Nasional

Mantan KSAL Laksamana Ade Supandi & Dinamika Kekinian

1.17KViews
MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -
Keluarga besar Ade Supandi bersama CEO majalah eksekutif

 

Peresmian butik Larasati, Ade membatik

 

EKSEKUTIF.id — Ade Supandi, mantan AL satu,  merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) TNI angkatan ke-28 tahun 1983. Ia masih keliatan segar dan trendi, saat ini.

Di awal tahun 2020 tak hanya sedang menuntut ilmu meraih doktor, tapi ia sering menjadi pembicara di kampus. Baru saja menjadi pembicara di ESQ Busines School, dengan tema, “Bela Negara putra terbaik bangsa di era 4.0.”

Momen mengenai ramainya blok Natuna, juga menjadikan Ade Supandi kembali dimintai komentar oleh jurnalis dan sebagai pakar diskusi.

Pasalnya, berbagai jabatan strategis pernah diembannya, diantaranya Komandan Gugus Keamanan Laut (Danguskamla) Komando Armada RI Wilayah Barat tahun 2009.

Ade juga pernah menjad Gubernur Akademi Angkatan Laut (AAL) tahun 2011, Panglima Armada RI Wilayah Timur (Pangarmatim) dan Asrena Kasal. Jabatan strategis setelahnya adalah sebagai Kepala Staf Umum TNI (Kasum TNI).

Kesamaan antara Laksamana RE Martadinata dan Ade Supandi, keduanya sama-sama putra Pasundan. Keduanya juga berada di masa kepemimpinan yang boleh dibilang concern terhadap maritim. RE Martadinata dibawah pimpinan Bung Karno fokus membangun Bangsa ini dari maritim.

Penyandang juara bulutangkis ini menyebut, “Usahakan laut menjadi tempat aktivitas, kreatifitas dan berkreasi, jangan sampai bosan dengan olahraga air atau laut. Laksanakan olahraga dengan baik. Apalagi, untuk anak-anak TNI AL,  kolam renang harusnya menjadi  menjadi perilaku kehidupan kita.”

Masih pesannya yang diingat banyak orang adalah, soal dinamika kekinian.  “Jangan sampai kita gagap teknologi dan menjadi korban teknologi,” ujar Laksamana Ade Supandi menyebut, kapal perang kita juga sudah canggih.

“Tahun 90-an kita sudah biasa dengan infomasi yang sekarang trending topic. Jadi, jangan sampai tertinggal teknologi dan salah menggunakan teknologi,” ujar pria yang punya pengalaman banyak soal  armada di Laut Natuna.

Momen dimana pihak Indonesia mengatakan laut tersebut merupakan wilayah NKRI. Sementara China bersikukuh wilayah itu bukan laut Indonesia dan menjadi wilayah tangkapan ikan tradisional China.

 

 

http://pimpinanmedia.id

 

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
%d blogger menyukai ini: