Membangun Personal Branding Positif di Ruang Digital

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA,- Masyarakat telah mengalami perubahan besar semenjak pandemi Covid-19 berlangsung. Dengan keterbatasan berinteraksi, kini hampir di segala aktivitas mengandalkan internet. Intensitas di ruang digital pun semakin tinggi karena penggunaanya kini bukan untuk berkomunikasi saja, tapi juga untuk bekerja, belajar, berbelanja, bahkan untuk transaksi keuangan.

Namun menurut Cyntia Jasmine, Founder GIFU, bukan hanya manfaatnya saja, terkadang internet justru memberi dampak negatif karena pengguna tidak memiliki tujuan berada di ruang digital. Tidak mengetahui bahwa ada rekam jejak digital yang tidak bisa hilang sehingga aktivitas di dalamnya sebenarnya harus bertanggung jawab. Jangan sampai unggahan lama menjadi masalah dikemudian hari dan dilihat orangtua, anak, pasangan, bahkan calon bos.

“Yuk fokus membangun citra diri yang baik. Tanya deh pernahkah kamu posting sesuatu yang berharga? Apa kontribusimu dalam mengisi sisi positif digital?,” ujar Cyntia saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat I, pada Senin (4/10/2021).

Dia mengatakan, sangat penting bagi setiap orang untuk membangun citra diri atau personal branding yang baik di dunia digital. Survei dari yougov.com menyebut beberapa jenis postingan dapat membuat orang kehilangan kesempatan kerja. Sebanyak 75% disebabkan postingan yang bersifat agresif atau memakai bahasa kasar dan 71% karena referensi penggunaan narkotika. Kemudian 56% terjadi karena pola berbahasa yang buruk, 47% karena mengunggah foto saat sedang mabuk, dan 29% terkait dengan pandangan atau aktivitas politik.

“Linkedin, Facebook, twitter, dan Instagram adalah media sosial yang sering dicek oleh pemberi kerja,” katanya lagi.

Cyntia mengatakan berbagai platform media sosial cukup membantu para rekrutmen. Selain para pencari kerja bisa mendapat banyak tawaran kerja, perusahaan akhirnya juga bisa mendapat kandidat terbaik. Di samping itu, interaksi di dunia digital makin tinggi, dengan rawan terjadinya kesalahpahaman, bersifat tanpa batas, dan ada jejak digitalnya hal itu terjadi karena tidak adanya pengawasan. Setiap orang pada akhirnya harus mawas diri saat mengunggah dan berkomentar.

Setiap pengguna perlu menerapkan etika dalam bermedia sosial di ruang digital. Menyadari di internet pun semua manusia hidup berdampingan, sehingga berinteraksi dengan sopan sudah selayaknya dilakukan seperti di kehidupan nyata. Selanjutnya jangan ikut-ikutan menyebarkan berita yang belum tentu benar. Menahan diri untuk tidak berkomentar terkait isu SARA yang sensitif. Serta menghargai karya orang lain dengan mencantumkan asal sumber, serta tidak menyebarkan data orang lain.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat I merupakan bagian dari Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Henry V. Herlambang, CMO Kadobox, Kalarensi Naibaho, Koordinator Layanan Perpustakaan Universitas Indonesia, dan Nandya Satyaguna, seorang Medical Doctor.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 1 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *