“Waktu itu saya belum memikirkan keuntungan bisnisnya, pokoknya melihat ternak tersebut sehat saya sudah bangga sekali,” tambahnya.

Terlebih lagi menurut Dwi, ternyata sapi ternaknya bisa terjual dengan harga yang waktu itu sangat menguntungkan. Betapa tidak, waktu itu menurut Dwi harga belinya cuma 5 jutaan, ternyata bisa terjual hingga 18 juta.  “ Wah rasanya saya sangat senang sekali, lihat sapi sehat saja sudah senang, terlebih setelah dijual ternyata harganya juga bagus sekali,” kenang Dwi saat mengenang penjualan sapi pertamanya.

Sejak saat itu Dwi kemudian lebih tertarik lagi untuk mengembangkan usaha peternakan sapinya. Dwi mulai mencari  lahan untuk kandang sendiri, kemudian memanmbah jumlah sapinya dan kemudian menambah jumlah pegawainya yang dipercaya. Untuk pegawainya, Dwi mengambil dari saudara-saudara dan keluarga pegawai pertamanya. Tujuannnya agar lebih merasa memiliki dan bertanggung jawab serta lebih bisa dipercaya.

Perkembangan bisnis usaha peternakan sapi yang diberi nama ENDE Farm ini rupanya telah menemukan cara dan strategi yang pas sehingga dapat berkembang cukup pesat. Betapa tidak, perkembangan ENDE Farm ini terbilang pertumbuhannnya sangat bagus. Bermuala dari 2 ekor sapi, kemuadian bertambah jadi 6 ekor, bertambah jadi 12  ekor, bertambah jadi 30 ekor, bertambah jadi 50 ekor, jadi 75 ekor dan saat inin sudah mencapai 100 ekor lebih.

Sementara untuk kisaran harganya usaha  penggemukan sapi ini sangat bervariatif. Ada yang belinya Rp. 16 juta setelah melalui proses penggemukan selama 4-6 bulan dijual dengan harga Rp. 23 juta. Bahkan menurut Dwi kalau kebetulan dapet bibit yang sangat bagus dan proses penggemukannya cocok, bisa terjual dengan harga Rp. 35 juta.

“  Ya rata-rata sih tingkat  keuntungan usaha penggemukan sapi ini berada dikisaran 30%, dalam waktu 4 bulanan,” ujar Dwi menjelaskan.

Begitu juga variasi usaha peternakannya, yang tadinya hanya pemeliharaan dan penggemukan, saat ini sudah ada juga usaha pembibitan sapi. Namun itu semua tentu di capai dengan kerja keras dan bersungguh-sungguh.

Untuk mencapai itu semua, menurut Dwi, ternyata kuncinya harus fokus, bersungguh-sungguh dan harus terjun langsung.  “ Sewaktu masih bekerja, beberapa tahun sebelum pensiun, saya sudah mulai merintis bisnis dengan terjun langsung. Selepas kerja saya langsung ke kandang, saya kontrol semuanya, mulai dari kerja pegawainya, keadaan ternaknya dan proses pekerjaan  lainnya,” ujar Dwi.

“Terkadang  saya sampai jam 11 malem baru bisa pulang ke rumah,” tambah Dwi mengenang.

Yang penting menurut Dwi adalah bagaimana memanej dan memperhatikan para pekerjanya, mungkin ada keluhan atau masalah, baik masalah pekerjaan ataupun masalah  yang lainnya. Hal itu menurut Dwi agar pekerja-pekerja tersebut merasa nyaman dan diperhatikan yang pada akhirnya pekerja itu menjadi betah dan bertanggung jawab atas pekerjaannya.

Terlebih lagi setelah Dwi memasuki masa pensiun satu tahun lalu. “Sehari-hari saya tetep ke kandang, meski sebenarnya, hal itu bisa ditinggal. Dengan saya tiap hari ke kandang saya akan selalu fokus untuk memikirkan dan mengembangkan usaha peternakan ini. Mulai dari proses produksi hingga proses pemasaran dan penjualan serta memikirkan bagaimana pengembangan bisnisnya,” papar Dwi berteori.

Dwi meyakini bisnis yang digelutinya harus dilakukan dengan fokus agar bisa bertahan dan berkembang terus. Menurutnya, berdasarkan teori kalau bisnis yang sudah mempunyai sistem tingkat keberhasilannnya bisa mencapai 80% dan 20% nya yang gagal. Sementara bisnis rintisan, sebaliknya. Selama lima tahun pertama 80% akan gagal dan yang 20 % bisa survife.

Oleh karena itu untuk lebih fokus lagi setelah pensiun, Dwi terjun secara total untuk mengurusi bisnisnya. Sehari-harinya Dwi selalu bertandang ke kandang sapi tersebut hingga larut malam. “Ya sebenarnya sih bisa ditinggal juga, namun saya ingin lebih banyak mendidik dan memotivasi para pegawai saya agar lebih fokus dan produktif,” ujar Dwi.

Selain itu menurut Dwi, dengan setiap hari ke kandang, dia merasa lebih merasa tenang dan lebih fokus untuk selalu berupaya dan berfikir untuk mengembangkan bisnis tersebut agar lebih berkembang dan produktif.

Meski demikian Dwi tidak bisa bekerja sendiri untuk mengurus peternakan tersebut. Dwi di bantu oleh tenaga ahli dari Dinas Peternakan  dan tenaga ahli S2 dari IPB yang kebetulan adalah anaknya sendiri, Pras.

“Alhamdulilah saat ini saya sudah mempunyai tenaga ahli selain dari pihak Dinas Peternakan, saya juga dibantu dari tenaga ahli dari IPB, kebetulan anak saya sendiri,” ujar Dwi dengan merasa lega. “ Anak saya kebetulan S2 bidang peternakan dari IPB jadi yang cocok sekali untuk pekerjaan di peternakan ini,” tambahnya.

 

“Jadi yang ngurusi bagaimana proses pemilihan bibit sapi unggul itu ya anak saya, itu pekerjaannya. Sehingga di ENDE Farm ini terkenal dengan kualitas sapinya yang bagus. Karena kami mampu memilih bibit sapi yang berkualitas,  baik untuk penggemukan ( sapi potong /  sebagai hewan  Qurban ) atapun untuk sapi pembibitan,” jelas Dwi setengah promosi.

Sealin itu, menurut Dwi, di ENDE Farm  masalah kesehatan  ternak sangat  diperhatikan. “ Di sini pemeriksaan ternak dilakukan secara rutin oleh tenaga ahli  dari Dinas Peternakan , “ jelasnya.

Semenatara itu pada kesempatan yang sama,  Pras memberikan tips untuk memilih bibit sapi berkualitas. Menurut Pras, ada beberapa unsur yang harus diperhatikan, diantaranya adalah jenis sapi berasal dari bibit unggul, tampilan postur yang tinggi dan besar serta tentu sehat. “Kalau hal itu terpenuhi dan ditambah  proses penggemukan yang  tepat  maka akan menghasilkan sapi yang gemuk dan berkualitas,” jelas Pras, saat mendampingi ayahnya di Kandang ENDE Farm.

Bahkan menurut Pras, soal sapi kurus ga masalah, yang penting sehat dan kerangkanya bagus tinggi besar.  Itu yang di cari, “ kata Prass.  “ Tinggal bagaimana proses penggemukannya aja yang pas, maka akan menghasilkan sapi yang punya postur dan tonggrongan yang menarik,” jelas Prass membeberkan trik proses penggemukan sapi.

“ Kalau membeli sapi yang kurus kan harganya lebih miring gitu, nah soal postur atau tonggkrongan itu penring sekali. Karena ketika orang mau beli, postur tersebut yang akan dipertimbangkan lebih dulu,” jelasnya. Terlebih lagi menurut Pras, di ENDE Farm,  selain kualitas produk yang bagus, harga juga sangat kompetitif.

Selain mempunyai teknik dan strategi proses penggemukan yang bagus,  ENDE Farm juga punya teknik yang jitu untuk proses pembibitan. Tanpa menyebut tekniknya secara detil, namun ENDE Farm, punya cara khusus untuk proses inseminasi buatan, sehingga proses pembuahannya bisa lebih tepat. “Dengan teknik tersebut, menurut Pras,  kemungkinan terjadinya kehamilan akan lebih besar. Sehingga proses pembibitan jadi lebih produktif,” jelasnya.

“ Saya punya bibit ( sapi anakan ) semuanya sudah ada yang pesen, bahkan dengan harga yang bagus,” ujar Dwi sambil menunjukan beberapa anakan sapi yang baru lahir beberapa bulan.

Terkait dengan usaha peternakan, Pras berharap agar pemerintah bisa mendukung usaha penernakan rakyat dengan membuat suatu kebijakan tentang kawasan peternakan atau kampung khusus peternakan yang aman dari uapaya penggusuran.

“Saya berharap pemerintah punya solusi akan adanya kawasan atau daerah khusus peternakan yang tidak terganggu dengan pengembangan bisnis properti atau pengembangan lainnya. Biar peternak merasa aman, tidak takut tergusur atau dipermasalahkan oleh pihak-pihak lain,” ungkap Pras berharap.

Mengembangkan Usaha

Seiring dengan berkembangnya bisnis peternakan,  Dwi terus berupaya untuk mengembangkan usahanya. Seperti yang terkait dengan banyaknya biaya pakan ternak, Dwi akhirnya mengembangkan bisnisnya dengan membangun pabrik tahu. Awalnya bermaksud untuk memudahkan dan memenuhi kebutuhan ampas tahu yang menjadi salah satu variasi pakan ternaknya.

Namun ternyata, bisnis industri tahunya berkembang bagus, dan akhirnya kebutuhan pakan ternak yang dari ampas tahu sangat tercukupi dan bahkan juga dijual ke peternak lainnya.

“ Alhamdulilah dengan adanya pabrik tahu ini kebutuhan ampas tahu jadi tercukupi dan ga harus beli bahkan akhirnya berlebih dan dijual ke peternak lain,” kata Dwi sambil bersyukur.

Untuk bisnis pabrik tahunya ini, Dwi mampu menghabiskan kedelainya tak kurang dari 1 ton setiap harinya. Untuk mengurusi bisnis ini Dwi terpaksa harus berpartener dengan pihak lain. Namun tentu dengan skema kerjasama yang sangat aman. Hal itu dilakukan karena pengalaman Dwi berbisnis ternak bebek sebelumnya.

Tak hanya sampai disitu, ternyata naluri bisnis Dwi juga terus berkembang. Dwi juga melirik bisnis lainya, seperti usaha  jasa penitipan sepeda motor di area deket stasiun kereta Depok. Dengan bendera ND, yang berlokasi di areal belakang stasiun Depok, Dwi mampu menggaet pelanggannya tak kurang dari  200 motor setiap harinya, dengan tarif  Rp. 5000 per motor.

“ Alhamdulihan dengan usaha jasa penitipan motor ini, uang pensiun saya bisa tergantikan,” ujar Dwi berseloroh.

Selain itu Dwi juga mempunyai usaha bidang properti seperti  rumah sewa dan kontrakan di beberapa kota seperti di Karawang dan Cirebon.

Usaha Dwi membangun bisnisnya tentu tak berhenti sampai disitu saja. Dwi masih terus bermimpi untuk membangun bisnisnya yang lebih besar lagi bersama putra mahkotanya Pras.

 

MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
%d blogger menyukai ini: