Majalah Eksekutif

Peluncuran buku “Asmaradahana” dan “Pita Garuda”

MAJALAH EKSEKUTIF - terbit sejak 1979 -

Yogyakarta, Ahad, 17 Desember 2017 –

“Tadinya seperti sudah menjadi titik,” ujar Urry Kartopati, Pimpinan Produksi Langgam Komunika.

Setelah meluncurkan buku #sayabelajarhidup EMPATI, SIMPATI dan HARMONI di Museum Layang Layang, Jakarta, pada 2015, kemudian #sayabelajarhidup MATUR SUKSMA di Ubud, Bali (2016) dan #sayabelajarhidup SIMFONI di Museum Nasional, Jakarta (2016) seakan menjadi buku terakhir dari S. Dian Andryanto.

Namun, perjalanan seri buku #sayabelajarhidup yang memuat sebagian besar tulisan dalam status S. Dian Andryanto di media sosial, khususnya di facebook, dan dibukukan ini ternyata terus mendapat apresiasi dari pembacanya.

Terutama komunitas #sayabelajarhidup di berbagai daerah di Tanah Air, bahkan beberapa di antaranya berdiam di mancanegara.

Kritik, saran dan harapan terus menggenapi sehingga di akhir 2017 ini, muncul bersamaan dua buku terbaru. Buku ke-6 #sayabelajarhidup ASMARADAHANA dan buku ke-7 #sayabelajarhidup PITA GARUDA.

Masih menurut penjelasan Urry Kartopati, sang “seksi sibuk” bahwa peluncuran dilakukan di dua kota: di Raya’s Kitchen and Coffee, Yogyakarta pada Ahad, 17 Desember 2017 dan di Museum Mandiri Jakarta Kota, pada Ahad, 14 Januari 2018.

“Dukungan dan apresiasi yang tak henti-henti dari pembaca setia tulisan status saya di media sosial, khususnya dari kerabat #sayabelajarhidup di banyak tempat, membuat buku ke-6 dan ke-7 #sayabelajarhidup, ASMARADAHANA dan PITA GARUDA ini bisa terbit,” S. Dian Andryanto menimpali.

Penulis di Grup Tempo Media ini menjelaskan, tak mudah menerbitkan buku-buku secara independen, tanpa dukungan penerbit besar, banyak kendala yang harus dilalui. Tapi, “Dorongan istri, Urry Kartopati membuat dua buku ini akhirnya berhasil hadir, tepat di ujung tahun.”

Dian pun menjelaskan, satu per satu, masalah tertangani sehingga sponsor pun melengkapi. “Saya menyampaikan terima kasih tak terhingga untuk partisipasi semua pihak yang membuat dua buku ini terwujud,” katanya.

Buku #sayabelajarhidup ASMARADAHANA, menuliskan sebagian kisah orang-orang yang hidup di antara Gunung Merapi dan Laut Selatan.

“Mereka yang bermanja di antara keduanya, di Yogyakarta. Ini cerita tentang bagaimana bertahan hidup, berjuang, tak putus asa, mewarisi nilai-nilai tradisi para leluhur, tentang mencintai sepenuh hati kota ini dengan segala dinamikanya,” kata Dian Andryanto.

Sedangkan, buku #sayabelajarhidup PITA GARUDA, muncul melalui kegelisahan dan perenungan terhadap kondisi bangsa saat ini.

“PITA GARUDA ini mengenai kepahlawanan, toleransi, keragaman, saling menghormati, gotong royong, yang semua ini sesungguhnya nilai-nilai luhur yang dipunyai anak negeri ini tanpa kecuali,” kata Dian Andryanto.

Adil dan beradab. “Jika kita sudah melupakan semua itu, betapa sebenarnya kita sudah mengkoyak-koyak makna pita yang digenggam Sang Garuda sepanjang waktu, Bhinneka Tunggal Ika,” papar mantan Redaktur Pelaksana Majalah MATRA.

Kedua buku tersebut, merupakan pilihan tak kurang dari 300 tulisan sepanjang akhir 2016 hingga 2017 yang mendapat apresiasi lebih dari pembacanya. Seperti buku-buku #sayabelajarhidup sebelumnya, diterbitkan secara independen dan penjualannya pun melalui direct online, dicetak terbatas.

“Semoga senang membaca buku-buku ini, punya manfaat, dan mengingatkan kembali betapa berharganya Tanah dan Air ini, betapa kita harus merawatnya bersama-sama semua anak negeri tanpa kecuali, tak harus berjuang bertaruh nyawa, hanya kembali merasa satu tak terbelah dan menjaga silaturahmi, ” kata Dian Andryanto.

“Apakah saling berseteru, kebencian dan kemarahan sesama anak bangsa ini yang akan akan kita wariskan untuk generasi kita ini nanti?” katanya.

Buku #sayabelajarhidup ASMARADAHANA dan PITA GARUDA dapat dipesan dan dibeli direct online, melalui WhatsApp 0817758560 (email: urry_k@yahoo.com)

PROFIL
S. Dian Andryanto, kelahiran Yogyakarta 27 Desember 1970, menyadari sejak kecil tidak punya cita‐cita selain menjadi penulis. Hanya menulis saja yang diinginkannya. Menyelesaikan DIII Jurnalistik di Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY), langkah pendidikan formal yang ditempuhnya. Banyak hal berkaitan dengan profesi menulis kemudian dijalani, menulis cerita pendek untuk majalah anak‐anak dan remaja, penulis sandiwara radio, menulis panel‐panel di beberapa museum, menulis beberapa buku perusahaan dan majalah internal, sebagai penulis lepas hingga Redaktur Pelaksana di Majalah Matra, Pemimpin Redaksi di Majalah Manly, hingga penulis di Tempo Media Group. Menularkan semangat menulis sebagai pemateri di beberapa pelatihan jurnalistik mahasiswa dan instansi pun dilakoni.

***

UNTUK # SAYABELAJARHIDUP : ASMARADAHANA

“Buku yang bercerita tentang Yogyakarta cukup banyak, tetapi yang ditulis Dian Andryanto dalam buku ini menjadi menarik, karena menceritakan sisi lain tentang sudut-sudut kehidupan masyarakat Yogyakarta berikut nilai-nilainya. Dituliskan dengan sederhana namun punya makna.”

GBPH Pakuningrat – Putra Sri Sultan Hamengku Buwono IX

“Sebuah esai tentang sebuah kota yang menjadi memori hampir tiap orang, yakni Jogjakarta. Ditulis dengan ringan dan personal, namun mengandung dua aspek penting yakni kemanusiaan dan pengetahuan ataupun sejarah yang sering tak terbaca.”

Garin Nugroho – Sutradara Film

“Dalam sejarah dan cerita besar tentang Jogjakarta pastinya ada yang luput dari perhatian bahkan dianggap tidak penting. Buku ini melengkapi dari kisi-kisi sejarah dan cerita kehidupan yang pernah ada di Jogjakarta. Yang tadinya dianggap tidak penting ternyata sangat penting.”

Djaduk Ferianto – Pekerja Seni, Pimpinan Kua Etnika & Sinten Remen

“Sebuah karya bagus, mengilhami setiap pembaca utk memahmi siapa kita sebenarnya, menjauhkan diri dari watak egoisme sopo siro sopo ingsun, mengingatkan pada diri bahwa kita ini bermakna jika kita bijak memaknai sesama.”

Prof Djoko Pekik Irianto, M.Kes. AIFO. – Ketua APKORI: Asosiasi Profesor Keolahragaan Indonesia

“Sebagaimana catatan harian, buku ini memuat segala hal yang berseliweran dikeseharian hidup. Ditulis dengan renyah, buku ini menampilkan banyak topik: sosok yang inspiratif, kearifan tradisi, hingga soal keyakinan. Lebih dari sekadar catatan harian, tulisan-tulisan Dian Andryanto dalam buku ini, mendorong perenungan kita pada satu masalah lebih mendalam. Bahkan sekalipun masalah yang tampak sepele.”

S. Malela Mahargasarie – Paktisi Media, Mantan Pemimpin Redaksi Koran Tempo, Pelukis

“Nilai-nilai luhur yang mendasari karakter manusia Indonesia seperti keadilan, kebenaran, harga diri, cinta pada budaya dan sesama dituliskan Dian Andyanto dengan apik lewat kisah wong cilik di seputar Yogyakarta.

Hal ini membuka mata saya bahwa nilai-nilai luhur tersebut masih ada dan terus bertahan dari berbagai cobaan konflik. Semoga nilai-nilai luhur ini tetap hidup di bumi Indonesia. Walaupun banyak tantangan, saya yakin bisa.”

Ida Sudoyo – Direktur ISA PR, Praktisi Kehumasan

***

UNTUK #SAYABELAJARHIDUP : PITA GARUDA

“Ada nash dan getar dalam kata yang dituliskan. Menyentuh, menggelitik dan disebagiannya menggedor kesadaran pembacanya, termasuk saya. Siapapun akan beruntung jika membaca rangkaian tulisan di dalam buku ini. Apalagi, ada posisi dan pesan yang begitu kuat untuk terus berpihak pada nilai kemanusiaan, kejujuran dan keberanian ditengah kepungan ketidakwarasan yang kini terus menyandera ruang publik.”

Bambang Widjojanto – Pegiat Anti-Korupsi & Mantan Wakil Ketua KPK

“Memelihara kepedulian bukan pekerjaan mudah. Berontaknya hati melihat ketidakadilan, keabaian, kesengajaan bertindak lancung, seringkali mati dilindas kesibukan atau ketidakmautahuan kita atau keengganan melihat yang di luar kita. Dian Andryanto berhasil memenangkan pemberontakan hatinya itu, dengan cara yang jarang dewasa ini: tekun menulis setiap hari.”

Toriq Hadad – Direktur Utama PT Tempo Inti Media

“Kepada Dian Andryanto saya ucapkan terima kasih, bukan selamat, atas terbitnya buku ini. Kenapa terima kasih? Karena dengan buku ini, siapapun bisa dapat kesempatan untuk melihat cerita atau kisah manusia yang tidak populer. Kita sering tertarik atau dipaksa membaca cerita para tokoh. Padahal setiap orang adalah tokoh atau pemeran dalam hidup yang dijalani.

Setiap orang selalu meninggalkan jejak untuk bisa dijadikan pelajaran bagi siapapun. Sementara tokoh memang menarik namun tidak selalu meninggalkan jejak yang bisa atau bahkan diikuti. Buku ini semoga bisa menyadarkan kita bahwa setiap kita berhak bahkan wajib membuat cerita untuk kehidupan kita, kehidupan yang lebih baik ke depannya.”

Haris Azhar – Aktivis HAM & Pendiri Lokataru

“ …merdu ketika membaca seri kumpulan tulisan di ‘akubelajarhidup’. Merdu seperti mendengarkan kompilasi aria – nyanyian tunggal dengan iringan orkestra, yang mendendangkan fragmen sejarah bangsa berupa monolog dramatis. Sesuatu yang penting, akurat dan indah. Selamat membaca.”

Embi C Noer – Seniman Intermedia

“Semoga buku ini memberikan semangat baru buat pembacanya.”

Henny Silalahi – ibunda almarhumah Debora

“Buku ini sangat tepat menjadi pilihan untuk dibaca. Banyak sisi lain yang selama ini belum banyak terungkap ke publik, sisi yang humanis dan memberikan inspirasi bagi kita semua. Terima kasih Mas Dian Andryanto yang menuangkannya seara menarik di buku ini”

Teuku Muda Nanta – EVP Telkom Regional 2

baca juga: Majalah Eksekutif yang terbit sejak 1979 terbaru

Tinggalkan Balasan

Translate »
Lewat ke baris perkakas