Motif Ujaran Kebencian di Dunia Maya, Sadari Keberagaman dan Perbedaan

  • Whatsapp


EKSEKUTIF.COM, JAKARTA – Teknologi internet berkembang semakin pesat, sehingga pertukaran informasi di segala bidang menjadi semakin cepat, apalagi sekarang setiap orang bisa dengan mudah mengupdate berita lewat ponsel pribadi.

“Internet dan media sosial bisa dijadikan alat untuk melakukan tindakan kejahatan, penipuan, terorisme, eksploitasi anak online sampai penyebaran ujaran kebencian yang berpotensi SARA,” Kata Pipit Djatma, Fundraiser Consultant & Psychososial Actvist IBU Foundation saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I,  pada Senin (20/9/2021).

Lebih lanjut dia memaparkan motif orang melakukan ujaran kebencian, yaitu karena faktor di dalam diri seperti tidak bisa menanggapi dengan baik perbedaan pendapat. Kemudian ketika tidak menyukai sesuatu ditunjukan di media sosial, serta merupakan pengungkapan emosi yang tak terkontrol. Sementara faktor dari luar diri biasanya terpengaruh dari lingkungan pertemanan dan komunitas.

Terkait ujaran kebencian, masyarakat tentunya perlu memahami tentang konsep negara Indonesia yang multikultural dengan keragamannya dari suku bangsa serta agama. Ruang digital dan media sosial dengan 202,6 juta pengguna di Indonesia membutuhkan sikap toleransi serta menghargai perbedaan. Karena mekipun tak terbatas, penggunanya tetap memikiki etika berinternet dan di Indonesia hal tersebut diatur dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).

“Berinteraksi atau berkolaborasi pada hal-hal yang positif. Menjadi diri sendiri, tidak memaki maupun provokasi saat menyampaikan kritik. Perlunya menghargai perbedaan, cek dan ricek kebenaran berita atau situs yang dibuka serta menjaga netiket,” katanya lagi.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Klemes Rahardja, Founder The Enterpreneur Society, Sophie Beatrix, seorang Psikolog Praktisi, dan Benny Daniawan, Dosen Sistem Informasi Universitas Buddhi Dharma.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 12 kali dilihat,  12 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *