Majalah Eksekutif

Java Jazz Festival 2020, Tampilkan Ratusan Musisi Dalam & Luar Negeri

505Views

Java Jazz 2020 digelar selama tiga hari pada 28, 29 Februari, dan 1 Maret 2020 di JIExpo Kemayoran Jakarta.

EKSEKUTIF.id ..  Bicara musik, memang tak ada habisnya. Dari tahun ke tahun, kreativitas para pekerja seni di bidang musik acap menampilkan “gaya” karya terbarunya.

Musik dangdut bisa dikatakan memiliki corak yang terbanyak di bandingkan dengan genre musik lainnya.

Lihat saja, selain dangdut asli seperti yang dibawakan oleh Rhoma Irama, dalam perkembangannya muncul rockdut (musik dangsut bergaya rock), dangdut ritmix, hingga dangdut koplo.

Di genre musik pop, terbilang ‘normal-normal’ saja, tak terlalu ada perubahan gaya yang menyolok. Yang berubah hanya soal syairnya saja: ada yang melankolis dan ada yang biasa.

Namun, naik turun pamor genre musik-musik tersebut akan seiring dengan tren yang sedang terjadi. Media televisi, memiliki peran sangat penting dalam menaikan dan menurunkan pamor tersebut.

Namun ada satu jenis musik yang sejak zaman dulu hingga sekarang memiliki corak yang seolah tak berubah: begitu-begitu saja. Itulah musik jazz.

Sekalipun gelaran musik ini sering dilakukan, namun penikmat musik genre ini (khususnya di Indonesia) juga tak mengalami fluktuasi. Kelas menengah ke atas adalah komunitas penikmat setia musik ini.

Belum pernah ada dalam sejarah di Indonesia musik jazz digelar di pinggiran pasar tradisional atau pinggiran kali. Tak pernah juga musik jazz digunakan sebagai hiburan selama kampanye Pilpres ataupun Pileg. Musik ini secara ekslusif digelar di dalam hotel atau di gedung-gedung tertentu.

Itulah tentang kedudukan musik jazz yang pada awal kelahirannya dianggap sebagai musik rendah, musiknya kaum hitam yang hina di daratan Amerika, namun kemudian tumbuh menjadi musik bermutu tinggi. Banyak digaet oleh jenis musik lainnya dalam upaya menambah nilai seninya.

Bahkan akhirnya jazz digunakan sebagai sarana bergengsi, karena orang merasa takut dikatakan ketinggalan zaman hanya disebabkan karena tidak mengetahui atau menyukai musik jazz.

Jazz akhirnya dianggap sebagai musiknya kaum elite. Tentu saja bagi yang suka.

Musik Jazz bergaung di Indonesia, Tak Lepas Peran Peter F Gontha

Diteruskan putrinya, yakni Dewi Gontha yang kini malah menjadi promotor musik terkemuka. Menghadirkan banyak festival, tak hanya jazz di Indonesia.

Sejak tahun 2005 penggemar musik ini berupaya untuk ‘melestarikannya’ melalui event Java Jazz Festival. Pemilik Jamz ini menghadirkan musisi jazz legendaris: James Brown. Musisi lainnya seperti Incognito, Earth Wind and Fire Experience Featuring Al Mckay All Stars dan musisi kelas dunia lainnya.

Di tahun 2020, Java Production Festival kembali menghadirkan broadway dan motown, dalam Java Jazz kali ini. Warna-warna yang digunakan diprediksi menjadi tren baru di 2020.

“Tema doodle ini diselaraskan dengan tagline Redeem Yourself Through Music,” ujar Dewi Gontha, putri dari Peter Gontha menjelaskan,

Jakarta International BNI Java Jazz 2020 digelar atas kerjasama Java Production Festival, Avrist, dan BNI.

Java Jazz 2020 digelar selama tiga hari pada 28, 29 Februari, dan 1 Maret 2020 di JIExpo Kemayoran Jakarta.

Penikmat musik yang ingin menyimak Java Jazz Festival (JJF) 2020 sudah bisa membeli tiket melalui situs www.javajazzfestival.com. Tiket harian dibanderol seharga Rp 775 ribu, sementara tiket terusan selama tiga hari penyelenggaraan seharga Rp 1.875.000.

Tiket untuk penampilan spesial pada Sabtu, 29 Februari 2020 dan Ahad, 1 Maret 2020 dijual terpisah.

Untuk menyimak special show The Jacksons di hari Sabtu, butuh merogoh kocek tambahan sebesar Rp 375 ribu dan Rp 250 ribu untuk musisi Omar Apollo pada Ahad.

Menurut President Director Java Festival Production Dewi Gontha selaku penyelenggara, angka tersebut tidak mahal.

Pasalnya, Java Jazz Festival 2020 menyuguhkan penampilan ratusan musisi dari dalam dan luar negeri di 11 panggung selama tiga hari penyelenggaraan.

“Relatif tidak mahal kalau dibandingkan dengan jumlah show yang bisa disimak selama tiga hari,” ujar Dewi. Dia menginformasikan, lineup fase pertama festival yang mewakili beragam genre sudah dapat dilihat melalui situs resmi JJF 2020.

Selain The Jacksons dan Omar Apollo, JJF 2020 menghadirkan Ari Lennox, musisi perempuan asal Washington DC, Amerika Serikat. Album debutnya yang berjudul Shea Butter Baby menempati posisi ke-104 di Billboard 200. Klip video dari lagu berjudul sama juga sangat digemari.

Musisi Mike Stern akan tampil bersama Jeff Lorber Fusion Trio di salah satu panggung. Deretan penampil lain yakni musisi Inggris Bruno Major serta grup musik asal London Ezra Collective yang menggabungkan musik jazz dengan beat hip hop.

Aksi Sister Sledge yang memopulerkan “Time Will Tell”, “We Are Family”, dan “He’s the Greatest Dancer” sayang untuk dilewatkan. JJF 2020 juga mendatangkan T-SQUARE dari Jepang yang dipimpin gitaris Masahiro Ando dan grup musik New York Voices.

Dengan deretan musisi itu, Dewi berharap bisa memuaskan para pengunjung.

“Harapan saya, ingin Java Jazz Festival menjadi acara yang tidak habis-habis. Bisa bertahan puluhan tahun tetapi mempertahankan standar yang baik dalam penyelenggaraannya,” ujarnya.

MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -
redaksi
the authorredaksi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
%d blogger menyukai ini: