Menjadi Netizen Kritis dengan Sering Saring Berita Palsu

  • Whatsapp


JAKARTA,Pandemi Covid-19 telah mendorong peningkatan pengguna digital dan media sosial. Menurut Asosiasi Penyedia Layanan Internet (APJI) terdapat pertumbuhan pengguna internet sebanyak 73,7 % yakni menjadi 196,7 juta orang.

Namun sayangnya, peningkatan masyarakat yang melek digital ini tak diiringi dengan minat baca yang tinggi. Menurut laporan UNESCO saja minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% artinya dari 1000 orang hanya 1 saja yang rajin membaca.

“Satu sisi teknologinya digencarkan tapi ada penurunan standar etika, bahasa dan budaya. Memang ini tidak berdampak langsung tapi dalam jangka panjang akan menggeserkan persepsi budaya dan mengurangi jati diri bangsa kita,” ujar Muhammad Arifin, Kabid Komunikasi Publik Relawan TIK Indonesia, saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, Selasa (22/6/2021).

Menurutnya, fenomena tadi telah mengubah pola komunikasi secara menyeluruh. Sebelumnya komunikasi terjadi secara konvensional, lalu menjadi komunikasi daring atau data jaringan seperti lewat email.

“Kita harus meliterasi diri kita sendiri, memiliki perisai anti hoaks dan etika saat berinteraksi. Dengan siapa, tujuannya apa, dan kepada siapa,” kata Arifin.

Menjadi masyarakat digital yang kritis terhadap informasi dengan memeriksa fakta terlebih dahulu apalagi jika akan membagikannya ulang. Setiap orang juga harus bisa menyaring segala informasi di internet dan bijak berkomentar.

Menurut Arifin, terdapat empat hal yang tidak bisa terpisahkan dari literasi digital, di antaranya bahasa, digital, etika, dan komunikasi.

Komunikasi utuh yang konvensional setidaknya melibatkan tiga hal yaitu bahasa tubuh berupa gesture, mimik wajah. Sementara suara berupa intonasi dan tempo dan terakhir kata atau kalimat itu sendiri. Namun di internet ada keterbatasan terhadap tiga hal tersebut sehingga rentan untuk salah memaknai suatu komunikasi.

Internet pun tidak bisa sepenuhnya menggantikan komunikasi langsung, ada kiat tersendiri dalam berkomunikasi, yakni dengan memahami jenis media sosial yang digunakan dan mengetahui tujuan dan kepada siapa komunikasi ditujukan.

“Kalau kita baik di dunia digital, maka kita baik di dunia nyata. Maka jaga bahasa dan budaya kita,” kata Arifin.

Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, kali ini menghadirkan pula nara sumber lainnya seperti Founder The Enterpreneur Society Klemes Rahardja, CEO Oreima Films Reza Hidayat dan Founder SEJIWA Diena Haryana.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 92 kali dilihat,  92 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *