BERBISNIS

Humas BRI Kurang Resposif

MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

EKSEKUTIF.id – Ketika puluhan nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Ngadiluwih, Kediri, Jawa Timur, pada Senin (12/3/2018) lalu, dikejutkan dengan raibnya saldo rekening mereka secara misterius. Jumlah uang tabungan yang hilang bervariasi antara Rp500 ribu, Rp4 juta, bahkan mencapai Rp10 juta.

Humas Bank Rakyat Indonesia tidak segera memberi klarifikasi. Para nasabah pun berbondong-bondong mendatangi kantor BRI untuk mengetahui penyebab hilangnya uang dalam rekening tabungan mereka.

Salah satu nasabah atas nama Iriani, mengaku uang yang disimpan di BRI hilang sebesar Rp 4 juta. Atas kejadian ini perangkat Desa Tales, Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri ini meminta BRI Cabang Ngadiluwih melakukan pemblokiran.

“Kemarin pukul 15.00 WIB saya mendapatkan pesan SMS dari BRI. Isinya melakukan transaksi sebanyak tiga kali. Dengan jumlah Rp 4 juta. Padahal saya tidak melakukan transaksi apapun,” jelas Iriani.

Dari puluhan nasabah, sebagian mengaku, telah mengalami kehilangan uang secara misterius. Majalah eksekutif tidak diberi penjelasan oleh BRI, yang merupakan salah satu bank tertua di Indonesia.

BRI didirikan di Purwokerto oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau “Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto”.

Inilah lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi), dan menjadi cikal bakal BRI. Hari pendirian. Tanggal pendirian bank tersebut pada 16 Desember 1895, kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI.

Kegiatan BRI sempat terhenti pada masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948. Operasional BRI baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat.

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan terbatas.

Kepemilikan BRI saat itu masih 100 persen di tangan Pemerintah Republik Indonesia. Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat ini.

Humas BRI tidak memberi info yang terang benderang, kepada setiap media massa, berkait kewaspadaan nasabah Bank BRI untuk lebih waspada dalam melakukan kegiatan perbankannya.

majalah eksekutif terbaru (cetak) print – klik ini

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas