Internetan Sehat, Literasi Digital Perlu Diterapkan di Media Sosial

  • Whatsapp


JAKARTA,- Kecakapan dalam menggunakan internet dan media digital bukan hanya tentang penguasaan teknologinya saja. Namun bagaimana masyarakat mampu menggunakan media digital dengan penuh tanggung jawab.

Presiden Joko Widodo dalam sambutannya saat meluncurkan Gerakan Nasional Literasi Digital mengungkapkan di antara pengguna internet di Indonesia yang semakin tinggi, saat ini kejahatan di ruang digital pun ikut mengkhawatirkan.

Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi pun menggelar acara webinar Literasi Digital wilayah Jawa Barat untuk Kota Bogor pada Kamis, (10/6/2021). Kegiatan yang bertujuan untuk membangun wawasan dan pengetahuan terkait literasi digital ini hadir dalam bentuk seminar dan diskusi secara online lewat webinar. Target perserta kegiatan literasi digital di antaranya penduduk di kabupaten/kota khususnya ASN, TNI/Polri, pelajar, mahasiswa, guru, dosen, Ibu Rumah Tangga, petani, nelayan, dan pelaku UMKM.

“Kecakapan digital harus ditingkatkan dalam masyarakat agar mampu menampilkan konten kreatif mendidik yang menyejukkan dan menyerukan perdamaian. Sebab, tantangan di ruang digital semakin besar seperti konten-konten negatif, kejahatan penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, radikalisme berbasis digital,” ujar Presiden Joko Widodo

Di webinar literasi digital kali ini hadir nara sumber Dila Karinta, Enterprise Consultant at Digital Economy Coorporation yang memberikan pemaparan tentang mengenalkan budaya Indonesia lewat literasi digital.

Dila mengungkapkan, dari data Wikipedia diketahui Indonesia merupakan pengguna internet nomor 4 terbesar di dunia dengan jumlah pengguna aktif 170 juta orang di mana sebagian besar mengaksesnya melalui ponsel pintar dan sebanyak 51% digunakan untuk media sosial.

“Itulah kenapa literasi digital yang baik perlu diaplikasikan di media sosial,” kata Dila.

Lalu apa keuntungannya jika masyarakat bisa internetan sehat? Dila mengungkapkan selain menambah wawasan, terhibur, untuk promosi bisnis dan turisme, ruang digital sehat juga bisa membuat seseorang mendapat pekerjaan profesional sehingga bisa membuat seseorang bangga dengan kreativitas dan bahagia.

Akan tetapu yang terjadi saat ini justru ekosistem internet yang tidak sehat seperti cyber-bullying, sebar hoax, iklan palsu, provokasi, berita kekerasan, hingga pelecehan sexual online yang meningkat di masa pandemi. Semua itu memberi kecemasan, emosi, amarah yang memunculkan depresi hingga bunuh diri.

Survei WHO selama bulan Juni hingga Agustus 2020 menyebutkan sebanyak 60% orang yang tersebar di 130 negara mengalami permasalahan kesehatan mental. Di Indonesia sendiri usia 30-39 tahun mengalami kecemasan terbanyak yakni sekitar 76% akibat pandemi dan ekosistem digital yang tidak sehat.

“Makanya nih netizen harus membiasakan internetan sehat yang bisa dimulai dengan double check fakta berita, tulis sumber saat mereferensikan sesuatu, membayangkan perasaan pihak yang menerima komentar, dan mengingat danpak dunia maya di dunia nyata, serta harus memastikan pesan yang disampaikan bermanfaat,” ujar Dila lagi.

Untuk itu diperlukan budaya digital yang sehat agar apa yang terjadi di ranah online lebih memiliki makna hidup. Salah satunya, seseorang bisa menjadi bagian komunitas dan menjadi bagian penyebar konten-konten positif seperti mengenalkan budaya Indonesia yang beragam di mana hal itu bisa membuat seseorang bangga dengan asal usulnya.

Webinar Literasi Digital di Jawa Barat I, Kota Bogor merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya seperti Aprida M. Sihombing Dosen Institut Ilmu Komunikasi dan Bisnis LSPR, Oleg Sanchabakhtiar Creative Consept and Director Expert Planet Design Indonesia, dan Desi Purnama, Wakil Kepala Sekolah Bindang Kurikulum SMAN 70 Jakarta.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 1 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *