Melindungi Anak di Ruang Digital

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Pesatnya perkembangan media dan ruang digital turut membawa perubahan baik positif maupun negatif dalam kehidupan masyarakat khususnya anak-anak. Anak-anak era ini lebih cepat mengetahui perkembangan teknologi.

Namun itu bukan berarti mereka juga memahami cara menggunakan teknologi tersebut dengan baik dan bermanfaat. Bisa-bisa jika tak didampingi anak terpapar atau jadi sasaran berbagai pengaruh buruk internet mulai dari cyberbullying hingga kejahatan lain seperti cyberpornography dan cybercrime.

“Orang tua perlu hadir tak sekadar mendampingi namun juga mengenalkan internet positif kepada anak,” kata Zulham Mubarak, Ketua Umum Milenial Utas & Komisaris PT. Agranirwasita Technology Indonesia, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 untuk wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (21/10/2021).

Lanjutnya, mengenalkan internet positif yakni memaksimalkan manfaat teknologi digital untuk kebaikan. “Kenalkan anak bahwa teknologi digital adalah sumber informasi, segala informasi dari teknologi digital itu bermanfaat untuk menunjang proses pembelajaran mereka di masa depan,” katanya.

Selain itu, orang tua perlu mengenalkan teknologi digital untuk membangun kreatifitas mereka. Dari teknologi digital, inspirasi kreativitas yang bisa digali tak terbatas dan bisa berasal dari belahan dunia manapun.

“Kenalkan pada anak bahwa teknologi digital dapat menjadi sarana memperluas pergaulan melalui jejaring sosial dan komunikasi,” ujarnya.

Tak cukup sampai di situ, Zulham mengatakan melalui teknologi digital anak bisa sejak dini diperkenalkan tentang dunia usaha atau ekonomi sejak dini yang bisa ditunjang dengan luasnya jejaring yang dijangkau.

“Dari teknologi digital, anak juga bisa dikenalkan bahwa keberadaanya bisa membantu memperbaiki pelayanan publik,” terangnya.

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat hingga tahun 2020 lalu, anak-anak secara keseluruhan menempati 25,42 persen dari keseluruhan pengguna internet di Indonesia.

Mereka terbagi atas usia 5-12 tahun sebanyak 7,93 persen, 13-15 tahun sebanyak 7,86 persen, dan 16-18 tahun sebanyak 9,66 persen.
“Dari data itu bisa kita lihat bahwa anak-anak generasi masa kini merupakan digital native, yaitu sudah mengenal dunia digital sejak mereka lahir. Anak masa kini sebagai generasi digital dan orang tua sebagai imigran digital,” jelasnya.

Ia menjelaskan, dengan kondisi akrabnya anak dengan dunia digital itu, tak heran anak khususnya yang masuk remaja dengan media sosial dan media digital sudah menjadi bagian yang menyatu dalam kehidupan sehari-harinya.

Ia menerangkan, untuk perlindungan anak di ruang digital, orang tua bisa menempuh setidaknya dengan sejumlah langkah. “Yang utama batasi dulu anak dalam penggunaan perangkat digital, jadi berikan hak akses khusus pada anak ketika gawai diberikan kepada mereka,” urainya.

Ia menambahkan, orang tua pun perlu melakukan batasan atas koneksi internet pada anak. Anak juga dibantu dipilihkan program dan aplikasi yang sesuai dan menyelaraskan waktu penggunaan media digital dengan interaksi dunia maya.

Ia menjelaskan, pendampingan tetap perlu bagi anak-anak agar mereka bisa terhindar dari berbagai aspek ancaman keselamatan dalam penggunaan media digital. “Anak-anak sebagai pengguna media digital perlu perlahan diberi pemahaman mengenai berbagai ancaman keselamatan yang mengintai ketika mereka menggunakan media digital,” kata dia.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (KemenKominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (21/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Indah Pratiwi Arumsari (Tenaga Ahli DPR RI), Tino Agus Salim (Profesional Trainer & Motivator), Ayrton Eduardo Aryaprabawa (Founder & Director Crevolutionz), dan M. Kholil Subarkah (Founder Komunitas @DolanPasuruan.id) sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik Literasi Digital. Kegiatan ini diadakan secara virtual berbasis webinar di 34 Provinsi Indonesia dan 514 Kabupaten.

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024. BerlAndaskan 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 2 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *