Memahami kebiasaan yang berubah – MAJALAH EKSEKUTIF # terbit sejak 1979 –

  • Whatsapp


Masa pandemi seperti membaca semua manusia untuk memaksimalkan kemampuan adaptasi secara signifikan demi bertahan hidup. Masa pandemi juga bagian dari sejarah dunia, dimana virus mampu melumpuhkan aktivitas manusia di seluruh dunia di berbagai negara.

“Berbicara soal stay productive and positive di masa pandemi, kita harus membaca situasi yang kita hadapi seperti ini. Kita sedang ada di situasi seperti apa, kita ada di mana, itu penting untuk memutuskan apa yang harus kita lakukkan dan tidak untuk kedepannya,” ucap Piter Genuni, praktisi sosial, saat menjadi pembicara dalam acara Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kota Jayapura, Papua, Kamis (1/7//2021).

Memahami kebiasaan yang berubah seperti biasanya kita bangun pagi pergi ke kantor, atau belanja ke pasar, tiba-tiba semua harus dihentikan. Itu bisa menimbulkan demotivasi atau kehilangan motivasi, dan produktivitas yang menurun.

“Tidak bisa dipungkiri, bahwa masa pandemi ini seperti memaksa semua manusia untuk beradaptasi. Dengan beradaptasi kita bisa survive, dan jika tidak kita akan jadi korban,” ujarnya.

Maka, yang dilakukan adalah harus mencari cara bagaimana supaya bisa beradaptasi dari situasi yang tidak bisa kita ubah.

“Kita memang tidak bisa mengubah situasi, tapi kita bisa mengubah cara berpikir dan beradaptasi,” tambahnya.

Ini adalah satu hal yang penting dan perlu kita ketahui bahwa mau sampai kapanpun jika kita terus down, kita tidak akan terus maju. Perspektif itu penting, dalam hal meningkatkan produktivitas, mengembangkan diri, mempelajari hal baru dan masih banyak lagi yang bisa dilakukkan.

Kalau kita melihat pandemi hanya dari sisi negatifnya, seperti banyak angka kematian, dampak ekonomi global, banyak phk dan kerugian. Akibatnya, tidak akan ada pergerakan yang membantu mewujudkan solusi di masa pandemi.

Sedangkan, terbalik dengan sisi positifnya, kita bisa memanfaatkan waktu pandemi dengan mengembangkan diri, menyelesaikan hal yang tertunda sebelumnya karena sering beraktivitas di luar rumah, dan mempelajari hal baru. Ini adalah bentuk positif yang bisa dilakukan di rumah, daripada berfikir negatif yang tidak ada solusinya.

Itulah alasan mengapa menjaga pikiran dan perspektif adalah kunci di masa sulit seperti ini. Kita harus bisa mengerti bahwa keadaan sudah tidak bisa dirubah, selain diri dan pikiran kita yang berubah yang secara tidak langsung bisa menyelamatkan diri sendiri juga.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama Siberkreasi.

Webinar dilakukan di wilayah Kota Jayapura, Papua, Kamis (1 Juli 2021) ini juga menghadirkan pembicara yaitu Grace Melliza (Head of Marketing Communications & Events Dept Finance Company), Mora Nasution (Head of Learning & Talent Development Tech-Based Bank), Angelina Senggu (Penyiar Radio/ MC/ Station Manager Radio), Piter Ginuny (Praktisi Sosial), dan Reza Aditya.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 14 kali dilihat,  14 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *