Pelaku Industri Pertunjukan Beberkan Kisah Sukses di Balik Indonesia Drive-in Concert yang Diliput Media Asing

  • Whatsapp


JAKARTA,– Pandemi Covid-19 memaksa dunia dan Indonesia mengadaptasi gaya hidup baru yang mengandalkan dukungan teknologi internet. Termasuk untuk industri pertunjukan yang pada masa sekarang tidak dapah mengadakan kegiatan offline seperti konser musik karena adanya pembatasan sosial.

Namun adaptasi digital skills dengan penggunaan teknologi, konser dan acara pertunjukan dapat dilakukan dan tetap menerapkan protokol kesehatan. Salah satu yang terkenal yaitu Indonesia Drive-In Concert, hingga menjadi perbincangan dan diliput media asing.

“Sebelum pandemi market kita offline, biasanya penontonnya ribuan orang. Nah pandemi gimana penontonnya 900 orang tapi bisa worldwide disaksikan penonton di New York, LA, di London, Australia, Ceko, itu menembus sampai puluhan ribu penonton,” kata Dino Hamid, Ketua Asosiasi Promotor Musik Indonesia saat webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Selasa (22/6/2021).

Dino mengungkapkan, penggunaan teknologi menjadi salah satu problem solving yang memberikan value bagi pelaku industri pertunjukan di mana dengan teknologi dapat menyelenggarakan event hybrid yang memberi dampak sangat luar biasa sampai media luar.

“Di luar itu konteks pemakaian digital saya juga switch ke zoom sehingga audience bisa saling berinteraksi dengan audience lainnya. Mereka tetap bisa bernyanyi bersama seperti saat datang ke konser. Jadi itu merupakan adaptasi cara baru agar value saat orang nonton konser tetap bisa didapat para penonton,” ujar Dino lagi.

Agar event offline tetap bisa terjadi interaksi, ada beberapa platform yang bisa digunakan seperti zoom, webex dan teams. Sementara untuk format penayangan konser terbagi dalam dua skema yaitu livestream dan live on demand.

“Saat seating di dunia digital memang berbeda dengan offline. Saat menggelar konser offline penyelenggara memiliki jumlah tiket tertentu, sementara penyelenggaraan online penonton menjangkau dari mana saja dan akan berubah presisi nilai ekonominya,” kata Dino.

Live stream merupakan format konser secara online yang hanya sekali tayang dan pembayaran rights atas konser adalah performing rights. Sehingga materinya tidak ditayangkan di video platform. Sedangkan Video on Demand (VOD), para pembuat konten harus membayarkan rights atas karyanya kepada publisher atau pemilik maupun pencipta lagu.

Dino mengungkapkan, ada strategi yang harus dilakukan agar event online yang digelar bisa sukses. Yakni posisi segmentasi yang kuat dan konten harus memiliki keunikan serta nilai bagi penontonnya. Selanjutnya ketahui sisi mengapa harus membuat suatu event lewat beberapa riset, misalnya melihat kecenderungan artis yang lagi tren di sportify maupun Google tren. Tak kalah penting, buat materi visual yang powerful dan komunikasi yang menarik.

“Di masa pandemi ini kita harus meningkatkan digital skills agar bisa terus survive, mendapatkan banyak informasi, literasi yang bermanfaat untuk kehidupan masa kini dan masa depan,” tutur Dino.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat I, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Sekjen TIK Indonesia Said Hasibuan, Psikolog & Senior Trainer SEJIWA Hellen Citra Dewi, dan Former Head of Marketing & Strategic Partnership AHHA, Chika Amalia. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya digital skills, digital ethics, digital safety dan digital culture untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

 14 kali dilihat,  14 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *