Jangan Biarkan Anak Hanyut dengan Gadget dan Terpapar Pornografi di Internet

  • Whatsapp


JAKARTA,- Saat ini dari sekitar 266 juta jiwa penduduk Indonesia, di antaranya terdapat 196 juta pengguna internet yang aktif. Jumlah tersebut diketahui meningkat sebanyak 8,9 persen dari tahun sebelumnya yaitu sebanyak 171 juta jiwa pengguna.

Di antara pengguna internet di Indonesia yang semakin tinggi, saat ini kejahatan di ruang digital pun ikut mengkhawatirkan. Tantangan di ruang digital semakin besar seperti konten-konten negatif, kejahatan penipuan daring, perjudian, eksploitasi seksual pada anak, ujaran kebencian, hingga radikalisme berbasis digital.

“Kita sebagai orang tua tak ingin anak hanyut di dunia digital. Tapi juga aktif, bertanggung jawab dan memiliki sosial skills yang baik di masyarakat,” ujar Diena Haryana, Founder SEJIWA saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat I, Selasa (6/7/2021).

Di sinilah peran penting orang tua untuk membimbing anak di tengah pesatnya perkembangan era digital. Orang tua bisa memulainya dengan melakukan gaya komunikasi yang asertif, artinya ada di tengah-tengah tidak pasif namun juga tidak cenderung agresif dengan banyak melarang dan marah-marah. Sebab bila orang tua agresif marah-marah, anak malah akan meninggalkan orang tua dan pergi ke dunia daring.

Apalagi ada ancama pornografi anak yang bisa disusupi karena anak terlalu asik denhan gawainya. Pornografi diketahui akan merusak perkembangan otak anak, membuat anak kecanduan dan lebih bahaya dari narkoba. Dia pun memberikan saran agar orang tua menerapkan zona bebas gawai untuk anak di rumah, sehingga anak terbiasa berinteraksi dengan anggota keluarganya. Zona benas gawai ini beberapa di antaranya di ruang makan dan ruang tidur.

“Harus ada ruang bebas gawai, biasakan hadir di meja makan, mengizinkan mereka untuk curhat dan saling menghibur atau selesai makan malam orang tua bisa mengajak anak main game bersama,” tutur Diena.

Orang tua juga diajak untuk hadir dan menjadi contoh terlebih dahulu. Saat di rumah misalnya, ketika bicara memandang wajah mereka. Hal lain yang bisa dilakukan adalah menjadi teman bagi anak, membuat rencana yang asik misalnya masak bareng, dengan begitu orang tua akan menjadi nomor satu yang ada dibenak anak. Sehingga saat ada orang yang mendekati anak mereka tidak akan terkena bujukan para predator online, sebab mereka akan bercerita karena orang tua jadi yang pertama di pikiran mereka.

“Saran lainnya untuk melindungi dan menjaga keamanan anak saat berinternet adalah orang tua perlu melek digital terlebih dahulu, serta memahami aturan konten untuk anak-anak,” ujar Diena.

Webinar Literasi Digital merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Di webinar kali ini ada beberapa nara sumber lainnya yang ikut hadir salah satunya yaitu Syarief Hidayatulloh, Digital Strategic Hello Monday Morning, Mardiana R.L, Vice Principal in Kinderhouse Pre-School, dan Fika Astridianingrum, seorang Psikolog dan Konseler.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 76 kali dilihat,  26 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *