Pelecehan Seksual Terhadap Perempuan di Media Sosial Meningkat

  • Whatsapp


JAKARTA – Platform digital media sosial sebagai salah satu teknologi komunikasi yang memungkinkan bersosialisasi secara virtual, tidak selalu dimanfaatkan dengan baik dan bijak. Beberapa orang memanfaatkan media sosial ke arah perbuatan negatif, seperti kekerasan seksual.

Pelecehan seksual terhadap perempuan di media sosial meningkat selama masa pandemi. Dalam aturan KUHP Indonesia, bentuk kekerasan seksual hanya berupa fisik, tidak termasuk verbal dan psikis, serta harus ada tindakan nyata.

Menurut Ninik Rahayu, Pimpinan Ombudsman RI 2016-2021, pelecehan seksual dapat meliputi fisik dan non fisik, baik yang bersifat verbal maupun non verbal.

Dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS), kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk tindakan fisik atau non fisik, termasuk hal yang terkait dengan hasrat seksual, sehingga mengakibatkan orang lain terintimidasi, terhina, direndahkan, atau dipermalukan.

Kekerasan terhadap perempuan yang umumnya terjadi merupakan kekerasan berbasis gender (KBG). Kekerasan ini dialami banyak perempuan karena relasi gendernya dan merupakan salah satu bentuk diskriminasi terhadap perempuan.

“Bahkan seorang perempuan bisa mengalami diskriminasi berlapis kalau misalnya dia berasal dari agama minoritas, disabilitas, atau memiliki orientasi seksual minoritas. Maka berpotensi mengalami KBG berlapis,” ujar Ninik dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (26/6/2021)

KBG ini juga terjadi pada media digital. Kekerasan Berbasis Gender Online atau Siber (KBGO) merupakan kekerasan gender yang difasilitasi teknologi. Paparan Ninik, kejahatan ini sering menggunakan perempuan sebagai objek pornografi.

Motivasi pelaku melakukan KBGO ini beragam. Bisa didasarkan atas balas dendam, cemburu, kebutuhan ekonomi, menjaga status sosial, dan hasrat seksual.

“Tujuannya tentu untuk menyakiti, menjatuhkan lawan, menyerang secara fisik dan psikologis, bahkan untuk meruntuhkan norma-norma. Perilakunya beragam bisa stalking, penistaan, ekspoltasi, dan ujaran kebencian. Kedekatan antara pelaku dan korban juga banyak yang memiliki hubungan personal,” ujar Ninik.

Ninik pun menyatakan, bentuk-bentuk KBGO yang saat ini banyak terjadi menggunakan media digital. Di antaranya, cyber hacking biasanya ditujukan untuk merusak reputasi seseorang dan mendapatkan informasi pribadi, impersonation atau mengambil identitas seseorang untuk tujuan tertentu. Selain itu, terdapat cyber tracking untuk mengawasi tindakan dan perilaku korban.

“Sexual Harrasement atau Cyber Harrasement ini pengguaan teknologi untuk menghubungi, mengancam, mengganggu, menakuti, merayu, memanipulasi korban untuk mendapat keuntungan. Yang paling terkenal di Indonesia adalah love scam seperti melontarkan kalimat ‘Wah, gede banget, mantab.’ kepada korban dan membuat perasaan tidak nyaman,” tutur Ninik.

Pencegahan tindak pelecehan seksual siber ini dapat dilakukan dengan bijak menggunakan media sosial, tidak terbujuk pasangan untuk melakukan konten pornografi, mengikuti pendidikan literasi digital, dan mengadakan kurikulum literasi digital sebagai pendidikan formal.

Webinar ini menghadirkan pembicara Dendy Muris (Dosen Komunikasi Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR), Ninik Rahayu (Pimpinan Ombudsman RI 2016-2021), Clara Tobing (Kaprodi FH UBJ), Bhakti Santana (TIK), dan Louiss Regi Aude. Gerakan Nasional Literasi Digital mengusung 4 pilar utama, Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Kegiatan ini dilaksanakan di seluruh Indonesia di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten. Melibatkan 110 lembaga dan komunitas sebagai agen pendidik untuk membuat Indonesia #MakinCakapDigital.

 12 kali dilihat,  12 kali dilihat hari ini

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *