Jawab Tantangan Gap Asuransi –  PasarPolis  Gandeng  International Finance Corporation  ( IFC )  sebagai Investor – MAJALAH EKSEKUTIF

[ad_1]

 

Bacaan Lainnya

Kesenjangan akses asuransi masih menjadi isu krusial di Indonesia.  Sementara inklusi asuransi di Indonesia sendiri  baru mencapai kurang dari 4%.

Menjawab tantangan tersebut, PasarPolis sebagai startup insurtech terus berupaya untuk memperluas akses asuransi secara lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Sejak 5 tahun beroperasi, PasarPolis telah mampu memberikan perlindungan asuransi kepada sebanyak 11% dari populasi atau sekitar 30 juta masyarakat Indonesia, dengan 90% konsumen PasarPolis adalah masyarakat yang sebelumnya tidak pernah membeli polis asuransi dan 40% pemegang polis merupakan pekerja sektor informal seperti pengemudi ojek online dan kurir. Hal ini menjadi capaian positif, di tengah penetrasi asuransi di Indonesia yang  masih sangat kurang.

Hal itu membuat PasarPolis mampu mendapat pengakuan sekaligus kepercayaan IFC , sebuah institusi keuangan terkemuka di bawah naungan World Bank. Melalui kerjasama strategis tersebut, PasarPolis akan bersama-sama melanjutkan serta memperkuat misi untuk mendemokratisasi asuransi secara lebih luas.

Kepercayaan yang diberikan institusi keuangan terkemuka tersebut juga merupakan sinyal positif bagi potensi insurtech di 2021 dan peran pentingnya dalam menjembatani kesenjangan akses asuransi di Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Founder dan CEO PasarPolis,  Cleosent Randing mengatakan, “Kesenjangan akses asuransi (insurance gap) dan tidak meratanya distribusi asuransi menjadi tantangan besar di Indonesia. Melalui adopsi teknologi di industri ini, kami mampu menjembatani kesenjangan akses bagi masyarakat yang sebelumnya sulit tersentuh layanan asuransi. “

“Dengan bergabungnya IFC sebagai investor kami akan semakin memperkuat misi PasarPolis untuk mengembangkan inovasi teknologi kami, sehingga dapat menciptakan lebih banyak produk asuransi mikro dengan harga terjangkau yang dapat diakses secara mudah oleh berbagai kalangan masyarakat, tak terkecuali masyarakat prasejahtera dan di daerah terpencil. Kami juga berterima kasih kepada IFC atas kepercayaan terhadap PasarPolis. Kerjasama strategis ini sekaligus merupakan pengakuan atas dampak positif yang kami hadirkan untuk masyarakat,” ungkap Cleosent saat pemaparannya, dalam acara Konferensi Pers bertajuk “Peluang Menjawab Tantangan Gap Asuransi lewat Teknologi”, yang dilakukan secara virtual Kamis ( 04/2/2021 ).

Tercatat, 90% dari konsumen PasarPolis adalah mereka yang sebelumnya tidak pernah membeli polis asuransi (first time buyer), dan 40% pemegang polis PasarPolis merupakan pekerja sektor informal, seperti pengemudi ojek online, kurir, dan pelaku UMKM online.

Lebih lanjut, dikutip dari situs blog OJK, kehadiran insurtech diharapkan dapat mendorong peningkatan penggunaan produk asuransi melalui penyediaan produk asuransi mikro yang sederhana dan terintegrasi dengan platform e-commerce sehingga memudahkan konsumen dalam mengakses produk asuransi.

“Teknologi PasarPolis dirancang untuk memberikan pengalaman terbaik bagi konsumen, mulai dari proses pemilihan produk hingga proses klaim. Kedepannya, PasarPolis juga akan terus mengembangkan teknologinya sehingga dapat lebih mudah digunakan oleh masyarakat prasejahtera dan di daerah terpencil, yang selama ini hanya memanfaatkan teknologi digital secara terbatas,” jelas Cleosent.

PasarPolis saat ini juga memiliki lebih dari 80 produk aktif. Semua jenis produk tersebut juga dirancang secara khusus agar dapat meringankan beban dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang unik antara satu sama lain. PasarPolis bertekad agar perlindungan asuransi dapat hadir di berbagai kalangan masyarakat mulai dari bangun tidur, bekerja, hingga kembali ke rumah.

Lebih lanjut, fokus PasarPolis untuk meningkatkan penetrasi dan literasi asuransi di negara ASEAN lainnya, seperti Vietnam dan Thailand juga masih menjadi salah satu prioritas di 2021, mengingat potensi yang masih besar, terutama di tengah peningkatan kesadaran terhadap perlindungan akibat pandemi.

“Dari sisi industri, Vietnam dan Indonesia memiliki kriteria pasar asuransi yang serupa, meskipun kesadaran akan asuransi di Vietnam masih relatif rendah daripada Indonesia, serta Thailand yang merupakan pasar asuransi yang cukup matang, dengan tingkat penetrasi lebih tinggi. Kami optimis dapat menjadi penggerak industri insurtech di kawasan ASEAN dan terus menjawab tantangan dari kesenjangan asuransi di wilayah ini,” tambah Cleosent.

Sementara itu, Azam Khan, Country Manager IFC untuk Indonesia, Malaysia dan Timur-Leste., mengungkapkan bahwa IFC dengan senang hati melakukan investasi di PasarPolis, platform asuransi berbasis teknologi terbesar di Asia Tenggara yang sedang memperluas jangkauan distribusi layanan digitalnya, membuat asuransi menjadi lebih mudah diakses dan terjangkau terutama bagi mereka yang kurang terlayani dan tinggal di daerah terpencil.

“Selain itu, investasi yang dilakukan pada waktu yang tepat ini bertujuan untuk mendukung upaya negara untuk mempercepat pembangunan ekonomi digital dan mencapai integrasi digital yang lebih besar di ASEAN,”  jelas  Azam.

Semuel Abrijani Pangerapan, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo RI pada kesempatan yang sama mengatakan, “Teknologi digital semakin memiliki peran krusial sebagai solusi dari berbagai tantangan, termasuk di industri keuangan. “

“Kepercayaan institusi terkemuka terhadap PasarPolis ini menjadi salah satu bukti perkembangan inovasi teknologi yang mampu menjawab tantangan di industri. Kami juga terus berupaya menciptakan ekosistem digital yang semakin kondusif dan membangun infrastruktur digital yang lebih merata di berbagai wilayah Indonesia, seiring dengan adopsi digital masyarakat yang kian meningkat,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama,  Pandu Patria Sjahrir, Komisaris Bursa Efek Indonesia mengungkapkan, “Pandemi cukup memengaruhi iklim investasi, termasuk bagi startup di ekosistem keuangan. Kami di BEI terus berupaya mendukung perkembangan startup keuangan dalam hal permodalan dan secara aktif berdiskusi dengan pelaku industri untuk menyiapkan regulasi yang tepat.

“Kami juga menyambut baik kerjasama antara IFC dengan PasarPolis yang menandakan sinyal positif iklim investasi Indonesia di awal 2021 ini,” ungkap Pandu

[ad_2]

Source link

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *