Majalah Eksekutif

Gathering Indonesia Blockchain Pioneers

Token Economy, Sisi Lain Indocomtech 2018

299Views
CEO majalah eksekutif bertukar informasi mengenai Bitcoin & Blockchain, termasuk Token Economy dengan sang pakar Indra Darmawan (CEO Lyfe).

Pameran Indocomtech 2018 bertema ‘Technology for Everyone’ sudah usai. Acaranya berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, selama lima hari (31 Oktober-4 November 2018).

Tak hanya memberi iming-iming gadget yang dijual dengan harga miring. Pada penyelenggaraan Indocomtech 2018 yang lalu, sudah 26 kali terselenggara setiap tahunnya itu, ada edukasi yang menarik untuk masyarakat umum.

Pameran itu semacam etalase perkembangan industri TIK nasional.

Yayasan APKOMINDO Indonesia bekerja sama dengan PT Traya Eksibisi Internasional (Traya Events) berhasil menghadirkan clearance sale hingga 90% berupa penjualan aksesoris dan peranti teknologi modern.

Digelar di area seluas di area seluas 17.000 meter persegi. Ajang ini diikuti 250 eksibitor dari bidang telekomunikasi, komputer, software, games, smartphone, produk elektronik, serta aksesoris.

Tiketnya Rp 20.000 per orang di Rabu – Jumat, sedangkan Sabtu dan Minggu, seharga Rp 30.000 per orang.

Menghadirkan tren-tren teknologi yang diprediksi akan berkembang di tahun 2019 di antaranya AI (Artificial Intelligence), VR (Virtual Reality), AR (Augmented Reality), IoT (Internet of Things), process automation, dan Blockchain.

Sejumlah brand teknologi ternama turut mendukung acara Indocomtech 2018, diantaranya ASUS, Epson, Sony Playstation, dan MSI. Ada juga V-Gen, HP, Dell, iBox, AMD, dan Oppo. Termasuk merek Vivo, Honor, Nokia, LG, dan Logitech. Juga Lenovo, Hitachi, Erafone, Megafon, Telesindo Shop, dan IT Galeri serta Blibli.com.

Yang menarik, sesungguhnya talk show mengenai blockchain.

Sebagai penyelenggara diskusi komunitas adalah Indodax dan Tokenomy, yang berlangsung pada 3 November 2018 dari pukul 10.00 – 18.00 WIB.

Tampil sebagai pembicara Hana Zhang (Daex Co-Founder), Jessie Fan (GxChain COO), Bo Zhang (Aurora Co-Founder & Global Market Executive) juga Lawrance Samantha (Honest Mining CEO).

Ada juga Oscar Darmawan (Indodax CEO) dan Indra Darmawan (Lyfe CEO) serta Dane Elliott (Achain International Business Director) dan Farina Situmorang (HARA MO). Tampil juga Danny Baskara (Vexanium CEO), Malcolm ( NEO Ecosystem and Growth Manager) juga Jacky Muliadi (Playgame CFO).

“Imej miring mengenai cryptocurrency perlu diterabas dengan literasi ke masyarakat, bila perlu mengedukasi agar semua pihak bisa memahami dengan benar,” ujar Denny, coach IT. Ia pemain bitcoin, yang bisa beli mobil dan membangun rumah karena cryptocurrency.

Dalam kenyataan sekarang ini, cryptocurrency tidak dikeluarkan oleh suatu negara. Perolehannya dilakukan melalui proses yang disebut minning.

Aktivitas transaksinya dilakukan antar pengguna yang telah terdaftar di bursa. Aktivitas cryptocurrency dilakukan secara pseudonymus, tidak mengenal atau dikenal satu dengan yang lain.

Identitas yang muncul adalah semacam kode tertentu. Berbeda dengan aktivitas keuangan umumnya, seperti perbankan, yang memunculkan identitas nama pemilik akun, alamat, dan lain-lain. Dengan demikian, sulit untuk mengenal sosok sebenarnya pemilik cryptocurrency.

Stigma Crypto

Saat ini memang cryptocurrency masih mendapat stigma buruk, karena suka dimanfaatkan pihak tertentu untuk melakukan kejahatan, seperti pemerasan dan pencucian uang.

“Karena ada contoh, penyebar virus ransomware beberapa waktu lalu menuntut tebusan dalam bentuk Bitcoin,” ujar Denny, pengamat blockchain yang juga pemain dari mata uang digital ini.

Denny memberi misal, yang dilakukan pelaku teror bom Alam Sutra. Muncul pula dugaan pendanaan teroris ISIS berasal dari cryptocurrency. Tindakan itu tidak terlepas dari karakter cryptocurrency yang tanpa identitas sehingga pergerakannya sulit dilacak.

Hal-hal semacam inilah, yang menurut Denny, perlunya pelaku cryptocurrency memberi literasi ke masyarakat, bahkan bila perlu mengedukasi.

Hingga saat ini, belum ada keseragaman negara-negara di dunia menyikapi cryptocurrency ini. Ada yang melarangnya secara tegas, membatasi, atau sebatas mengawasi.

Tidak mudah menghadapi arus inovasi teknologi keuangan ini. Keberadaanya muncul karena memang ada kemauan orang untuk menggunakannya. Untuk mengedukasi stigma negatif dari cryptocurrency.

Dalam talkshow yang berlangsung di Indocomtech itu, dibahas bagaimana cryptocurrency merupakan gambaran transaksi di masa depan.

Keuntungan dari proses desentralisasi, yang mempermudah transaksi lintas negara, dianggap dapat diarahkan pada hal-hal yang bermanfaat, misal pengiriman dana ke daerah konflik.

Masyarakat modern yang menginginkan segalanya serba praktis tentu memikirkan hal itu.

Saat ini pun, bank-bank sentral di dunia mulai melakukan penjajakan teknologi yang digunakan cryptocurrency antara lain sistem Distributed Ledger Technology dan Blockchain. Teknologi itu diperkirakan dapat meningkatkan efektivitas sistem keuangan di masa depan.

Bitcoin Trending topic

Akhir-akhir ini, masyarakat kita kerap mendengar kata ‘Bitcoin’ terucap dalam kehidupan sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri, mata uang digital Crypto saat ini sedang naik daun, baik di kalangan dunia finansial maupun masyarakat umum.

Sebagai sebuah sistem mata uang, Bitcoin berdiri atas teknologi Blockchain yang merupakan jaringan komputer yang tersebar dan mencatat setiap transaksi yang dilakukan setiap pemegang Bitcoin. Diciptakan pada tahun 2009, tepat setelah krisis keuangan melanda ekonomi Amerika Serikat.

Saat itu, jumlah hutang masyarakat AS mencapai tingkat tertinggi nya sepanjang masa. Buruknya penanganan terhadap hutang dan keserakahan institusi bank di Amerika meminjamkan kredit kepada masyarakat memicu pencipta Bitcoin yang dikenal dengan nama samaran ‘Satoshi Nakamoto’.

Hingga saat ini, belum diketahui siapa sosok Satoshi Nakamoto sesungguhnya.

Dengan sistem Blockchainnya, Bitcoin berdiri secara mandiri dan tersebar sebagai sistem pertukaran tanpa kendali dari satu pihak tunggal yang terpusat dan tanpa perantara / decentralized.

Bisa dibilang Satoshi menciptakan Bitcoin karena telah kehilangan kepercayaan pada Bank Sentral AS dalam menjaga sirkulasi mata uang dolar AS.

Tidak mungkin ada satu pihak yang memanipulasi data dan meningkatkan jumlah Bitcoin yang dimilikinya tanpa benar-benar membelinya, karena setiap perubahan data harus terjadi secara serentak sesuai transaksi sesungguhnya dan diakui di seluruh jaringan sistem Blockchain tersebut, yang merupakan sistem jaringan komputer yang tersebar diseluruh dunia.

Jaringan komputer tersebut adalah para ‘Penambang’ Bitcoin yang telah tergabung dalam sistem jaringan Blockchain. Setiap blok transaksi baru dibuat dengan cara memecahkan kalkulasi matematika yang rumit.

Bayangkan sebuah sistem mata uang yang berdiri sendiri tanpa perlu sebuah pihak tunggal yang mengatur, dimana tidak ada pihak di dalamnya yang dapat memanipulasi data karena semua pihak yang terdapat di dalam jaringan tersebut harus saling memverifikasi setiap transaksi.

Di dalam sistem Blockchain Bitcoin, tidak ada yang bisa berbuat curang dan memanipulasi data, dan sistem ini akan mendorong setiap pihak yang terlibat untuk mau tidak mau bertransaksi secara jujur.

Sistem Blockchain seperti ini bisa diterapkan untuk berbagai aspek kehidupan sosial dan bernegara kita, selain untuk mengatur sirkulasi dan transaksi mata uang.

Misalnya untuk mencatat pemakaian anggaran pembangunan negara; setiap aliran transaksi akan tercatat di sistem Blockchain dan terbuka secara umum sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat mengakses informasi kemana dana itu mengalir hingga ke nominal terkecilnya.

Informasi ini pun akan tersedia secara online langsung kepada masyarakat di sistem Blockchain tanpa manipulasi oleh pejabat korup terlebih dahulu.

Setiap pihak yang terlibat dan seluruh lapisan masyarakat dapat saling bantu mengawasi dan sama-sama menjaga integritas satu sama lain. Contoh lain adalah untuk mengawasi pemungutan suara dalam sebuah pemilihan umum kepala daerah.

Sistem Blockchain akan dengan sendiri nya mengawasi setiap pilihan suara yang dilakukan setiap warga sehingga tidak akan terjadi kecurangan.

Setiap suara pilihan yang terkumpul hingga proses rekapitulasi pengumpulannya dan penghitungan akhir nya akan termonitor dengan baik secara transparan dan dapat di monitor seluruh lapisan masyarakat secara langsung dan transparan tanpa campur tangan lembaga survei.

Cryptocurrency merupakan fenomena kehadiran teknologi yang tidak mudah dibendung,” ujar Indra Darmawan, CEO Life yang juga pemain pergerakan trend cryptocurrency.

Apalagi manfaat yang bisa kita rasakan dari penggunaan sistem Blockchain?

Kepemilikan properti, baik tanah maupun bangunan akan dapat tervalidasi dengan akurat bila pencatatannya dilakukan di atas sistem Blockchain. Tidak ada lagi masalah seperti sertifikat ganda atas properti yang dimiliki.

Begitu juga hal nya dengan hak kekayaan intelektual (HAKI) atas karya seni, misalnya. Konflik atas perebutan HAKI akan hilang karena setiap pengajuan akan tercatat di sistem dan tervalidasi secara transparan sesuai urutan kronologi pengajuannya.

Semua orang dapat berlaku sebagai pengawas bagi sistem Blockchain yang terbuka secara online tersebut. Saat ini ada sekitar 1.500 mata uang Crypto lainnya dengan kegunaan dan sistem Blockchain nya masing-masing.

Blockchain dapat menjadi solusi revolusioner yang dapat meningkatkan transparansi dan kualitas kehidupan kita.

Setiap dari kita akan makin terdorong untuk berperilaku jujur (karena tidak ada celah untuk kita dapat berbuat curang) karena setiap kita akan saling mengawasi di dunia Blockchain yang serba transparan.

Korupsi pun akan tereradikasi dengan sendirinya.

Blockchain sistem sama sekali tidak menyimpan saldo rekening pengguna. Blockchain sistem hanya mencatat setiap transaksi yang diminta. Untuk mengetahui saldo dari wallet, kita harus menganalisa dan memverifikasi semua transaksi pada network blockchain yang terhubung dengan wallet kita.

Tertarik?

baca juga: majalah eksekutif terbaru — klik ini

Sistem Blockchain seperti ini bisa diterapkan untuk berbagai aspek kehidupan sosial dan bernegara kita, selain untuk mengatur sirkulasi dan transaksi mata uang.

Tinggalkan Balasan

Translate »