Etika Berinternet Meredam Konten Negatif Beredar di Internet

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA,- Etika berinternet atau disebut netiket menjadi hal paling dasar dalam tata krama menggunakan internet. Saat online individu harus menyadari bahwa sedang berinteraksi dengan manusia lain secara nyata dengan jaringan, bukan sekadar huruf-huruf di layar monitor namun dengan karakter manusia sesungguhnya.

Zaka Vikryan, Ketua KIPP Kabupaten Kuningan mengatakan, berbagai konten negatif seperti hoaks atau berita palsu memiliki dampak dalam hubungan sosial masyarakat, seperti disharmoniasi, disintegrasi, dan chaos. “Konten negatif yang membarengi perkembangan dunia digital menyasar para pengguna internet. Konten negatif muncul karena motivasi-motivasi pembuatnya, yang memiliki berbagai kepentingan. Ekonomi, politik, dan memecah belah masyarakat,” kata, saat webinar Literasi Digital Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, pada Selasa (12/10/2021).

Untuk menghindari hal tersebut masyarakat di era digital harus memiliki kemampuan dalam beretika di internet yang ditunjang beberapa kompetensi seperti menyeleksi suatu informasi sesuai etiket, memverifikasi suatu berita terlebih dahulu untuk mengetahui suatu kebenaran. Selanjutnya kompetensi berpartisipasi kolaborasi dalam ruang digital yaitu berbagi dan saling berkomunikasi dengan pengguna lainnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, untuk menyeleksi perilaku yang beretika di internet maka setiap individu haruslah menyadari keberadaan orang lain di dunia maya. Taat terhadap standar perilaku online yang sama dengan yang kita jalani di dunia nyata. Tidak melakukan hal-hal yang dapat merugikan pengguna internet lainnya, membentuk citra diri positif, menghormati privasi orang lain, hingga pada mengakses hal-hal yang baik dan bersifat tidak dilarang.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber lainnya seperti Henry V Herlambang, CMO Kadobox, Daniel Hermansyah, CEO Kopi Chuseyo, Rino, Kaprodi Teknik Informatika Universitas Buddhi Dharma, dan Riri Damayanti, seorang Digital Creator.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 3 kali dilihat,  3 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *