Fenomena Pergeseran Bahasa di Dunia Digital Membahayakan

  • Whatsapp


JAKARTA,– Data pengguna internet Indonesia selalu naik setiap tahunnya, pada 2020 saja terjadi kenaikan pengguna sebesar 196 juta yang aktif.

Jumlah tersebut diketahui meningkat sebanyak 8,9 persen. Namun sayangnya peningkatan masyarakat yang melek digital ini tak diiringi dengan minat baca yang tinggi.

Menurut laporan UNESCO saja minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% artinya dari 1000 orang hanya 1 saja yang rajin membaca.

“Satu sisi teknologinya digencarkan tapi ada penurunan standar etika, bahasa dan budaya. Memang ini tidak berdampak langsung tapi dalam jangka panjang akan menggeserkan persepsi budaya dan mengurangi jati diri bangsa kita,” ujar Muhammad Arifin, Kabid Komunikasi Publik Relawan TIK Indonesia, saat webinar Literasi Digital wilayah Jawa Barat I, Bandung Barat, Selasa (16/6/2021).

Menurutnya, fenomena tadi telah mengubah pola komunikasi secara menyeluruh. Sebelumnya komunikasi terjadi secara konvensional, lalu menjadi komunikasi daring atau data jaringan seperti lewat email.

“Pergeseran bahasa sudah dimulai saat ini, banyak penggunaan kata yang sebenarnya tidak paham namun hanya ikut-ikutan saja,” ujarnya Arifin lagi.

Fenomena penggunaan bahasa di dunia digital ini mengancam dan menjadi gerbang pintu hilangnya jati diri bangsa, sebabnya literasi digital diperlukan.

Ada empat hal yang tidak bisa terpisahkan dari literasi digital, di antaranya bahasa, digital, etika, dan komunikasi.

Komunikasi utuh yang konvensional setidaknya melibatkan tiga hal yaitu bahasa tubuh berupa gesture, mimik wajah. Sementara suara berupa intonasi dan tempo dan terakhir kata atau kalimat itu sendiri. Namun di internet ada keterbatasan terhadap tiga hal tersebut sehingga rentan untuk salah memaknai suatu komunikasi.

Arifin mengungkapkan, internet tidak bisa sepenuhnya menggantikan komunikasi langsung, walaupun misalnya dengan platform zoom agak mendekati karena terlihat visualisasi saat berbicara.

Ada kiat tersendiri dalam berkomunikasi, yakni dengan memahami jenis media sosial yang digunakan dan mengetahui tujuan, dengan siapa, dan kepada siapa komunikasi ditujukan.

“Kalau kita baik di dunia digital, maka kita baik di dunia nyata. Maka jaga bahasa dan budaya kita. Kalau bahasa tidak dijaga maka itu jadi pintu gerbang hilangnya jati diri kita,” tutur Arifin.

Webinar Literasi Digital wilayah Jawa Barat I, Kabupaten Bandung Barat kali ini menghadirkan pula nara sumber lainnya seperti Creative Concept and Director expert Planet Design Indonesia Oleg Sanchabachtiar, Pimpinan Ombudsman RI 2016-2021 Ninik Rahayu dan Pegiat Pemeriksa Fakta Depi Agung Setiawan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 134 kali dilihat,  134 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *