Melestarikan Seni, Budaya dan Bahasa Daerah di ruang Digital

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Transformasi digital telah membawa perubahan pada interaksi sosial dan bagaimana masyarakat berkomunikasi melalui media digital. Komunikasi kini tampak modern, nilai-nilai tradisional di masyarakat seperti seni, budaya dan bahasa daerah bahkan upaya pelestariannya seharusnya menjadi mudah.

“Baru tren kemarin 17 Agustusan, lagunya Atta Halilintar trending nomor 1 di twitter This is Indonesia. Ini sesuatu yang bagus, boleh juga diviralkan,” Kata Arief Lestadi, Founder NAS Consulting & Research saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat I, pada Selasa (28/9/2021).

Untuk sampai ke sana, menurutnya individu harus menjadi pengguna ruang digital yang bijak. Antara lain dalam mengakses informasi harus mampu menyaringnya, menganalisanya, dan memverifikasi jika bagus bisa dibagikan ulang namun kalau tidak baik hanya akan berhenti di individu tersebut. Bukan hanya dalam mengkonsumsi informasi di dunia digital, dalam hal produk individu juga harus bisa membangun nasionalisme mencintai produk dalam negeri.

Sebagai warga digital, setiap individu pun memiliki hak untuk mengakses informasi, berekspresi, dan merasa aman berada di ruang digital. Pahami jenis informasi yang dilarang dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia yang menganut nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika agar tetap tercipta ekosistem digital yang positif. Hindari mengunggah informasi terkait pornografi terutama pornografi anak, penyebaran ujaran kebencian, hasutan pada publik, dan isu terkait SARA yang bisa memicu diskriminasi, kekerasan dan permusuhan.

Menurut dia, kurangnya pemahaman Pancasila dan Bhineka Tungga Ika juga akan membuat masyarakat tidak mampu membedakan keterbukaan informasi publik dengan pelanggaran privasi di ruang digital dan tidak mampu membedakan misinformasi, disinformasi dan malinformasi.

Sebab setiap sila dari Pancasila yang sudah disusun para pendiri bangsa, telah mengandung unsur yang sesuai dengan kepribadian masyarakat Indonesia. Seperti sila pertama dengan nilai cinta kasih saling menghargai kepercayaan orang lain di dunia digital. Kemudian sila kedua nilai utamanya mengenai kesetaraan, sehingga tidak boleh ada cyberbullying di media sosial. Sila ketiga, nilai utamanya harmoni yang mementingkan kepentingan Indonesia daripada golongan. Sila keempat adalah unsur demokratis dan sila kelima gotong royong yang bisa diaplikasikan juga di ruang digital.

Setiap individu perlu menyadari falsafah hidup berbangsa, agar setiap orang akhirnya bisa hidup berdampingan di ruang digital dengan nyaman dan aman. Tentunya diiringi sikap bijak dalam mengkonsumsi apa yang ada di ruang digital, yakni salah satunya kritis dalam menerima informasi. Tahu mana informasi yang dibutuhkan, mampu memverifikasi informasi, mengevaluasi informasi, distribusi informasi, dan berpartisipasi di masyarakat jika ada kejanggalan informasi terkait hoaks, serta bisa memanfaatkan ruang digital untuk kolaborasi yang positif.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Klemes Rahardja, Founder Enterpreneur Society, Monica Eveline, Digital Strategist Diana Bakery, dan Asep H. Nugroho, Dosen Fakultas Teknik UNIS.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 11 kali dilihat,  11 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *