Jangan Ragu Lapor Kejahatan Cyber

  • Whatsapp


JAKARTA,- Sebanyak 171 juta orang Indonesia yang aktif memanfaatkan internet untuk kehidupan sehari-harinya. Bahkan selama pandemi berlangsung ada penambahan sebanyak 27 juta pengguna baru. Sebagian besar masyarakat mengakses internet untuk sosial media dengan waktu rata-rata 3 jam 14 menit per hari.

Di balik segala kemudahan dalam mengakses informasi dan bertransaksi, ada satu isu yang perlu dicermati lebih jauh yakni kejahatan di dunia maya yang memanfaatkan data pribadi.

Mengenai data pribadi sudah tertera di UU ITE Pasal 1 angka 29 PPSTE (Penyelenggara Sistem Transaksi Elektronik), yaitu setiap data tentang seseorang baik yang teridentifikasi dan/atau dapat diidentifikasi secara tersendiri maupun dikombinasi dengan informasi lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung melalui sistem elektronik dan/atau maupun nonelektronik.

“Data Pribadi, sudah dibuatkan rancangan undang-undang tersendiri karena semakin ke sini semakin banyak kejadian dan makin lama disahkan akan makin banyak korban,” ujar Aribowo Sasmito, dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Majalengka, Jawa Barat I, Jum’at (25/6/2021).

Aribowo mengungkap data pribadi secara umum yang sering disalahgunakan seperti berupa nama lengkap, jenis kelamin, kewarganegaraan, agama, di mana bila data-data tersebut dikombinasikan dapat mengidentifikasi seseorang. Akan tetapi terdapat data pribadi yang bersifat spesifik misalnya data dan informasi kesehatan, data biometrik, fingerprint, data genetik, orientasi seksual, pandangan politik, catatan kejahatan, data anak, data keuangan pribadi yang sesuai peraturan perundang-undangan.

Lalu mengapa data pribadi perlu dilindungi? Sebab bila dilihat dari statistik jumlah korban pencurian data pribadi semakin meningkat.

Kalau dulu saat komputer kena virus, data akan hilang. Akan tetapi saat ini data tidak dihapus, tapi data pribadi dicari apakah ada yang bisa digunakan seperti nomor rekening bank, nomor kartu kredit dan yang paling ransomeware data disandra dengan tebusan uang.

Betapa pentingnya menjaga data pribadi, masyarakat perlu ketahui cara untuk melindunginya. Di antaranya dengan memahami dan melindungi perangkat yang Anda pakai. Jangan menyimpan foto KTP atau NPWP dalam bentuk foto. Termasuk dengan pesan teks di notes, histori saat membuka internet, hingga lokasi sebelum dan saat ini semuanya terekam di ponsel pribadi.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Henry V Herlambang CMO Kadobox, Alda Dina Bangun Guru SD Cahaya Bangsa Kota Baru Parahyangan dan Eko Prasetya Wakil Ketua Relawan TIK Indonesia. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 2 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *