BERBISNIS

Komisaris Harus Fokus Pada Aspek GCG dan GRC

219Views
MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

EKSEKUTIF.id – Menjadi komisaris, baik di perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta, harus memperhatikan aspek-aspek penting bagi kelangsungan perusahaan, terutama terkait implmentasi Good Corporate Governance atau GCG dan Governance, Risk Management, and Compliance (GRC) . Dalam kaitan ini, komisaris juga harus bisa menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, karena jika sampai terjadi kerugian atau penyimpangan di perusahaan akibat salah urus karena komisaris tidak bisa menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, termasuk fungsi pengawasan, secara hukum mereka bisa ditarik untuk ikut mempertanggungjawabkannya secara bersama (tanggung renteng).

Tugas dan tanggungjawab utama komisaris perusahaan tidaklah ringan, yang juga ada konsekuensi hukum di sana. Dalam menjalankan tugas, misalnya sebagai komisaris BUMN, mereka wajib mentaati anggaran dasar BUMN dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta wajib menerapkan prinsip-prinsip profesionalisme, efisiensi, transparansi, independensi, akuntabilitas, bertanggung jawab, dan keadilan. Komisaris juga dilarang mengambil keuntungan pribadi, baik secara langsung maupun tidak langsung dari kegiatan BUMN, selain dari penghasilan yang sah.

“Walaupun mungkin agak sedikit beda antara komisaris di perusahaan swasta dan BUMN, misalnya dalam hal pengangkatan dan pemberhentiannya, namun terkait peran, tugas dan fungsi komisaris, pada dasarnya tak jauh beda. Pengangkatan dan pemberhentian Komisaris dilakukan oleh RUPS. Di perusahaan BUMN, dalam hal ini Menteri BUMN bertindak selaku pemegang saham dalam RUPS, bisa melakukan pengangkatan dan pemberhentian komisaris. Hal ini juga berdasarkan pengalaman saya menjadi komisaris di BUMN. Terlepas dari hal itu, secara umum Komisaris wajib melakukan tugas dan fungsi secara profesional, termasuk fungsi pengawasan. Fungsi pengawasan adalah proses yang berkelanjutan, sehingga komisaris wajib berkomitmen tinggi untuk menyediakan waktu dan melaksanakan seluruh tugas komisaris secara bertanggungjawab. Sebab jika sampai terjadi kerugian atau kepailitan karena kesalahan atau kelalaian Dewan Komisaris dalam melakukan tugas dan fungsinya, setiap anggota Dewan Komisaris secara tanggung renteng juga harus ikut bertanggung jawab dengan anggota Direksi,” papar Dr. Reflly Harun, S.H., M.H., LLM, Ahli Hukum Tata Negara yang juga Komisaris Utama Independent PT Pelindo I saat menjadi pembicara I dalam Seminar bertema “Komisaris Profesional” pada (20/11), di Hotel The Ritz Carlton Mega Kuningan, Jakarta Selatan.

Ditambahkan, dalam hal terjadi penyimpangan atau kasus kepailitan, Komisaris maupun Anggota Dewan Komisaris, secara hukum bisa terbebas dari pertanggungjawaban atas kepailitan tersebut apabila mereka dapat membuktikan beberapa hal. Di antaranya kepailitan tersebut bukan karena kesalahan atau kelalaiannya. Kedua, telah melakukan tugas pengawasan dengan itikad baik dan kehati-hatian termasuk menaseti direksi untuk kepentingan Perseroan.  Tidak mempunyai kepentingan pribadi, baik langsung maupun tidak langsung atas tindakan pengurusan oleh Direksi yang mengakibatkan kepailitan; serta telah memberikan nasihat kepada Direksi untuk mencegah terjadinya kepailitan. “Jika tugas dan fungsinya semua sudah dijalankan dengan baik, kalau misalnya ada apa-apa dengan perusahaan, termasuk kepalitian sekalipun, komisaris bisa terbebas,” ujarnya.

Dari pengalamannya menjadi komisaris di BUMN, ia membagi tips menjadi komisaris profesional. Menurutnya, secara umum, komisaris harus memiliki integritas, dedikasi, serta memahami masalah-masalah manajemen perusahaan yang berkaitan dengan salah satu fungsi manajemen. Selain itu, juga harus memiliki pengetahuan yang memadai, terkait bidang usaha di perusahaan atau Perseroan yang bersangkutan.

“Tugas dan tanggung jawab seorang komisaris di antaranya mengawasi dan mengarahkan jalannya perusahaan, termasuk dari aspek bisnisnya. Jadi bagaimana pun, komisaris juga harus mengerti bidang usahanya. Makanya, pengalaman saya di PT Jasamarga Persero Tbk, waktu diminta menjadi Komisaris Utama, waktu itu tidak langsung saya terima , karena saya merasa bukan ahlinya. Background saya adalah sebagai ahli hukum tata negara. Namun setelah dijelasin detil tugasnya oleh Sesmen BUMN waktu itu, akhirnya saya terima karena di antara komisaris tentu juga ada sinergi untuk saling melengkapi. Ada yang mungkin ahli di bisnis, sistem manajemen, hukum dan sebagainya. Tapi bagaimana pun, mau nggak mau, tetap harus tambah ilmu untuk kuasai bidang usaha dan karakteristik bisnisnya,” ujar Dr. Reflly Harun, saat sesi tanya jawab yang dipandu Moderator, Saka Abadi, di hadapan sekitar 45 peserta seminar yang sebagian besar dari jajaran komisaris berbagai perusahaan ini.

Dalam kesempatan juga hadir tiga pembicara lainnya, di antaranya Dr. Achmad S. Ruky, MB, Konsultan Senior, Pernah Menjabat Komisaris Utama PT Krakatau Steel (Persero), Roy Sembel (Dean & Professor IPMI International Business School), serta : Drs. Suhendry Hafni, MM (Komisaris BNI Sekuritas) yang juga Former SVP/Pimpinan Divisi Kepatuhan Bank BNI.

Fokus GRC dan  GCG

Dr. Reflly Harun menambahkan, selain fungsi pengawasan dan masukan bagi direksi perusahaan, untuk operasional dan kelangsungan perusahaan, komisaris bisa memfokuskan diri pada aspek implementasi GRC di perusahaan. Ini sangat penting karena pada dasarnya GRC juga mencakup bidang-bidang utama lainnya, seperti sumber daya manusia (SDM), tatakelola GCG, kepatuhan hukum, financial, proses binsis dan lainnya. “Intinya komisaris harus care, terhadap GRC yang merupakan akronim Governance, Risk, dan Compliance (Tata kelola, Risiko, dan Kepatuhan). Dan ini berlaku di perusahaan apa pun, baik di perusahaa sasta maupun BUMN,” ujarnya.

Ditambahkan, GRC ini sangat erat kaitannya dengan GCG, dan juga corporate action. Di era transformasi bisnis yang juga telah banyak mempengaruhi pelaku bisnis dengan berbagai macam jenis korporasi, baik dari tatakelola perusahaan, corporate action maupun corporate culture yang kian terbuka, seorang komisaris juga harus bisa menyesuaikan diri untuk peningkatan kemampuan dan kompetensinya. Apalagi menyangkut tugas dan bertanggung jawab utama sebagai komisaris yang tidak ringan, yang juga ada konsekuensi hukum di sana.

Ditambahkan, terkait GRC, langkah awal yang bisa dilakukan yakni dengan memperhatikan aspek tata kelola perusahaan dengan memperhatikan aspek Good Corporate Governance (GCG), dimana aspek ini memang harus dijalankan perusahaan, termasuk di BUMN. Dalam hal ini, pemerintah melalui Kantor Menteri BUMN juga telah mengeluarkan pedoman untuk perusahaan-perusahaan BUMN dalam menjalankan GCG di perusahaan masing-masing.

Menurut konsep GCG, perusahaan akan memperoleh nilai perusahaan (value of the firm) yang maksimal apabila fungsi dan tugas masing-masing pelaku, di organisasi perusahaan tersebut dapat berjalan dengan baik, termasuk dari fungsi komisaris, terlebih Komisaris Independen. Dalam mengelola perusahaan menurut kaedah-kaedah umum GCG, peran komisaris, sangat penting dan diperlukan.

Implementasi dan integrasi antara GCG, risk management, and compliance (GRC) dipandang sangat penting karena akan berdampak terhadap performa bisnis perusahaan. Apalagi dalam implementasi GCG dan GRC, juga mengacu ke sejumlah regulasi. Antara lain Undang-undang Perseroan Terbatas, standar GCG, dan lainnya. Dalam hal ini, impelentasi GRC, juga harus diperkuat oleh jajaran dewan komisaris.

Waspadai Fraud

Hal senada diungkapkan Drs. Suhendry Hafni, MM, yang membawakan materi bertema “Fraud Detection: Pencegahan dan Penerapan Sistem Anti Fraud Sebagai Early Warning”. Dikatakan, salah-satu risiko dalam bisnis yang perlu diantisipasi oleh direksi maupun komisaris di perusahaan swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah terjadinya fraud atau kecurangan.

Menurutnya, kerentanan akan fraud, dapat dialami oleh perusahaan manapun, baik perusahaan besar maupun skala kecil, bahkan juga telah banyak menimpa perusahaan nasional maupun asing dengan kerugian yang sangat besar. Guna menghindari hal ini sekaligus mendorong tumbuh kembangnya bisnis perusahaan secara cepat dan berkesinambungan, setiap perusahaan perlu melakukan pendekatan terintegrasi dalam penerapan tata kelola perusahaan, manajemen risiko, dan kepatuhan terhadap regulasi atau prinsip Governance, Risk, & Compliance (GRC). Selain itu, juga bisa dilakukan dengan Implementasi Anti Fraud System.

Pencegahan sebagai pilar I dari Strategi Anti Fraud memuat langkah-langkah/perangkat- perangkat untuk mencegah dan mengurangi potensi terjadinya fraud dalam kegiatan usaha. Langkah-langkah/perangkat-perangkat yang dimiliki perusahaan dalam pencegahan fraud, di antaranya bisa dengan menerapkan beberapa langkah. Pertama Anti Fraud Culture yang diwujudkan dalam perilaku seluruh pegawai dalam pelaksanaan tugas operasional. Kedua identifikasi Kerawanan melalui Self Assesment, Loss Event Data, Operasional dan Recovery Beban Risiko Operasional, dan lainnya.

“Sudah banyak kasus fraud terjadi, baik di perusahaan dalam negeri maupun luar negeri dengan berbagai modus hingga menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi perusahaan, bahkan hingga menghancurkaan perusahaan. Kasus seperti ini, atau peluang fraud bisa terjadi dimanapun. Karena itu, kemungkinan risiko fraud ini harus diantisipasi dan dikelola dengan baik, termasuk oleh jajaran komisaris. Komisaris harus benar-benar serius mengantisipasi hal ini, karena fraud juga bisa menjadi penghambat yang serius bagi perkembangan perusahaan, bahkan bisa menimbulkan kebangkrutan” ujar Drs. Suhendry Hafni.

Sementara itu, Prof Roy Sembel dalam kesempatan itu membawakan materi bertajuk “Mengukur Kinerja Perusahaan” dengan menyampaikan pokok bahasan mengenai indikator – indikator penting dalam menilai kinerja perusahaan, serta metrik dan ratio – ratio kinerja yang di pergunakan untuk mengukur kinerja perusahaan, baik dalam kinerja aspek keuangan, pemasaran, dan operasional.

Dalam kesempaan itu, ia menyarankan pentingnya perusahaan melalui direksi maupun komisaris untuk perkuat EVA sebagai strategi memacu kinerja bisnis. Dikatakan, penilaian atau pengukuran kinerja bisnis perusahaan, termasuk saham, bisa dilakukan melalui konsep Economic Value Added (EVA), serta penerapan balanced scorecard. Kedua metode ini bisa dilakukan untuk mengukur kinerja perusahaan tidak hanya menggunakan aspek-aspek keuangan saja, tetapi juga menggunakan aspek-aspek non finansial.

Konsep EVA merupakan suatu konsep penilaian kinerja keuangan perusahaan yang dikembangkan oleh Stem Stewart & Co, sebuah perusahaan konsultan manajemen keuangan di Amerika Serikat. Konsep EVA membuat perusahaan lebih memfokuskan perhatian ke upaya penciptaan nilai perusahaan dan menilai kinerja keuangan perusahaan secara adil yang diukur dengan mempergunakan beberapa parameter. Dengan penerapan EVA, diharapkan dapat memperoleh hasil perhitungan pada upaya penciptaan nilai perusahaan (Creating a Firms value) yang lebih realistis.

Keempat pembicara sepakat bahwa di era persaingan bisnis yang makin kompetitif, termasuk dalam memasuki era industri keempat (Industri 4.0), Dewan Komisaris maupun Komisaris Independen memiliki peran sangat sentral untuk mendorong efektivitas pekerjaan para direksi perusahaan. Karena itu, mereka juga harus kreatif menempa pemahaman bisnis dan fungsi pengawasan di perusahaan. Seahingga perusahaan melalui direksi dan manajemen, mampu mencapai visi dan misi perusahaan lebih baik untuk peningkatan kinerja, baik dalam tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Termasuk dalam menghadapi tantangan dan perubahan peta bisnis global di masa depan.

Mengingat peran dan tanggungjawab Dewan Komisaris Perusahaan yang mudah ringan, anggota Komisaris juga harus memiliki tanggungjawab moral, hukum hingga kompetensi yang memadai dalam menjalankan tugas dan perannya terhadap kehidupan korporasi. Karena itu Dewan Komisaris dituntut untuk melaksanakan prinsip-prinsip kerja yang profesional, efisien, transparansi dan akuntabel. (ACH)

MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
%d blogger menyukai ini: