Manfaat Internet dalam Budaya Belajar Kita

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Semenjak pandemi, seluruh sekolah dan instansi pendidikan diwajibkan untuk melakukan pembelajaran secara daring. Akan tetapi, menurut Rendra Surya Lesmana, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Bina Karya Mandiri, sekolah tatap muka ialah harga mati.

Ia mengatakan, banyak siswa dan orang tua yang mengharapkan sekolah kembali dilakukan secara tatap muka. Berdasarkan keputusan bersama 4 menteri, saat ini pembelajaran tatap muka terbatas boleh dilaksanakan selama sekolah memenuhi beberapa syarat dan atas persetujuan orang tua. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan semua sekolah terkait protokol kesehatan selama pandemi.

“Selama hampir 2 tahun pandemi, ternyata membawa dampak positif. Siswa dan staf mengajar jadi dipaksa untuk beradaptasi dengan teknologi yang tidak terpikirkan sebelumnya. Karena dipaksa itu, jadi ada percepatan penggunaan teknologi,” ungkap Rendra dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (30/9/2021).

Tingginya keinginan pembelajaran tatap muka tidak menutup manfaat yang kita rasakan selama pembelajaran berlangsung. Renda memaparkan, manfaat tersebut ialah akses yang lebih mudah, biaya yang lebih terjangkau, waktu belajar yang lebih fleksibel karena tidak terikat jarak dan waktu, dan wawasan yang luas karena siswa bisa mendapat pembelajaran dari berbagai sumber.

Ia menyampaikan, meski nantinya pembelajaran tatap muka dilaksanakan kembali, belajar daring masih tetap diperlukan karena beberapa alasan. Berkembangnya teknologi juga mengharuskan kita nantinya tetap menggunakan pembelajaran masa depan. Lebih efektif dan efisien serta mendukung pengembangan keterampilan digital peserta didik dan pengajar.

Solusi terbaiknya, di masa ini kita bisa mulai menyatukan antara pembelajaran tatap muka dan daring menjadi hybrid learning. Pembelajaran hybrid ini merupakan sisten daring yang dikombinasikan dengan pertemuan tatap muka untuk beberapa jam.

“Guna hybrid learning ini bisa meminimalisir dampak psikososial bagi siswa,’ tuturnya.

Dalam kehidupan pembelajaran di sekolah atau kampus, bisa dilakukan dalam live event dengan media live streamiing, self paced learning yang memungkinkan siswa belajar kapanpun, assessment atau penilaian secara online dan offline melalui project kelas, serta kolaborasi antara guru dan siswa. Contoh hybrid learning yang bisa diterapkan, yakni guru memberikan pembelajaran secara mandiri kepada siswa melalui video.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (30/9/2021) juga menghadirkan pembicara, Genoveva (Head Management Study Program at President University), Pipit Djatma (Fundraiser Consultant & Psychosocial Activist IBU Foundation),  Boyke N. (Divisi Kerjasama EdukasiID), dan Made Nandhika (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 16 kali dilihat,  16 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *