Orangtua Perlu Tahu Fungsi Parental Control untuk Keamanan Internet Anak

  • Whatsapp


JAKARTA,Survei terbaru Google selama pandemi sebanyak 51% orang tua mengalami kekhawatiran terhadap keamanan online anak saat penggunaan internet.

Hal pertama yang menjadi kekhawatiran yakni keamanan informasi anak dan interaksinya di dunia maya seperti keluar kata-kata yang kotor dengan teman sebayanya.

“Sebagai orang tua kita perlu memerhatikan penggunaan internet karena memiliki berbagai dampak,” kata Mardian R.L Vice Principal Kinderhouse Pre-School saat webinar Literasi Digital wilayah Kota Bekasi, Jawa Barat, Jum’at (16/7/2021).

Internet sendiri memiliki sisi positif sebagai ruang tak terbatas untuk belajar apapun sehingga menciptakan anak-anak yang inovatif dan kreatif dan akses untuk informasi tak terbatas.

Sementara dampak negatifnya, internet bisa menyebabkan kecanduan terhadap gawai dan game. Anak-anak juga rentan terkena serangan siber, konten pornografi, kekerasan seksual, dan tindakan menyakiti.

“Di media online bahasanya buruk dan itu setiap harinya diulang, itu jadi perhatian para pendidik dan orang tua dengan apa yang dikonsumsi anak di ruang maya.

Orang tua perlu memastikan anak-anaknya bertanggung jawab saat menggunakan internet, karena hal tersebut akan merusak perkembangan dan masa depan mereka,” kata Mardiana.

Sebab itu orang tua perlu mengajarkan aturan digital pada anak seperti membatasi screen time, di mana untuk anak usia 0-2 tahun sama sekali terpapar gawai. Usia 2-3 tahun hanya 30 menit per hari, sementara usia 3-5 tahun hanya 1 jam dengan games yang dipilih anak di bawah pengawasan orang tua dan di atas 5 tahun maksimal 2 jam sehari.

Dengan kondisi pandemi yang mengharuskan anak berada di rumah memang sulit bagi orang tua. Namun masih ada berbagai aktifitas yang bisa dilakukan anak seperti bermain musik, hingga memasak bersama orang tua.

Selain itu awasi gawai yang digunakan anak, lewat aplikasi parental control misalnya Kids Places, Kakatu Parental Control, Screen Time Parental Control, hingga Google Family Link. Selanjutnya orang tua juga perlu menelusuri aktivitas anak di dunia maya, menggunakan piranti lunak penyaring.

Lalu informasikan juga keamanan penggunaan internet dan perilaku dunia maya yang bertanggung jawab. Seperti situs mana saja yang dapat dikunjungi dan mana perlu dihindari, termasuk memberi informasi pribadi tanpa seizin orang tua dan tidak membagi kata sandi dengan siapa pun termasuk sahabat mereka.

“Komunikasi antara orang tua dan anak di era digital ini semakin sulit, karena anak zaman sekarang lebih sibuk dengan gawai mereka dan dunianya,” kata Mardiana.

Webinar Literasi Digital untuk wilayah Jawa Barat I Kota Bekasi merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Henry V Herlambang, CMO Kadobox, Afif Farhan, Wakil Redaktur Pelaksana Detik.com, dan Iman Darmawan, Fasilitator Public Speaking.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

 123 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *