Kekerasan Seksual Meningkat karena Pengaruh Buruk Pornografi

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA,- Pengguna internet di indonesia sudah sangat tinggi, menurut layanan menejemen konten Hootsuit & agensi pemasaran media we are social awal 2021 saja sudah ada 202,6 juta orang pengguna. Dari bulan Agustus 2018 hingga April 2019, tepatnya sebelum pandemi diketahui terdapat 898.108 konten pornografi di internet.

“Pada Januari hingga Juli 2020 Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pun mengungkap terjadinya peningkatan kekerasan anak didominasi kekerasan seksual, kekerasan berbasis gender online meningkat hampir 300 persen,” kata Nandya Satyaguna, seorang Medical Doctor saat menjadi nara sumber di webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, pada Selasa (14/9/2021).

Pengertian pornografi sendiri menurut UU No.44 tahun 2008 merupakan sketsa, foto, tulisan, suara, animasi, kartun, atau bentuk desain lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi di muka umum yang membuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan masyarakat.  Sementara pornografi memiliki bahaya kecanduan dan merusak fungsi otak di bagian prefrontal cortex.

“Pengaruh pornografi pada otak akan menyebabkan penurunan fungsi prefrontal cortex sehingga orang mudah berbohong, harga diri dan konse diri menurun, depresi, sulit konsentrasi, sulit berpikir kritis, sulit menahan diri, hingga gangguan bersosialisasi yang mengarah penyimpangan seksual, mengarah pada kekerasan seksual, dan seks bebas,” turut Nandya.

Dengan segala bahaya tersebut, tentunya peran orang tua sangat dibutuhkan agar anak terhindar dari paparan buruk internet salah satunya pornografi. Menurut Nandya pendekatan personal bisa menjadi solusinya, yaitu orangtua perlu membangun hubungan baik dengan anak agar komunikasi menjadi efektif penuh kasih sayang sehingga menimbulkan kepercayaan. Kemudian orangtua perlu memberikan pendidikan seksual sesuai usia anak dan memperkenalkan konsep berinternet aman pada anak. Tapi tetap saja setelah itu semua, orangtua perlu mengawasi anak dengan konsep parental kontrol seperti membatasi penggunaan gawai dan memfilter apa yang ada di internet.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Webinar kali ini juga mengundang nara sumber seperti Klemes Maria Natasya, seorang Graphic Designer, Goretti Meiliani, Project & Planning Section Head Binus Group dan Sandy Susanto, Dosen Podomoro University.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 10 kali dilihat,  10 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *