Connect with us
script data-ad-client="ca-pub-4777880934442148" async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js">

IT

Jalin Kolaborasi dengan Siemens dan IBM –  Red Hat Luncurkan Inisiatif Hybrid Cloud untuk Meningkatkan Real-time Value Terhadap Data Industrial IoT

Published

on


 

 

Siemens, IBM dan Red Hat telah  mengumumkan sebuah proyek kolaborasi berkaitan penggunaan desain hybrid cloud untuk menghadirkan solusi yang terbuka, fleksibel, dan lebih aman, bagi kalangan manufaktur dan operator kilang. Desain ini akan mendorong terciptanya value yang real time dari data operasional. Dalam satu bulan, sebuah unit manufaktur bisa menciptakan lebih dari 2.200 terabyte data menurut sebuah laporan dari IBM – dan kebanyakan data itu belum dianalisa.

Melalui inisiatif bersama, Siemens Digital Industries Software akan menerapkan pendekatan open hybrid cloud dari IBM, dibangun di atas Red Hat OpenShift, untuk meningkatkan fleksibilitas dalam pemasangan MindSphere®, semacam solusi industrial IoT as a service dari Siemens. Kolaborasi ini akan memungkinkan pelanggan menjalankan MindSphere secara on-premise, menambah kecepatan dan agilitas dalam operasional pabrik dan kilang, serta memberikan product supportupdate, dan konektivitas perusahaan yang seamless melalui cloud.

“Hari-hari ini manufaktur membutuhkan agilitas dan fleksibilitas untuk mencapai ekspektasi tentang kualitas produk yang lebih baik dengan siklus produksi yang lebih pendek,” kata Raymond Kok, Senior Vice President of Cloud Application Solutions di Siemens Digital Industries Software, dalam ketrangannya, Jum’ at ( 26/02/2021 ).

“MindSphere telah memberikan insight yang didorong oleh data (data-driven), kepada para pelanggan, untuk memperkuat operasional mereka melalui Industrial IoT. Melalui kerja sama dengan IBM dan Red Hat, sekarang kami dapat memberikan fleksibilitas kepada pelanggan untuk memilih menjalankan MindSphere di on-premise atau di cloud, untuk memenuhi berbagai kebutuhan operasional mereka dan supaya mereka tambah efisien, gesit, dan responsif di marketplace saat ini,” jelas Raymond

Sementara itu, Manish Chawla, Industry General Manager, Energy, Resources, and Manufacturing di IBM, mengatakan, “Kita melihat bahwa kebanyakan data industrial dihasilkan di luar IT – di dalam operasional manufaktur, supply chain atau produk-produk yang terhubung (connected products) – namun untuk memanfaatkan teknologi digital, kalangan manufaktur biasanya mengirimkan data ke enterprise cloud mereka, atau menurunkan teknologinya,”

Pada kesempatan yang sama Darrell Jordan-Smith, Senior Vice President, Industries and Global Accounts, Red Hat, mengungkapkan bahwa kolaborasi dengan Siemens menggunakan hybrid cloud dan dirancang untuk memberikan kepada manufaktur ha-hal terbaik seperti otonomi, kecepatan, dan kendali atas data shopfloor yang diproses di edge, dan koneksi yang lancar ke perusahaan.

“Kolaborasi kami dengan Siemens akan membantu merampingkan operasional di manufaktur melalui penggunaan platform Kubernetes yang terkemuka dan suatu pendekatan open hybrid,” kata Darrell

“Dengan Red Hat OpenShift sebagai platform yang menopang MindSphere, kami mengurangi kerumitan dengan cara memberikan suatu metode yang terpadu kepada manufaktur untuk memasang dan menjalankan MindSphere di dalam sistem mereka atau di cloud. Hal ini membuat pemimpin di perusahaan manufaktur bisa lebih berfokus pada inovasi dan mendorong hasil bisnis yang lebih maksimal lagi,” jelasnya.

Untuk membantu pelanggan meraih manfaat dan kapabilitas sesungguhnya dari kolaborasi ini serta mengurangi risiko TI, konsultan IBM Global Business Services dan Global Technology Services akan menjadi provider layanan terkelola (managed service) dan solusi IoT bagi pelanggan MindSphere Siemens.

MindSphere digunakan oleh perusahaan untuk mengumpulkan dan menganalisa data sensor secara real-time, yakni data-data yang dikumpulkan dari produk, proses pengilangan, sistem, dan mesin-mesin, supaya penggunanya dapat mengoptimalkan produk, aset produksi, dan proses manufaktur, di seluruh value chain, untuk membangun secara real-time apa yang disebut sebagai digital twin.

Dengan mengadopsi Red Hat OpenShift, platform Kubernetes yang terkemuka di industri, sebagai arsitektur on premise yang paling disukai, pelanggan bakal memiliki fleksibilitas untuk mengoperasikan solusi MindSphere secara lokal di sebuah private cloud, atau di aplikasi yang bakal dirancang, melalui model hybrid dan multi-cloud. Nantinya segala yang terjadi di lapangan dapat menjadi insight bagi perusahaan. Melalui penawaran ini, Siemens dan IBM akan membuat pelanggan betul-betul memiliki kendali fisik yang penuh atas data mereka sehingga akan lebih baik dalam memenuhi tuntutan regulasi dan privasi data.

Pengumuman tersebut takkan terwujud apabila tak ada hubungan baik yang sudah berlangsung lama antara IBM dan Siemens, termasuk baru-baru ini diperkenalkannya suatu solusi bersama dengan IBM Maximo yang membuat awet lifecyle pengoperasian produk-produk industri dan permesinan, dengan cara menyatukan operasional engineering dan mengelola data di dalam satu platform.

Kolaborasi bersama Siemens adalah bagian dari program ekosistem IBM dalam rangka mengakselerasi pengadopsian hybrid cloud dan open architecture di seluruh industri yang esensial meliputi manufaktur, energi, smart city, telekomunikasi, dan layanan keuangan. Siemens memanfaatkan Cloud Engagement Fund dari IBM, yang didirikan sebagai bagian dari investasi sebesar US$1 miliar yang dikucurkan oleh IBM ke dalam ekosistemnya, untuk mengakses berbagai sumber daya teknis dan cloud credit untuk mendukung perpindahan workload di sisi client ke lingkungan hybrid cloud.

Upaya-upaya ini terasa semakin penting sebab perusahaan-perusahaan saat ini sedang berusaha mencari jalan keluar dari dampak pandemi ini. Keadaan ini menciptakan kebutuhan yang sangat mendesak untuk mempercepat time to market, meningkatkan fleksibilitas, kegesitannya untuk mendorong terciptanya berbagai inovasi.

 

 

 

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

IT

Resmi Hadir di Indonesia, Aplikasi Helo Hadirkan  Konten Lokal Sebagai Wadah untuk Berkreasi, Terkoneksi, dan Mendapatkan Informasi Terbaru

Published

on

By


 

Industri Platform  digital Indonesia semakin ramai  dengan adanya Aplikasi  Helo. Setelah masuk ke Indonesia di akhir tahun lalu, aplikasi Helo kini resmi diperkenalkan kepada publik Indonesia.

Helo adalah sebuah platform digital terintegrasi yang mewadahi seluruh pengguna untuk menginspirasi kebebasan berekspresi, memberdayakan budaya yang beragam, dan mendekatkan komunitas.

Helo yang merupakan bagian dari perusahaan ByteDance, yang hadir membawa angin segar di industri platform digital di Indonesia melalui aplikasi terbaru dengan menghadirkan kumpulan konten lokal dari pengguna dan kreator di Indonesia.

Hasil riset dari Hootsuite dan We Are Social bertajuk Digital 2021: Indonesia menunjukkan  bahwa bertemu komunitas baru dengan aplikasi social networking, mencari hiburan dengan aplikasi entertainment atau video, dan saling terhubung dengan aplikasi messenger merupakan tiga perilaku tertinggi pengguna Indonesia mengakses mobile apps.

Melihat tren tersebut, Helo berkomitmen untuk menggabungkan ketiganya dengan menghubungkan beragam komunitas sekaligus menyediakan platform untuk mengekspresikan diri secara menyenangkan dan unik.

“Aplikasi Helo hadir untuk masyarakat Indonesia sebagai wadah untuk berkreasi, terkoneksi, dan mendapatkan informasi baru yang menghibur dan komplit. Keunikan Helo sendiri terletak pada kumpulan konten lokal dari berbagai pengguna dan juga kreator di Indonesia, serta keragaman budaya di dalamnya,”  ujar Indira Melik, Country Head of Operations Helo Indonesia, saat peluncuran peresmian Aplikasi Helo di Indonesia, Kamis ( 15/04/2021).

“Kami berkomitmen untuk menghubungkan antar pengguna agar dapat dengan mudah berkolaborasi dan menambah wawasan. Harapannya, Helo dapat menjadi go-to platform dengan dukungan fitur canggih sebagai sumber informasi dan koneksi masyarakat dalam satu aplikasi bagi siapapun,” tegas Melik.  

Sebagai platform digital pendatang baru, Helo menawarkan berbagai keunikan dan keseruan yang telah disesuaikan dengan pasar Indonesia, antara lain:

  • Pengguna Helo bisa menikmati kumpulan konten lokal dan keragaman budaya, termasuk unggahan dari pengguna atau kreator, video lucu, berita hiburan, dan emotional status (menyerupai quotes). Untuk fitur sendiri, Helo dilengkapi music video template dan kumpulan stickers yang lengkap.
  • Helo memungkinkan pengguna dengan pengguna lain terhubung dalam jaringan yang luas melalui konten dan unggahan yang tersedia dalam berbagai format, tidak hanya berbentuk video, namun juga dapat berupa foto, gambar, dan teks. Pengguna dengan minat dan ketertarikan yang sama dapat secara mudah dan cepat berkolaborasi, berekspresi, serta membangun sebuah komunitas di Helo.
  • Helo sebagai platform digital yang didesain untuk pengguna yang memiliki mobilitas tinggi dan produktif, di mana dalam satu aplikasi pengguna dapat memperoleh informasi dan hiburan sekaligus.
  • Aplikasi Helo memiliki fitur Tren Helo, fitur yang memungkinkan pengguna dapat mengakses berita atau tren terbaru (trending news) yang ramai diperbincangkan warganet. Tren Helo akan selalu memperbaharui berita atau tren secara real time sehingga pengguna tidak akan pernah tertinggal kabar aktual.
  • Lingkungan di dalam Helo terpercaya dan aman sehingga mendorong pertukaran ide dan perspektif yang lebih bertanggung jawab dengan penerapan kebijakan dan pedoman komunitas.

Atmosfir dan beragamnya fitur yang ditawarkan Helo sangat cocok bagi mereka yang memiliki berbagai kesibukan, salah satunya bagi Amanda Manopo, artis/selebritis yang tengah naik daun dan memiliki basis penggemar yang luas.

“Di Helo, setelah bergabung dan menikmati fiturnya, aku bisa merasakan perbedaannya karena aku bisa lebih leluasa dalam berekspresi dan menjadi diri sendiri seutuhnya. Satu aplikasi bisa memenuhi banyak kebutuhanku. Itulah yang membuatku menikmati aplikasi Helo, di mana aku bisa berkreasi secara orisinal, bertemu komunitas yang seru, termasuk terhubung dengan penggemarku secara lebih dekat,” kata Amanda.

Deretan nama artis atau public figure  lainnya yang juga sudah bergabung di Helo diantaranya, Ariel Noah, Atta Halilintar, Edho ZellNagita Slavina dan Sandra Dewi.

Sandra Dewi, artis yang juga content creator, yang hadir  dalam acara peresmian Helo tersebut, mengungkapkan bahwa  ia merasakan hal yang sama.

“Walaupun aku termasuk baru sebagai pengguna aplikasi Helo, aku merasakan sekali di sini aku bisa memberikan pendapatku mengenai banyak hal dengan cara yang kreatif,” ungkap Sandra Dewi dalam paparannya, saat acara tersebut, Kamis ( 15/04/2021).

“Selain itu, aku bisa terus update karena aku selalu memantau berita dan topik yang hangat dengan cepat. Di Helo ini banyak konten menghibur yang dapat mengisi waktu luangku atau saat jeda di antara berbagai kesibukanku,” ujar Sandra menambahkan.

Ke depannya, Helo akan terus menyediakan konten yang seru dan beragam, serta interaksi selebriti dan tren terkini kepada para pengguna di Indonesia, melalui berbagai kampanye seru yang cocok dengan kebudayaan dalam negeri.

 

 

 



Post Views:
5

Continue Reading

IT

Aruba  kini Integrasikan Keamanan dari Edge-hingga-Cloud pada Platform Aruba ESP-nya

Published

on

By


 

Aruba, bagian dari Hewlett Packard Enterprise telah mengumumkan integrasi keamanan dari edge hingga cloud (edge-to-cloud) yang luas untuk Aruba ESP (Edge Services Platform).

Peningkatan baru ini meliputi pengintegrasian platform kontrol keamanan akses jaringan, ClearPass Policy Manager, dengan Aruba EdgeConnect SD-WAN edge platform, yang sebelumnya disebut Silver Peak.

Lalu, pengintegrasian Aruba Threat Defense dengan platform EdgeConnect dan perluasan ekosistem mitra keamanan multivendor Aruba ESP, sehingga para pelanggan di segmen enterprise memiliki kebebasan untuk memilih dan menjalankan komponen keamanan terbaik berbasis cloudsecure access service edge (SASE).

Dengan berbagai peningkatan dalam Aruba ESP perusahaan-perusahaan dapat mempercepat perjalanan transformasi digital mereka dari edge hingga cloud.

Dengan Aruba ESP (Edge Services Platform) dan opsi as-a-service, Aruba mengambil pendekatan cloud-native untuk membantu pelanggan memenuhi persyaratan konektivitas, keamanan, dan keuangan mereka di seluruh kampus, kantor cabang, pusat data, dan lingkungan pekerja jarak jauh, yang mencakup semua aspek kabel, LAN nirkabel, dan wide area networking (WAN).

Ketika banyak perusahaan menghadapi tantangan akibat pandemi COVID-19 dan “bekerja dari mana saja” menjadi sebuah kenormalan baru, sehingga pengadopsian layanan yang di-hosting di cloud akan semakin cepat. Pergeseran ini membuat transformasi data center konvensional dan jaringan yang MPLS (Multiprotocol Label Switching)-centric dan berbasis VPN ke arsitektur SASE yang cloud-native, menjadi semakin mendesak. Arsitektur SASE akan membuat layanan jaringan semakin aman dan lebih dinamis, sekaligus memberikan perlindungan data secara komprehensif.

Dengan menerapkan pendekatan Zero Trust dan SASE, berbagai perusahaan dapat mengakselerasi Transformasi Jaringan WAN dan Keamanannya, Mengadopsi Cloud dan IoT yang lebih canggih dan Transformasi Digital lebih cepat.

Pada saat yang sama, transformasi digital juga menyebabkan jumlah perangkat-perangkat IoT yang terhubung ke jaringan meningkat secara signifikan. Hal ini menimbulkan tantangan baru yang tidak bisa diselesaikan oleh keamanan yang berbasis di cloud saja. Karena perangkat IoT bersifat agentless, departemen IT tidak bisa menginstal security client atau mengarahkan traffic perangkat ke layanan keamanan cloud; sehingga keamanan Zero Trust harus diterapkan di titik edge WAN (wide area network).

Untuk memahami potensi cloud dan transformasi digital, perusahaan membutuhkan edge di WAN untuk menggabungkan antara keamanan di on premise dan di cloud. Dengan demikian, SASE dapat melindungi pengguna yang terhubung ke SaaS dan platform public cloud, sekaligus melindungi perangkat IoT yang membutuhkan keamanan berbasis identitas dari Zero Trust.

Melalui pengintegrasian yang diumumkan hari ini, para pelanggan enterprise akan mampu menerapkan kebijakan keamanan berbasis identitas hingga ke bagian terkecil (granular-level) dari edge hingga cloud untuk menghubungkan dan melindungi pengguna serta perangkat mereka.

Sebuah laporan perusahaan riset komunikasi 650 Group baru-baru ini, menyoroti peningkatan perhatian pada SASE dan mendapati bahwa perusahaan-perusahaan perlu mengevaluasi pendekatan keamanan mereka sehubungan dengan evolusi teknologi yang terjadi saat ini.

Chris DePuy, pendiri dan analis teknologi di 650 Group menyatakan, “Saat perusahaan-perusahaan beralih ke arsitektur Zero Trust dan SASE, mereka akan menerapkan layanan keamanan multi-vendor yang disediakan cloud, dan tidak semua komponen SASE harus berasal dari satu vendor.”

“Pendekatan Aruba memberikan keseimbangan antara menghadirkan fungsi keamanan di edge WAN dan membebaskan pelanggan untuk memilih mengintegrasikan layanan keamanan cloud terkemuka dari partner seperti Zscaler, Netskope, dan Check Point. Strategi kemitraan multi-vendor ini memberi fleksibilitas kepada berbagai perusahaan untuk terus bekerja sama dengan vendor yang ada atau beralih ke system terbaik di kelasnya,” ungkap Chris DePuy, dalam ketrangan tertulisnya, Rabu ( 14/04/2021 ).  

Integrasi ClearPass Policy Manager dengan Aruba EdgeConnect

Integrasi ClearPass Policy Manager dengan platform edge untuk SD-WAN Aruba EdgeConnect membuat aplikasi semakin pintar karena adanya penambahan informasi mengenai identitas pengguna, perangkat IoT, berbagai role yang ada, dan postur keamanan untuk membentuk basis  SASE WAN edge.

Kombinasi role dan kecerdasan postur keamanan dengan kapabilitas segmentasi yang dinamis akan menghilangkan kerumitan yang terkait dengan implementasi ratusan VLAN untuk tiap kelas pengguna dan perangkat. Hal ini secara dramatis menyederhanakan administrasi dan pengelolaan jaringan. Integrasi ClearPass Policy Manager dengan EdgeConnect akan menyajikan definisi role yang konsisten dan terautomasi serta bisa diterapkan ke dalam jaringan dari perangkat pengguna, melalui LAN, dan di seluruh WAN.

Integrasi Aruba Threat Defense dengan Aruba EdgeConnect

Integrasi Aruba Threat Defense dengan platform edge SD-WAN, Aruba EdgeConnect, akan memperluas jangkauan kemampuan intrusion detection and prevention (IDS/IPS) ke EdgeConnect, baik secara fisik maupun virtual.

Hal ini membuat platform EdgeConnect dapat memanfaatkan infrastruktur Aruba Threat, berbagi informasi ancaman yang berbahaya antara Aruba Central dan EdgeConnect sehingga ada visibilitas yang besar di seluruh jaringan.

Dengan kemampuan unified threat management (UTM) ini perusahaan-perusahaan dapat menikmati keamanan lateral yang menyeluruh serta mengamankan jalur internet lokal dari lokasi cabang mereka. UTM ini bahkan bisa ditetapkan secara terpusat di on premise atau di cloud. Dengan memanfaatkan infrastruktur dan informasi ancaman yang sama di seluruh Aruba ESP, para manager jaringan dan keamanan bisa menerapkan kebijakan perlindungan secara terpusat dan diterapkan di seluruh perusahaan.

Kebebasan Memilih Multivendor di Ekosistem Partner

Ketika perusahaan-perusahaan beralih ke arsitektur Zero Trust dan SASE, mereka akan mempertimbangkan untuk memilih layanan keamanan cloud dari multivendor. Survei terbaru dari perusahaan keamanan Ponemon Institute memperkuat fakta itu.

Mereka mendapati bahwa lebih dari 70% responden akan memilih solusi keamanan cloud yang terbaik di kelasnya atau ‘best-of-breed’ ketimbang pendekatan all-in-one[1], agar dapat menikmati infrastruktur Zero Trust dan SASE yang komprehensif.

Dengan workflow yang ditentukan oleh sebuah Service Orchestration yang baru, Aruba Orchestrator management console, yang sebelumnya dikenal sebagai Silver Peak Unity Orchestrator, sekarang menyertakan informasi default yang telah dikonfigurasi terkait layanan keamanan cloud yang disediakan oleh mitra terdekat.

Para admin jaringan dengan cepat dan mudah menghubungkan lokasi cabang Aruba dengan POP dan data center cloud dari partner. Vendor keamanan terkemuka seperti Check Point, Forcepoint, McAfee, Palo Alto Networks, Symantec dan Zscaler saat ini termasuk ke dalam ekosistem aliansi partner teknologi Aruba, dan Netskope menjadi yang pertama memanfaatkan pengaturan workflow ini.

“Integrasi ClearPass Policy Manager dan Aruba Threat Defense dengan EdgeConnect SD-WAN edge platform memungkinkan kami menghadirkan framework kebijakan berbasis identitas yang konsisten di seluruh portofolio edge yang aman dari Aruba,” kata David Hughes, pendiri Silver Peak dan senior vice president WAN business di Aruba, anak perusahaan Hewlett Packard Enterprise, dalam keterangan tertulisnya, Rabu   (14/04/2021).

“Kombinasi yang powerful ini akan membuat pelanggan beranjak ke fase selanjutnya, beranjak dari arsitektur jaringan yang berpusat pada data center lama, dengan keamanan berbasis parimeter, ke WAN yang cloud-centric dengan keamanan yang didasarkan pada prinsip-prinsip Zero Trust dan SASE. Pelanggan enterprise dapat mengatur agar platform edge WAN EdgeConnect di infrastruktur on-premise dapat menjalankan policy dari edge, dan dengan mudah  terintegrasi dengan layanan keamanan pilihan mereka yang di-deliver dari cloud, semua dikontrol secara terpusat di dalam Aruba Orchestrator,” jelas David.

Portofolio WAN Edge yang Aman dan Komprehensif di Seluruh Lokasi Kerja Hybrid

Platform Aruba ESP menawarkan portofolio edge untuk WAN baik kabel maupun nirkabel yang paling komprehensif di industri kepada para pelanggan, sehingga mereka bisa beradaptasi pada situasi new normal maupun kondisi hari-hari mendatang yang penuh ketidakpastian.

Portofolio edge untuk WAN ini meliputi:

  • Virtual Intranet Access Client (VIA) – mobilitas maksimal bagi pengguna yang bekerja dari mana saja, baik yang terhubung ke jaringan privat atau publik
  • Remote Access Points (RAPs) – dengan footprint minimal bagi ruang kerja mobileremotemaupun temporer, menghasilkan konektivitas yang aman ke jaringan enterprise korporat
  • SD-Branch – integrasi maksimal dan pengelolaan terpadu yang sederhana di semua WLAN, LAN dan SD-WAN dengan keamanan Zero Trust
  • EdgeConnect – QoE (Quality of Experience) yang optimal dari edge-to-clouddengan sebuah platform edge untuk SD-WAN yang canggih dan komponen SASE yang terpadu

 

 



Post Views:
2

Continue Reading

IT

Dukung Program Pengembangan Pitalebar Kementerian Kominfo RI – CBN dan FiberStar  Hadirkan Akses Internet untuk UMKM Desa Kalitengah Cirebon

Published

on

By


Ket. Foto  ( ki-ka ) :  Singgih Yuniawan SE.M.Kom, Koordinator Insfrastruktur Telekomunikasi Pitalebar, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI; Dr. H. Harry Safari M. Drs. MM, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Cirebon; Marcelus Ardiwinata, Commerce Director FiberStar; Dedy Handoko, Chief of Broadband CBN; Yanto Heryanto, SE, PJ Kuwu Kalitengah.

 

PT Cyberindo Aditama (CBN) bersama dengan PT Mega Akses Persada (FiberStar) diberikan kepercayaan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kemkominfo RI) sebagai penyedia layanan akses Internet broadband kepada UMKM di Kalitengah, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Program tersebut merupakan Inisiatif Kemkominfo dalam mendukung pemberdayaan UMKM melalui program Bantuan Pemerintah Penyediaan Layanan Akses Tetap Pitalebar (Fixed Broadband) yang diluncurkan pada Kamis ( 08/04/2021 ) di GMG Nyi Mas Ayu Danawati, Desa Kalitengah, Kabupaten Cirebon.

Dedy Handoko, Chief Broadband Officer CBN mengatakan, “Indonesia saat ini sudah memasuki era digitalisasi, dimana mayoritas kegiatan harian masyarakat tidak terlepas dari peran internet. Bagi UMKM, peran serta internet tentunya dapat meningkatkan produktivitas dan pemasaran untuk perekonomian yang lebih baik. “

“Sebagai salah satu pelopor provider internet di Indonesia, merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan bagi CBN untuk menjadi bagian dari program Kemkominfo dalam menghadirkan pemerataan penyediaan koneksi internet di Indonesia,” uangkap Dedy dalam keterangan tertulisnya, Kamis ( 08/04/2021 ).

“Desa Kalitengah adalah salah satu desa UMKM unggulan di Kabupaten Cirebon, dengan mayoritas masyarakat bergerak di industri rumahan seperti produksi batik, telur asin, e-warung, dan lain sebagainya. “Sebagian penerima manfaat sudah mulai merasakan koneksi internet cepat CBN dan tentunya akan semakin bertambah seiring dengan penyelesaian program pembangunan infrastruktur fiber optik secara bertahap,” tambah Dedy.

Sementara itu,  Marvels P. Situmorang, Direktur Pengembangan Pitalebar Ditjen PPI Kemenkominfo RI mengatakan, “Sejak tahun 2018 Direktorat Pengembangan Pitalebar memberikan bantuan akses internet untuk berbagai sektor khususnya menyasar sektor UMKM dan pariwisata untuk memberdayakan kedua sektor tersebut dan mengembangkan jaringan infrastruktur pitalebar. Infrastruktur yang tersediapun perlu dimaksimalkan utilisasinya sebagaimana arahan Presiden RI.”

“ Untuk itu, kami bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuan tersebut, termasuk penyedia layanan internet. Untuk Desa Kalitengah ini, kami percayakan CBN sebagai provider internet yang kami yakin dapat memberikan layanan terbaik bagi penerima bantuan,” jelas Marvels.

Tidak hanya memberikan akses internet  lanjut Marvels, Kemenkominfo juga akan memberikan pelatihan pendampingan dalam memaksimalkan penggunaan internet di Desa Kalitengah. Menyusul, beberapa daerah lain juga mendapatkan hal yang sama. Diharapkan dengan kegiatan tersebut mampu meningkatkan produktivitas dan perekonomian masyarakat.



Post Views:
2

Continue Reading

Trending

Copyright © 2021 Eksekutif.ID | Kerjasama dan kolaborasi silahkan email: eksekutifmatra@gmail.com. Hotline 0816-1945-288