Memahami Nilai Pancasila dalam Etika Berinternet

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA,- Digitalisasi dari segala bidang telah membawa perubahan pada interaksi sosial dan bagaimana masyarakat berkomunikasi melalui media digital. Akan tetapi nilai-nilai tradisional masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika tidaklah boleh terlupakan.

“Rendahnya pemahaman nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika bisa membuat masyarakat tidak memahami batasan kebebasan berekspresi dengan perundungan, ujaran kebencian, pencemaran nama baik, atau provokasi yang mengarah pada segresasi sosial di ruang digital,” ujar Arief Lestadi, Founder NAS Consulting & Research saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I pada Jum’at (1/10/2021).

Dia mengatakan, kurangnya pemahaman Pancasila dan Bhineka Tungga Ika akan membuat masyarakat tidak mampu membedakan keterbukaan informasi publik dengan pelanggaran privasi di ruang digital dan tidak mampu membedakan misinformasi, disinformasi dan malinformasi. Warga negara yang memahami nilai-nilai luhur Pancasila dapat dilihat dari cara berpikir kritis dalam menerima informasi, meminimalisir unfollow, unfriend, block ketika ada ketidaksetujuan dengan individu lainnya. Serta membuat masyarakat lebih mudah menerapkan gotong royong dalam kolaborasi di ranah digital.

Karen setiap sila dari Pancasila yang sudah disusun para pendiri bangsa, mengandung unsur yang sesuai dengan kepribadian masyarakat Indonesia. Misalnya sila pertama dengan nilai cinta kasih saling menghargai kepercayaan orang lain di dunia digital. Begitu juga dengan sila kedua nilai utamanya mengenai kesetaraan, sehingga tidak boleh ada cyberbullying di media sosial. Adapun sila ketiga, nilai utamanya harmoni yang mementingkan kepentingan Indonesia daripada golongan. Sila keempat adalah unsur demokratis dan sila kelima gotong royong yang bisa diaplikasikan juga di ruang digital.

Saat warga digital menyadari falsafah hidup berbangsa, setiap orang akhirnya bisa hidup berdampingan di ruang digital dengan nyaman dan aman. Tentunya diiringi sikap bijak dalam mengkonsumsi apa yang ada di ruang digital, yakni salah satunya kritis dalam menerima informasi. Sehingga bisa memilah mana informasi yang dibutuhkan, mampu memverifikasi informasi, mengevaluasi informasi, distribusi informasi, dan berpartisipasi di masyarakat jika ada kejanggalan informasi terkait hoaks, serta bisa memanfaatkan ruang digital untuk kolaborasi yang positif.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Daniel Hermansyah, CEO Kopi of Chuseyo, Munah W, Kepala Sekolah SMA Negeri 10 Bekasi, dan Bianca Utaya, Creative Director of Murni Sarana Cargotama.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 2 kali dilihat,  2 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *