Internet Pengaruhi Emosi Anak, Orang Tua Perlu Batasi Penggunaannya

  • Whatsapp


Eksekutif.comPeran orang tua dalam memberikan ajaran tentang keamanan internet kepada anak itu penting. Kadang ada orang tua selama pandemi tahun ini mengeluhkan anaknya begini dan begitu setiap hari menggunakan internet. Sekarang kita banyak menghabiskan waktu di rumah, bekerja pun dari rumah.

Kemudian, sebagai orang tua yang bekerja dan juga mengawasi anak, bagaimana kita memerankan diri kita supaya kelebihan internet itu bisa kita serap dengan baik hal positifnya dan hal-hal negatif yang bisa kita hindari. Karena tidak dipungkiri banyak di internet hal-hal yang berbahaya itu hadir apalagi untuk anak kita.

“Bapak Ibu untuk refleksi selama pandemi ini sudah kan kita melihat kondisi anak kita, dimulai dari keadaan mereka mengikuti pembelajaran jarak jauh,” ujar Fiona Damanik, Counselor Universitas Multimedia Nusantara, di Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat Rabu (15/7/2021).

“Menanyakan perasaan anak saya ini kan kalau kita sekolah gitu dari SD,SMP, dan SMA aktif beberapa kebutuhan kita akan sosial dan hiburan itu bisa terpenuhi tanpa terganggu tanpa ada gangguan. Bisa menyerap pengetahuan dengan baik, tapi ada beberapa hal yang agak kurang pas. Bisa jadi mereka merasa kesepian nggak ada teman yang diajak ngobrol. Maka sosial skillnya mungkin berarti yang perlu ditingkatkan,” masih menurut penjelasan Fiona Damanik.

Masa anak-anak merupakan mengasah banyak keterampilan sebelum nantinya beranjak remaja dan dewasa. Itu yang seringkali kalau kita bilang masih anak-anak ini hanya bermain-main dan pendidikan. Padahal sosial dan hiburan tadi juga tidak kalah penting.

Apa yang bisa dilakukan untuk hiburan semasa pandemi di antara banyaknya pembelajaran jarak jauh atau banyaknya terpapar screen dari laptop, begitu kita juga perlu aktivitas fisik. Kalau untuk anak-anak SD Biasanya kita memang perlu lebih ketat untuk peraturannya itu. Misal, ada peraturan pegang laptop.

Untuk anak SMP dan SMA kita bisa ajak dia untuk mempertimbangkan apa yang baik untuk dirinya sendiri. Contohnya, baik atau tidak kalau misalkan pegang handphone atau di depan laptop 12 jam full, lupa makan dan minim. Untuk anak SMP dan SMA bisa diajak berbicara dibandingkan anak SD yang harus diawasi dan ditekankan agar tidak terlalu terpaku pada gadget.

Di antara ini semua ada dua hal yang mungkin kita beratkan, kesehatan fisik dan kesehatan mental juga menjadi hal penting. Jadi, memang pendidikan penting, tapi ingat menjadi salah satu faktor yang tidak bisa kita kesampingkan beberapa gambaran kondisi ini saat ini.

Bergantung dengan internet dan gadget?

“Kalau misalkan enggak dekat laptop, kemudian enggak dekat handphone gitu uring-uringan. Merasa ada yang kurang dalam hidup ini,” jelas Fiona Damanik, Counselor Universitas Multimedia Nusantara.

“Seberapa jauh kecanduan bisa terlihat dari perilakunya kalau misalkan diajak untuk melakukan aktivitas lain dia enggak mau, maunya sama handphone saja terus kita atau kedua ada kemungkinannya menjadi pasif menjadi tidak tahu cara berkomunikasi,” paparnya.

Fiona juga menjelaskan sosial skill kita sebelum pandemi itu bisa terasa. Berteman langsung yang baik di kelas atau di kegiatan rohani. Bagaimana peran kita untuk tetap memenuhi bolong-nya hal tersebut. “Perlu kita pikirkan juga perkembangan sosialnya,” ujarnya.

Terakhir dalam pengelolaan emosi anak selama masa pandemi. “Misal kita bilang makan dulu ya, gadgetnya diambil dulu di atau diletakkan dulu itu malah marah-marah. Dari sisi anak, mungkin cara pengelolaan emosi kurang. Hal ini yang mungkin terjadi selama masa pandemi sikap anak beranekaragam. Tentu anak di satu keluarga dengan keluarga lain akan berbeda-beda,” papar Fiona.

Seberapa penting bagi kita untuk tahu kondisi anak?

“Sepanjang melewati masa pandemi ini seperti apa perasaannya, pikirannya atau yang paling mudah untuk kita amati adalah perilaku. Adakah perilaku-perilaku yang sebenarnya kalau dibiasakan malah merusak. Hal yang perlu kita pegang sebagai orang tua ialah jangan pernah untuk tidak mengenalkan emosi ke anak, karena ini akan memudahkan kita memutuskan apakah emosinya stabil atau tidak,” ujar Fiona.

Dalam penjelasannya kemudian adalah membiasakan mengajak anak mengekspresikan emosinya, berbentuk positif dan negatif seperti senang, sedih, marah, dan sebagainya. Jangan dilarang, seperti anak laki-laki tidak boleh menangis dan sebagainya. “Karena, apa yang kita lakukan terhadap diri kita itu juga yang akan kita berikan dampak kepada anak kita,” pesannya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (15/7/2021) ini juga menghadirkan pembicara, Indah Jiwandono (Brand Owner of Coolsugarwax), Nikita Dompas (Producer & Music Director), Shandy Susanto (Dosen Podomoro University), dan Manda Utoyo.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 98 kali dilihat,  18 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *