Mengenalkan Budaya Indonesia di Era Digital Makin Mudah Berkat Media Sosial

  • Whatsapp


JAKARTA,- Kekayaan dan keanekaragaman budaya Indonesia merupakan salah satu kebanggaan turun-temurun diwariskan oleh berbagai suku dan etnis.

Budaya ini menjadi kekayaan yang tak ternilai harganya dan tentunya tak dimiliki bangsa lain. Kebudayaan sendiri merupakan hasil kehidupan bermasyarakat yang menjadi budaya hidup sehari-hari dan dituangkan dalam berbagai wujud secara verbal maupun karya seni.

“Pelestarian budaya dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, misalnya lewat makanan,” ujar Aditya Nova, Ketua Jurusan Hotel Pariwisata IULI saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Depok, Jawa Barat, Jum’at (16/7/2021).

Aditya juga bercerita kuliner kesukaan lewat media sosial pun merupakan bentuk pengenalan budaya dan upaya pelestarian di antara pengenalan banyak jenis produk seperti hebohnya sebuah restoran fast food membuat kampanye menu BTS.

Selain itu lebih memilih ikut menonton festival budaya Indonesia juga merupakan satu bentuk pelestarian, meski generasi milenial sekarang cenderung lebih memilih menonton konser grup musik favoritnya ketimbang ikut festival budaya.

Apalagi berbagai wisata daerah terkenal juga sering mengadakannya, seperti Festival Danau Sentani di Papua dan Dieng Culture Festival yang ikut memadukan unsur musik dan pemandangan negeri di atas awan dari daerah Wonosobo.

Segala aktifitas saat mencicipi kuliner lokal dan panorama indah berbagai tempat wisata Indonesia pun dapat disebarkan melalui sosial media oleh para milenial.

“Ini yang saya sebut sebagai imperialisme budaya. Jangan sampai budaya luar mengikis budaya kita seperti adat istiadat, musik, serta kearifan lokal bangsa Indonesia,” ujarnya lagi.

Imperialisme budaya datang dan masuk karena adanya kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan interaksi lintas negara, meleburkan batas-batas geografis dan kultural sehingga berbagai kepentingan ideologi, ekonomi, politik, dan budaya saling bertukar secara kompleks dan kompetitif.

Globalisasi dan teknologi menjadi suatu kemajuan bagi negara tapi hal tersebut perlu didukung oleh perilaku warganya dari semua konsumtif menjadi produktif. Penggunaan media digital semakin dipermudah dengan teknologi mobile.

Jika pengaruh media sosial dan teknologi modern bisa diaplikasikan sedemikian rupa untuk kebutuhan bisnis, tentunya hal ini bisa digunakan juga untuk menyebarkan kebudayaan Indonesia.

Webinar Literasi Digital Kota Depok, Jawa Barat merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Daniel Hermansyah, CEO Kopi Chuseo, Noor Kamil, Co-Founder Mas Pam Records, dan Sari Monik, Dosen Universitas Multimedia Nusantara.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

 96 kali dilihat,  96 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *