Etika Komunikasi Digital Harus Dilandasi Pancasila

  • Whatsapp


Eksekutif.com – Dua karakter media digital yang menyebabkan kesulitan beretika yaitu konvergensi media digital yang memungkinkan diversifikasi teknologi dalam satu gawai kombinasi baru dalam kemungkinan dan keterjangkauan.

Kedua perkembangan TIK dalam bentuk internet dan World wide web menghubungkan 25 persen populasi dunia atau apabila ditambah dengan ledakan smartphone maka mencapai 4 miliar orang atau hampir 60% populasi dunia.

Etika komunikasi antarbudaya pun menjadi semakin hadir dalam interaksi keseharian ditambah dengan karakter yang khas dari digitalisasi yaitu tanpa wujud. Komunikasi digital memiliki teori komunikasi sendiri karena menggunakan teks sehingga mudah sekali terjadi kesalahpahaman.

Al Akbar Rahmadillah Founder Sobat Cyber mengatakan, berkomunikasi di ruang digital untuk melakukan chatting harus lengkap dengan tanda baca atau sebuah kalimat yang utuh. Sama juga seperti saat kita di dunia nyata ketika berbicara dengan orang yang lebih tua dibutuhkan bahasa yang lebih sopan. Dalam komunikasi digital pun sebaiknya dapat melakukan hal yang sama ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih tua.

“Apalagi kalau kita ingin mengoreksi mereka. Sering terjadi di grup WhatsApp keluarga informasi hoaks yang dikirimkan oleh anggota keluarga yang lebih tua. Sebaiknya, kita dapat lebih sopan bisa mengirimkan pesan pribadi dan mengoreksi informasi dengan kata kata sopan. Jangan lupa untuk menambahkan informasi yang sebenarnya atau klarifikasi dari hoaks tersebut,” jelas Akbar saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (22/7/2021).

Begitupun di media sosial yang lebih luas jangkauannya akan semakin banyak orang yang melihat dari beragam usia. Sehingga kesopanan itu harus tetap dijaga. Maka, harus selalu diingat, pentingnya menjadikan Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara tetapi prinsip keadaban hidup bersama.

Pancasila sebagai sistem politik, ideologi bangsa, norma dasar, filsafat dasar dan pandangan hidup. Setelah memiliki etika dalam media interaksi digital. Kita juga harus memiliki critical thinking atau berpikir kritis.

“Jika tidak, kita tidak bisa menyelamatkan orang sekeliling dan kita sendiri. Karena kita tidak bisa menganalisa informasi yang datang itu benar,” ungkapnya.

Seperti yang terjadi baru-baru ini, pernyataan hoaks dari salah seorang dokter, kita harus kritis sebab pernyataan dia bukan sebuah pernyataan umum. Kita harus mencari informasi dari dokter lain, mencari pendapat yang lebih banyak lalu menyimpulkan. Sehingga kita bisa menyelamatkan keluarga kita. Miris, jika percaya hoaks malah nyawa melayang seperti yang kini banyak terjadi.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (22/7/2021) juga menghadirkan pembicara Littani Wattimena (Brand & Communication Strategist), Muhammad Miftahun Nadzir, (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Taufik Aulia (Penulis dan Kreator Konten), Aflahandita sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 4 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *