Mempopulerkan Budaya dan Nasionalisme Indonesia di Ruang Digital dengan Cara Viralkan

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA,- Di era digital komunikasi semakin tampak modern, dengan begitu pelestarian nilai-nilai tradisional di masyarakat seperti seni, budaya dan bahasa daerah pun seharusnya menjadi mudah.

Transformasi digital telah membawa perubahan pada interaksi sosial dan bagaimana masyarakat berkomunikasi melalui media digital.

Arief Lestadi, Founder NAS Consulting & Research mengungkapkan, untuk sampai ke sana setiap individu harus menjadi konsumen ruang digital yang bijak.

Antara lain dalam mengakses informasi harus mampu menyaringnya, menganalisanya, dan memverifikasi jika bagus bisa dibagikan ulang namun kalau tidak baik hanya akan berhenti di individu tersebut.

“Ini boleh kita bantu viralkan, kemarin 17 Agustusan lagunya Atta Halilintar trending nomor 1 di twitter This is Indonesia,” Katanya saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I, pada Senin (4/10/2021).

Lebih jauh dia mengatakan tak hanya dalam mengkonsumsi informasi di dunia digital, dalam hal mendukung produksi dalam negeri individu juga harus bisa membangun nasionalisme mencintai produk bangsa sendiri.

Apalagi sejak globalisasi dan adanya internet sekarang sudah semakin mudah membeli melalui web, padahal produk lokal tak kalah bagusnya.

Sementara itu, sebagai warga digital setiap individu pun punya hak untuk mengakses informasi, berekspresi, dan merasa aman berada di ruang digital.

Pahami jenis informasi yang dilarang dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia yang menganut nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika agar tetap tercipta ekosistem digital yang positif.

Hindari mengunggah informasi terkait pornografi terutama pornografi anak, penyebaran ujaran kebencian, hasutan pada publik, dan isu terkait SARA yang bisa memicu diskriminasi, kekerasan dan permusuhan.

“Kurangnya pemahaman Pancasila dan Bhineka Tungga Ika juga akan membuat masyarakat tidak mampu membedakan keterbukaan informasi publik dengan pelanggaran privasi di ruang digital dan tidak mampu membedakan misinformasi, disinformasi dan malinformasi,” katanya lagi.

Masyarakat perlu menyadari falsafah hidup berbangsa, agar setiap orang akhirnya bisa hidup berdampingan di ruang digital dengan nyaman dan aman.

Tentunya diiringi sikap bijak dalam mengkonsumsi apa yang ada di ruang digital, yakni salah satunya kritis dalam menerima informasi.

Mengetahui mana informasi yang dibutuhkan, mampu memverifikasi informasi, mengevaluasi informasi, distribusi informasi, dan berpartisipasi di masyarakat jika ada kejanggalan informasi terkait hoaks, serta bisa memanfaatkan ruang digital untuk kolaborasi yang positif.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat I merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Daniel Hermansyah, CEO of Kopi Chuseyo, Monica Eveline, Digital Strategist Diana Bakery, dan Asep H. Nugroho, Dosen Fakultas Teknik UNIS.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama.

Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 100 kali dilihat,  100 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *