Majalah Eksekutif

Menggugat Kepala BPOM Dengan Senyum

Oleh: Sapari

826Views

Saya melewati hari-hari dengan penuh ucapan syukur. Terus optimis menjalani proses ini semua dengan: Senyum.

EKSEKUTIF.id – Di hari The Worlds Pharmacist Day,  saya perlu memberi selamat kepada rekan-rekan saya.  Saya banyak  belajar dari pengalaman, ketika sekolah dan kumpul dengan banyak Pharmacist di mana pun berada.

Apa yang saya kerjakan dan mengeluarkan senjata terbaik saya yaitu, “Senyum.”  Para Pharmacist telah membuktikan, bahwa obat  yang kita hasilkan akan jauh berbeda efeknya,  jika kita tambah dengan senyuman kita.

Sebab senyum itu sendiri, merupakan obat yang sangat dahsyat. Ternyata senyum mempunyai banyak efek positifnya. Dan, sekarang saya merasakannya full, sementara  harus diakui, saya termasuk pelit untuk tersenyum.

Publik sempat berkomentar, saat saya masih bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN), saat memberi jumpa pers penggerebekan di Jakarta, luput dari senyum.

Kritik dan saran, saya terima, sekaligus berproses memperbaiki diri, untuk bisa terus tersenyum.

Apalagi, ada peneliti yang membuktikan bahwa senyum, memperpajang usia. Memasang senyum di wajah kita, menurunkan stress serta baik untuk jantung kita.

Banyak rekan yang bertanya ke saya : “Apakah saya stress berpekara dalam gugatan melawan Kepala BPOM?”

Saya katakan dengan cepat dan spontan, “Tidak.”  Bahkan, saya merasa banyak mendapat pelajaran di hidup ini.  Banyak  mengerti arti sahabat,  dan semakin yakin,  bahwa kebenaran pasti menemui jalannya.

Terima kasih atas doa, dukungan dan suportnya semua, rekan sejawat/seprofesi/Ikatan Apoteker Indonesia (IAI). Juga kepada mantan pejabat/ASN BPOM serta seluruh media cetak dan elektronik di seluruh Indonesia.

Terus terang saja, saya melakukan ini demi mencari “keadilan” dan kebenaran.  Demi martabat anak istri, melawan kesewenang-wenangan pimpinan yang tidak menghormati Lembaga PTUN di bangsa kita.

Saya  menggugat Kepala Badan POM (BPOM) Dr. Penny Kusumastuty Lukito. Karena, saya telah “disingkirkan secara paksa.

Beliau telah mencopot atau memecat saya selaku Kepala BB-POM tanpa alasan yang jelas. Menghentikan gaji Sapari hingga 11 bulan lamanya sejak November 2018 sampai Agustus 2019 ini.

Saya difitnah, untuk bisa dilengserkan.

Pada Gugatan pertama, Majelis Hakim PTUN mengabulkan gugatan saya seluruhnya.  PTUN sudah memutuskan, mewajibkan Tergugat untuk mencabut Surat Keputusan Kepala BPOM RI Nomor KP 05.02.1.242.09.18.4592 tanggal 19 September 2018.

PTUN juga sudah mewajibkan kepada Tergugat untuk merehabilitasi Penggugat berupa pemulihan hak Penggugat dalam kemampuan, kedudukan, harkat dan martabatnya.

Dan terakhir,  menghukum Tergugat untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara ini.

Tapi, apa yang terjadi?

Saya justru dipensiunkan oleh Kepala BPOM melalui SK Pensiun TMT yang diterima Sapari 1 hari setelah putusan PTUN, yakni tanggal 9 Mei 2019 lalu.

Saya dipensiunkan oleh Kepala BPOM melalui SK Pensiun TMT tertanggal 1 Oktober 2018, dengan Pertimbangan Teknis (Pertek) dari BKN tanggal 20 Maret 2019 padahal berkas kelengkapan belum terpenuhi atau belum lengkap, bahkan ada indikasi manipulasi persyaratan kelengkapan berkas pensiun.

Dengan selalu berdoa kepada Tuhan, saya  kembali menggugat putusan “aneh” dan “janggal” itu. Kepala BPOM diwakili oleh 15 orang kuasa hukumnya. Saya tetap yakin, “Smiling is powefull medicine.”

Saya melewati hari-hari dengan penuh ucapan syukur. Terus optimis menjalani proses ini semua dengan: Senyum.

Kalau, yang menzolimi saya?  Ah, saya tidak mau masuk dalam konteks menghakimi. Silahkan dilihat sendiri.

Kepala Badan POM (Penny K Lukito).

 

baca juga: majalah eksekutif cetak — edisi terbaru — klik ini

 

 

MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -
redaksi
the authorredaksi

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Translate »
%d blogger menyukai ini: