Hidup di Dunia Digital Harus Sadar Etika

  • Whatsapp


Eksekutif.comStatus atau postingan media sosial dan siapa yang kita ikuti di media sosial ternyata menentukan karakter diri. Bukan tanpa alasan, secara tidak sadar, ketika kita menemukan seseorang yang tidak sesuai dengan kita biasanya memang tidak akan kita ikuti. Jika terlanjur mengikuti selanjutnya akan di unfollow.

Muhammad Agreindra Helmiawan, Dosen STIMIK Sumedang mengatakan, ketika di media sosial kita kemudian berkata-kata itulah adalah karakter atau cerminan kita. Bagaimana dengan di dunia nyata, apakah pernah kita berkata kasar.

“Saya rasa di keseharian kita selain di dunia digital. Kita tidak berani melakukan hal seperti itu. Jangan-jangan memang kita memiliki dua kepribadian,” ungkapnya saat menjadi pembicara dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (22/7/2021).

Pemahaman dunia digital masih kurang dalam diri masyarakat. Mereka menganggap dunia digital tidak nyata padahal etika tetap harus dilakukan meskipun kita tidak kenal dengan mereka atau tidak tahu keberadaan.

Menyadari etika adalah bagian dari hal dasar saat kita berinteraksi misalnya memulai percakapan dengan salam. Hal kecil yang sebenarnya kita lakukan di dunia nyata namun jarang kita lakukan di dunia digital.

Kita juga harus memahami konteks, saat berinteraksi kepada siapa komentar ini ditujukan yang lebih tua atau lebih muda. Kita bisa menyesuaikan bahasanya lalu apa tujuan dari komentar itu.

“Kita ingin memberi tahu, memberi ilmu baru atau bahkan menegur. Namun yang pasti kita juga harus bisa membaca situasi saat berkomentar. Jika sedang dalam duka kita harus tahu apa hal yang harus kita tanya atau apa hal yang harus kita ucapkan kepada mereka,” jelasnya.

Berkomentar seperlunya jangan menghakimi semaunya, terkadang jika ada seseorang yang berbuat salah kita seolah-olah menghakimi hingga sampai perundungan. Padahal kita hanya cukup untuk berkomentar seperlunya mengenai sebuah kasus atau masalah yang menimpa orang lain.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKomInfo) bersama Siberkreasi.

Webinar wilayah Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (22/7/2021) juga menghadirkan pembicara Amy Kamila (kreator Konten), Ariyo Zidni (Pendongeng), Sri Astuty (Japelidi) dan dr. Wafika Andira sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Berlandaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 95 kali dilihat,  25 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *