Pandemi Memaksa UMKM Beradaptasi dengan Dunia Digital

  • Whatsapp


JAKARTA,– Saat pandemi Covid-19 datang, bidang usaha dan UMKM begitu terdampak, hal ini disebabkan pembatasan interaksi fisik yang menyebabkan perubahan perilaku dan pola konsumsi konsumen. Daya beli pun menjadi turun, lalu bergeser ke bahan pokok dan belanja online.

“Pandemi Covid-19 dapat dipandang dari dua sisi, bila ingin menyalahkan keadaan maka semua hal akan terpusat pada keterbatasan. Namun di sisi lainnya sebenarnya ada banyak kesempatan yang datang dengan datangnya corona, di mana dunia seperti dipaksa melakukan percepatan dalam digitalisasi dan memanfaatkannya secara maksimal untuk kehidupan,” kata Klemes Rahardja, Founder The Enterpreneur Society, saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, Selasa (22/6/2021).

Selanjutnya pandemi telah mengubah cara orang bekerja dan belajar, bertransaksi hingga berinteraksi. Di sinilah saatnya masyarakat dipaksa beradaptasi dan mereka yang tidak mau berubah pasti akan tertinggal. Klemes pun mengatakan di masa seperti ini setiap orang dipaksa untuk terus berkembang. Indonesia juga dipaksa untuk melakukan percepatan dan melakukan transisi. Dari semua itu menurut Klemes setiap orang harus bisa melihat peluang dari krisis yang ada dan memfokuskan dirinya pada hal positif.

Teknologi berubah sangat cepat, di mulai dari era tahun 1980-an saat mulai ada komputer rumahan lalu berkembang sekarang semua bisa dikerjakan lewat gawai. Jumlah pengguna internet di Indonesia juga terus meningkat, tahun 2020 saja ada peningkatan 27 juta pengguna baru selama pandemi Covid-19 berlangsung. Nah, di sinilah potensi tersebut bisa dimanfaatkan sebab kebanyakan dari pengguna internet di Indonesia menggunakan waktunya sebanyak 3 jam 14 menit di sosial media.

“Bicara mengenai UMKM, potensi orang yang masuk ke marketplace pun di Tokopedia yang menepati peringkat pertama saat ini ada 140 juta orang setiap bulannya. Jika dikatakan krisis, pada masa pandemi ini penjualan online seluruh dunia tahun 2020 ke 2021 justu angkanya naik menjadi U$D 4,479 Triliun,” tutur Klemes.

Hanya lewat jempol saja, para pemilik bisnis bahkan bisa membuat konten dan mempromosikannya di media sosial. Selain itu Klemes menngingatkan bahwa saat akan memulai usaha untuk tidak berpatokan pada modal berupa uang saja. Sebab waktu dan tenaga pun bisa disebut modal, sehingga tidak ada alasan untuk melewatkan peluang yang ada. “Esensi kewirausahaan dari saya bisa jual barang orang lain dulu, sampai Anda sanggup menciptakan barang sendiri, misalnya jadi reseller,” ujar Klemes lagi.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bogor, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Dosen Fikom Universitas Parahyangan, DR. Eni Maryani, CEO Oreima Films Reza Hidayat, dan Founder SEJIWA Diena Haryana. Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 

 16 kali dilihat,  16 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *